Singapore PE Hub Menghadapi Peralihan Pusat Data ke Pasar Berbiaya Lebih Rendah

CryptoFrontier

Singapura Tetap Menjadi Pusat Ekuitas Swasta Asia Tenggara di Tengah Perpindahan ke Pusat Data

Singapura tetap menjadi pusat utama untuk kesepakatan ekuitas swasta di Asia Tenggara, tetapi para investor semakin mengarahkan modal ke proyek pusat data di pasar tetangga dengan biaya lebih rendah, demikian menurut laporan baru dari perusahaan konsultan manajemen Bain & Company.

Pada 2025, kawasan Asia Tenggara menarik sekitar US$14 billion (S$18 billion) investasi ekuitas swasta di 84 kesepakatan, dengan Singapura menyumbang porsi terbesar sebesar US$7 billion, disusul Malaysia sebesar US$5.3 miliar, kata Bain.

Dinamika Pasar Pusat Data dan Pergeseran Regional

Di sektor pusat data yang sedang tumbuh pesat—dipacu oleh adopsi komputasi awan dan kecerdasan buatan—para investor semakin menempatkan modal di pasar tetangga dengan biaya lebih rendah seperti Johor di Malaysia, Batam di Indonesia, dan Chonburi di Thailand, alih-alih Singapura.

Singapura menghadapi kendala signifikan dalam pengembangan pusat data. Lahan langka dan mahal di sekitar US$1,700 (S$2,174) per meter persegi. Selain itu, pasokan listrik ketat, dan proyek baru dapat memakan waktu lima hingga tujuh tahun untuk memperoleh sambungan ke jaringan.

Dengan keterbatasan ini, pasar-pasar tetangga diproyeksikan menangkap sebagian besar permintaan limpahan, yang diperkirakan mencapai sekitar 10 gigawatt kapasitas pada 2030, menurut Bain.

Daya Tarik Singapura yang Berlanjut untuk Operasi Strategis

Meskipun terjadi pergeseran pusat data, Singapura akan terus menarik modal sebagai “basis strategis bagi operator terkemuka,” mengingat konektivitasnya yang kuat dan lingkungan regulasi yang stabil, kata Tom Kidd, kepala praktik ekuitas swasta Asia Tenggara di Bain.

Aktivitas kesepakatan terbaru mendukung prospek ini. Perusahaan pusat data yang berkantor pusat di Singapura, Digital Edge, menghimpun lebih dari US$1.6 miliar pada 2025 untuk mendukung pertumbuhannya. Princeton Digital Group, perusahaan lain yang berbasis di Singapura, mengamankan US$1.3 miliar pada 2025 untuk mendanai ekspansi regionalnya. Perusahaan-perusahaan berbasis Singapura lainnya yang memperoleh investasi signifikan pada 2025 termasuk perusahaan logistik GLP dan penyedia infrastruktur tenaga Amperesand.

Perlambatan Pasar dan Iklim Investasi yang Lebih Hati-hati

Secara keseluruhan, aktivitas ekuitas swasta di Asia Tenggara melambat pada 2025 dibandingkan 2024, baik dari segi nilai maupun jumlah kesepakatan. Penurunan ini mencerminkan iklim investasi yang lebih hati-hati, dengan modal ditempatkan pada jumlah transaksi yang lebih sedikit namun berukuran lebih besar.

“Modal terkonsentrasi pada lebih sedikit kesepakatan, dan investor lebih selektif dibandingkan pada titik mana pun dalam beberapa tahun terakhir, dengan fokus yang jelas pada aset yang dapat memberikan nilai melalui eksekusi,” kata Kidd.

Tantangan Akuisisi (Exit) di Asia Tenggara

Laporan Bain menyoroti masalah “exit overhang” di Asia Tenggara, di mana investasi ditahan untuk periode yang lebih lama karena peluang untuk menjual tetap terbatas. Singapura memimpin kawasan tersebut dengan empat exit pada 2025, sementara nilai exit di seluruh Asia Tenggara turun sekitar 32 persen.

Sebuah survei yang dimasukkan dalam laporan menemukan bahwa kondisi exit menjadi perhatian utama di kalangan investor Asia Tenggara, di depan tensi geopolitik dan kondisi makroekonomi yang menantang. Meskipun beberapa investor Asia Tenggara mengharapkan imbal hasil positif dalam tiga hingga lima tahun ke depan, proporsi yang semakin besar menjadi pesimistis tahun ini dibandingkan dengan 2024.

Penafian: Informasi di halaman ini dapat berasal dari pihak ketiga dan tidak mewakili pandangan atau opini Gate. Konten yang ditampilkan hanya untuk tujuan referensi dan bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, atau hukum. Gate tidak menjamin keakuratan maupun kelengkapan informasi dan tidak bertanggung jawab atas kerugian apa pun yang timbul akibat penggunaan informasi ini. Investasi aset virtual memiliki risiko tinggi dan rentan terhadap volatilitas harga yang signifikan. Anda dapat kehilangan seluruh modal yang diinvestasikan. Harap pahami sepenuhnya risiko yang terkait dan buat keputusan secara bijak berdasarkan kondisi keuangan serta toleransi risiko Anda sendiri. Untuk detail lebih lanjut, silakan merujuk ke Penafian.
Komentar
0/400
SugarMarketMakervip
· 1jam yang lalu
Peraturan kedaulatan data semakin ketat, pusat data lokal adalah kebutuhan mendesak
Lihat AsliBalas0
TideShellLedgervip
· 1jam yang lalu
Pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara berada di posisi terdepan secara global, namun infrastruktur pendukungnya tidak cukup cepat, peluang emas
Lihat AsliBalas0
Frictionlessvip
· 1jam yang lalu
Posisi PE hub tidak akan tergoyahkan dalam jangka pendek, tetapi aset investasi memang sedang berpindah tangan
Lihat AsliBalas0
YieldYogivip
· 1jam yang lalu
Dari fintech ke pusat data, narasi di Asia Tenggara sedang meningkat
Lihat AsliBalas0
DancingOnTheEdgeOfLiquidationvip
· 1jam yang lalu
Tren ini adalah tantangan sekaligus peluang bagi Singapura, tergantung bagaimana mereka memposisikan diri.
Lihat AsliBalas0
HotAirBalloonViewingvip
· 1jam yang lalu
Infrastruktur keuangan SG + infrastruktur fisik tetangga, kombinasi ini cukup masuk akal
Lihat AsliBalas0
GateUser-e62ee1b0vip
· 1jam yang lalu
Modal selalu mengejar alpha, pusat data adalah alpha yang baru
Lihat AsliBalas0