Bank-Bank AS Kejar FOMO Bitcoin: Morgan Stanley dan Raksasa Lain Berlomba Ajukan Aplikasi ETF Kripto

Diperbarui: 2026-01-07 05:44

Morgan Stanley mengajukan aplikasi untuk ETF spot Bitcoin dan Solana pada 5 Januari 2026, menandai tonggak penting lainnya setelah langkah Bank of America yang mengizinkan kliennya untuk mengalokasikan portofolio ke aset kripto. Mulai Januari 2026, Bank of America memberikan wewenang kepada lebih dari 15.000 penasihat keuangannya untuk secara proaktif merekomendasikan agar klien mengalokasikan 1% hingga 4% portofolio mereka ke aset kripto, dengan fokus khusus pada empat ETF spot Bitcoin.

Didorong oleh lingkungan regulasi yang mendukung dan lonjakan permintaan klien, institusi keuangan tradisional mempercepat adopsi aset digital agar tidak tertinggal dari kelas aset yang berkembang pesat ini.

Langkah-Langkah Institusional

Institusi keuangan besar di Amerika Serikat memasuki ranah aset kripto dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pengajuan ETF oleh Morgan Stanley menandai perubahan besar: raksasa keuangan tradisional kini berpartisipasi langsung dalam penerbitan produk kripto, bukan sekadar menyediakan akses pihak ketiga. Bank yang mengelola aset senilai US$1,6 triliun ini mengajukan dokumen S-1 untuk meluncurkan ETF spot Bitcoin dan Solana miliknya sendiri—menjadi bank besar pertama yang mencoba menerbitkan produk semacam ini.

Perubahan kebijakan Bank of America juga patut dicatat. Mulai 5 Januari 2026, bank ini akan mengizinkan klien manajemen kekayaan untuk mengalokasikan 1% hingga 4% portofolio mereka ke aset kripto. Chris Hyzy, Chief Investment Officer Bank of America Private Bank, menyatakan: "Bagi investor yang antusias terhadap inovasi tematik dan mampu menoleransi volatilitas tinggi, alokasi moderat sebesar 1%-4% ke aset digital adalah pilihan yang tepat."

Langkah ini membuat Bank of America sejajar dengan pesaingnya, Morgan Stanley, yang telah lebih dulu menyarankan investor untuk mengalokasikan 2%-4% ke aset kripto sejak Oktober 2025.

Posisi Strategis

Institusi keuangan tradisional tidak mengambil pendekatan satu dimensi terhadap kripto; mereka justru menjalankan inisiatif strategis berlapis. Bank-bank ini memenuhi kebutuhan beragam klien melalui berbagai model layanan, mulai dari akses produk sederhana hingga keterlibatan mendalam dalam infrastruktur pasar.

Bank of America memilih untuk memulai dari layanan manajemen kekayaan, memungkinkan klien mendapatkan eksposur ke aset kripto melalui ETF yang teregulasi. Tim CIO bank ini mencakup ETF Bitcoin seperti Bitwise Bitcoin ETF (BITB), Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund (FBTC), Grayscale Bitcoin Mini Trust (BTC), dan BlackRock iShares Bitcoin Trust (IBIT). Morgan Stanley mengambil langkah lebih berani dengan langsung mengajukan penerbitan ETF spot Bitcoin dan Solana miliknya sendiri. Peralihan dari distribusi ke penerbitan ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan bank-bank besar terhadap sektor aset kripto.

Sementara itu, beberapa bank lain tengah mengembangkan layanan kripto yang lebih maju. Citibank berencana meluncurkan layanan kustodian kripto pada 2026. Charles Schwab telah menetapkan jadwal untuk menghadirkan perdagangan spot Bitcoin dan Ethereum, dengan target peluncuran pertengahan 2026.

Pendorong

Berbagai faktor mendorong gelombang masuknya bank tradisional ke dunia kripto. Lingkungan regulasi yang jauh lebih baik telah menyediakan jalur yang jelas bagi partisipasi institusional. Pada September 2025, U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) menyetujui standar pencatatan universal untuk produk investasi kripto yang diperdagangkan di bursa (ETP), memperpendek siklus pencatatan produk menjadi 75 hari.

Lebih penting lagi, SEC menghapus item pemeriksaan khusus kripto dari prioritas pemeriksaan tahun 2026, menandakan pergeseran dari pengawasan ketat ke pengawasan rutin. Ketua SEC, Paul Atkins, berkomentar: "Prioritas pemeriksaan yang dirilis hari ini seharusnya memungkinkan perusahaan untuk berdialog secara konstruktif dengan pemeriksa SEC."

Permintaan klien yang kuat juga menjadi pendorong utama. Nancy Fahmy, Head of Investment Solutions di Bank of America, mencatat: "Pembaruan kebijakan ini mencerminkan pertumbuhan permintaan klien yang berkelanjutan terhadap alokasi aset digital." Sebagai respons, tiga dari empat perusahaan pialang terbesar di AS telah mencabut pembatasan investasi kripto. Bank of America, Morgan Stanley, dan Wells Fargo Advisors semuanya telah membuka jalur investasi ke aset kripto.

Peluang Pasar dan Potensi Modal

Dorongan institusi keuangan AS ke aset kripto didukung oleh peluang pasar dan potensi modal yang sangat besar. Statistik menunjukkan Bank of America melayani sekitar 70 juta klien dan mengelola aset lebih dari US$2 triliun, sementara Vanguard mengelola 50 juta akun dengan aset sebesar US$11 triliun. Jika para klien ini mengalokasikan hanya 1% portofolio mereka ke aset kripto, potensi arus masuk dana baru bisa mencapai sekitar US$130 miliar—lebih dari dua kali lipat total arus masuk ke ETF spot kripto AS sejak awal peluncurannya.

Bitwise memperkirakan lebih dari 100 ETF terkait kripto akan diluncurkan pada 2026. Lonjakan ETF ini akan semakin memperkuat kepemimpinan pasar Bitcoin, Ethereum, dan Solana, namun juga bisa menjadi "uji stres" serius bagi aset kripto lainnya.

James Seyffart, Senior ETF Analyst di Bloomberg, mendukung pandangan ini namun juga memperingatkan: "Kita akan melihat banyak ETF yang dilikuidasi." Dinamika "pertumbuhan eksplosif dan perombakan cepat" ini akan menjadi ciri fase pengembangan ETF kripto berikutnya.

Persaingan Pasar dan Potensi Risiko

Dengan semakin banyaknya pemain yang masuk, ruang ETF kripto menghadapi persaingan yang semakin ketat dan risiko konsentrasi. Saat ini, Coinbase memegang aset untuk sebagian besar ETF kripto, menguasai 85% pangsa pasar ETF Bitcoin global. Pada kuartal III 2025, aset kustodian Coinbase mencapai US$300 miliar. Konsentrasi kustodian ini menimbulkan risiko sistemik, mendorong U.S. Bank untuk mengaktifkan kembali program kustodian Bitcoin institusionalnya, sementara Citigroup dan State Street juga tengah menjajaki kemitraan kustodian ETF kripto.

Produk dengan biaya tinggi dan fitur serupa terancam keluar dari pasar. Seiring semakin padatnya ruang ini, penerbit diharapkan terus menurunkan biaya produk unggulan mereka, sehingga produk dengan biaya tinggi dan duplikasi tidak lagi kompetitif. Seyffart memprediksi gelombang penutupan ETF kripto antara akhir 2026 hingga awal 2027. Dana dengan aset di bawah US$50 juta, yang tidak mampu menutupi biaya operasional, biasanya ditutup dalam dua tahun.

Kinerja Aset dan Prospek Pasar

Aset kripto utama menunjukkan kinerja yang beragam di tengah percepatan adopsi institusional. Per 7 Januari 2026, data pasar Gate menunjukkan Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$87.000, turun dari rekor tertinggi lebih dari US$126.000 yang dicapai pada awal Oktober 2025. Pasar kripto telah bergerak berbeda dari pasar keuangan tradisional: sepanjang tahun berjalan, harga Bitcoin turun sekitar 7%, sementara Indeks S&P 500 justru naik lebih dari 15% pada periode yang sama.

Proliferasi ETF dapat semakin memperkuat segmentasi pasar. Untuk aset dasar yang kurang likuid, pendanaan yang tersedia bisa benar-benar mengering saat volatilitas meningkat, memaksa ETF menghentikan kreasi unit baru dan menyebabkan produk diperdagangkan dengan premi hingga pasokan kembali normal. Untuk aset utama seperti Bitcoin, Ethereum, dan Solana, semakin banyak produk ETF akan memperdalam "keterkaitan spot-derivatif," mempersempit spread harga, dan memperkuat statusnya sebagai "jaminan inti institusional."

Ketika berita pengajuan ETF Bitcoin dan Solana oleh Morgan Stanley mencuat, sektor keuangan tradisional merespons bukan dengan skeptisisme atau penolakan, melainkan dengan urgensi untuk mengejar ketertinggalan. Vanguard membuka platformnya untuk ETF dan reksa dana kripto pihak ketiga, sementara Charles Schwab menetapkan jadwal peluncuran perdagangan spot untuk Bitcoin dan Ethereum. Coinbase saat ini memegang 85% aset ETF Bitcoin global, namun U.S. Bank, Citigroup, dan State Street berlomba mengembangkan layanan kustodian pesaing. Pasar memperkirakan lebih dari 100 ETF terkait kripto akan diluncurkan pada 2026, meski analis memperingatkan sebagian besar bisa tersingkir dalam dua tahun. Lanskap ini bukan lagi sekadar arena spekulan—ini telah menjadi kelas aset yang mulai diperhitungkan secara serius oleh industri manajemen kekayaan senilai US$13 triliun.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten