Sejak tahun 2026, Komisi Jasa Keuangan Korea Selatan (FSC) dan Layanan Pengawasan Keuangan (FSS) telah menerapkan serangkaian regulasi baru yang ketat yang menargetkan bursa kripto. Langkah-langkah ini mencakup peningkatan frekuensi rekonsiliasi aset, cakupan anti-pencucian uang (AML) yang lebih luas, serta pengawasan yang lebih ketat terhadap struktur kepemilikan bursa, menandai pembaruan kebijakan secara menyeluruh. Sebagai pasar terbesar kedua di dunia untuk volume perdagangan fiat-ke-kripto, langkah regulasi Korea Selatan memicu reaksi berantai perhatian di seluruh Asia.
Mengapa Korea Selatan Memperketat Regulasi Bursa Kripto pada 2026?
Serangkaian insiden risiko operasional di bursa baru-baru ini secara langsung memicu eskalasi regulasi ini. Pada Februari 2026, Bithumb mengalami gangguan sistem promosi yang secara keliru mengirimkan 620.000 bitcoin (senilai sekitar USD 44 miliar) kepada peserta kampanye. Hal ini menyebabkan penurunan singkat pada harga Bitcoin, mengungkap kelemahan serius dalam pengendalian internal bursa tersebut. Menanggapi hal ini, FSC segera mengadakan pertemuan dengan FSS dan Korea Financial Intelligence Unit (KoFIU), mewajibkan tinjauan menyeluruh atas sistem pengendalian internal seluruh bursa kripto lokal. Pada saat yang sama, FSS mengumumkan akan memperkuat pengawasan terhadap dugaan manipulasi harga kripto di tahun 2026, dengan fokus pada operasi "whale", fluktuasi harga buatan selama penangguhan deposit/penarikan, dan perdagangan terkoordinasi melalui API atau media sosial.
Kelemahan struktural yang lebih dalam juga mendorong pengawasan yang lebih ketat. Per Oktober 2025, bursa terpusat Korea Selatan menyumbang sekitar 1,9% dari volume perdagangan harian global, namun menguasai sekitar 16% perdagangan spot global di antara platform terpusat. Hampir sepertiga orang dewasa Korea memiliki aset digital—dua kali lipat dari tingkat kepemilikan di AS. Namun, konsentrasi pasar yang sangat didorong oleh ritel membuatnya rentan terhadap perdagangan emosional, sementara partisipasi institusional masih terbatas. Ketidakseimbangan inilah yang ingin diperbaiki FSC melalui regulasi.
Cakupan Aturan Baru FSC
Pada 6 April 2026, FSC mengumumkan bahwa seluruh bursa kripto domestik wajib menerapkan sistem rekonsiliasi aset yang mencocokkan buku besar internal dengan kepemilikan aktual setiap 5 menit, dengan implementasi penuh paling lambat akhir Mei. Regulator menemukan bahwa dari lima bursa terbesar, tiga di antaranya masih merekonsiliasi aset setiap 24 jam, sementara dua lainnya melakukan pengecekan setiap 5 hingga 10 menit. FSC kini juga mewajibkan bursa untuk mengungkapkan saldo pencocokan aset secara harian ke publik dan menjalani audit eksternal bulanan oleh kantor akuntan.
Pada aspek AML, Korea Selatan memperluas Travel Rule untuk mencakup transaksi di bawah USD 680, menutup celah di mana pengguna dapat menghindari pemeriksaan identitas dengan memecah transfer besar. Langkah tambahan meliputi pemblokiran bursa luar negeri berisiko tinggi, membatasi individu dengan catatan kriminal menjadi pemegang saham Virtual Asset Service Provider (VASP), serta memperkenalkan mekanisme pembekuan akun secara preventif. Seluruh ketentuan ini dijadwalkan diimplementasikan secara resmi pada semester pertama 2026.
Terkait tata kelola, FSC berencana mengatur bursa kripto utama serupa dengan perusahaan sekuritas, membatasi kepemilikan saham individu pada kisaran 15–20%. Setelah beberapa kali pembahasan, regulator dan partai penguasa mencapai konsensus awal: batas 20% untuk pemegang saham utama, dengan pengecualian hingga 34% bagi pendatang baru. Artinya, pendiri dan investor awal di bursa seperti Upbit dan Bithumb akan terkena regulasi retroaktif, mengharuskan mereka mengurangi kepemilikan di atas batas dalam masa transisi tiga tahun.
Dampak Pembaruan Regulasi terhadap Pasar Kripto Korea Selatan
Aturan baru ini mengubah ekosistem pasar dari sisi likuiditas, biaya kepatuhan, hingga dinamika persaingan. Dari sisi likuiditas, FSC berencana mencabut larangan investasi korporasi dalam aset kripto yang berlaku sejak 2017, memungkinkan perusahaan tercatat dan investor profesional ikut berpartisipasi dalam perdagangan kripto. Jika panduan ini berjalan lancar, perdagangan institusional kripto bisa resmi dimulai akhir 2026, berpotensi menghadirkan modal institusi ke pasar. Namun, ketentuan Travel Rule dan rekonsiliasi aset yang lebih ketat akan meningkatkan biaya kepatuhan secara signifikan bagi bursa, kemungkinan menekan pemain kecil dan mempercepat konsentrasi pasar.
Dari sisi persaingan, pembatasan kepemilikan saham utama bisa mengubah struktur kepemilikan. Jika batas 20% diatur dalam Digital Asset Basic Act, bursa yang ada harus menyesuaikan struktur pemegang saham, yang dapat memengaruhi aktivitas M&A dan stabilitas tata kelola. Proses legislasi sendiri mengalami penundaan: Komite Urusan Politik Majelis Nasional menunda pembahasan Digital Asset Framework Bill yang semula dijadwalkan 31 Maret hingga setelah pemilu lokal Juni, sehingga aturan kepemilikan bursa dan penerbitan stablecoin masih berada dalam ketidakpastian regulasi.
Apa yang Diungkapkan "Kimchi Premium" tentang Pasar Korea?
"Kimchi Premium" merujuk pada selisih harga bitcoin di bursa Korea dibandingkan pasar internasional—indikator utama struktur unik pasar kripto Korea Selatan. Pada awal April 2026, saat harga bitcoin global turun ke USD 95.000, Kimchi Premium di bursa Korea melonjak ke 9,7%, tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Premium yang bertahan ini disebabkan oleh kontrol modal yang ketat, membatasi akses investor asing ke bursa lokal dan membatasi trader domestik melakukan arbitrase skala besar dengan platform luar negeri.
Secara historis, Kimchi Premium berada di kisaran 10%, namun turun menjadi sekitar 1,75% pada 2025 sebelum kembali naik ke kisaran 3,5–7,47% awal 2026. Fluktuasi ini mencerminkan interaksi kompleks antara perubahan regulasi dan sentimen pasar: penurunan 2025 terkait dengan aturan AML yang lebih ketat dan perubahan mood investor, sedangkan kenaikan 2026 bertepatan dengan rekor tertinggi pasar saham Korea, pelemahan won, serta ekspektasi pencabutan larangan investasi korporasi.
Transformasi lebih dalam juga terjadi pada perilaku perdagangan. Data CryptoQuant menunjukkan bahwa selama lonjakan premium baru-baru ini, trader lokal semakin sering menukar bitcoin langsung ke dolar AS, bukan won, menandakan perubahan strategi perdagangan. Sementara itu, volume perdagangan kripto Korea menyusut drastis—turun sekitar 80% dari puncaknya akhir 2024 menjadi sekitar USD 1,78 miliar pada November 2025. Koeksistensi antara penurunan volume dan volatilitas premium menandakan pasar tengah mengalami transisi menyakitkan dari euforia ritel ke kepatuhan regulasi yang lebih tinggi.
Perbandingan Jalur Regulasi Korea Selatan dengan Jepang, Hong Kong, dan Singapura
Korea Selatan bukan satu-satunya ekonomi Asia yang memperbarui regulasi kripto, namun pendekatannya berbeda signifikan dari pasar utama lain. Kerangka regulasi Jepang sedang mengalami perubahan historis: Financial Services Agency berencana memindahkan pengawasan kripto dari Payment Services Act ke Financial Instruments and Exchange Act, mengklasifikasikan ulang aset kripto sebagai aset keuangan. Targetnya meluncurkan ETF kripto spot pertama pada 2028 dan memangkas pajak capital gain tertinggi dari 55% menjadi 20% flat. Pendekatan ini bertujuan mengintegrasikan kripto ke sistem keuangan tradisional, bukan sekadar membatasi.
Hong Kong mengusung prinsip regulasi "bisnis sama, risiko sama, aturan sama". Pada Desember 2025, Financial Services and the Treasury Bureau serta Securities and Futures Commission menerbitkan ringkasan konsultasi yang merekomendasikan rezim perizinan komprehensif untuk perdagangan dan kustodian aset virtual non-sekuritas. Per Juli 2025, 11 platform telah memperoleh lisensi, dengan 8 lainnya dalam proses peninjauan regulator. Hong Kong menargetkan mengajukan revisi legislasi ke Dewan Legislatif pada 2026, fokus pada implementasi penuh rezim perizinan.
Sikap regulasi Singapura menitikberatkan pada perizinan sebagai ambang ketat. Monetary Authority of Singapore (MAS) telah menerima lebih dari 480 aplikasi lisensi layanan kripto, sekitar 170 di antaranya untuk layanan token pembayaran digital. Sejak 30 Juni 2025, seluruh entitas terdaftar di Singapura yang menyediakan layanan aset digital—bahkan hanya untuk klien luar negeri—wajib memiliki lisensi atau menghadapi denda besar dan potensi tuntutan pidana.
Sebagai perbandingan, jalur regulasi Korea Selatan menonjol dalam hal pengelolaan langsung operasi bursa—mulai dari frekuensi rekonsiliasi aset hingga batas kepemilikan saham, regulator ikut campur dalam pengendalian internal dan pengaturan kepemilikan. Ini unik di antara pasar utama Asia. Negara lain lebih menitikberatkan pada perizinan dan perlindungan investor, sementara Korea menerapkan pembatasan struktural yang lebih konkret pada operasi bursa.
Ketidakpastian Akibat Penundaan Digital Asset Basic Act
Proses legislasi Digital Asset Basic Act yang tertunda saat ini menjadi sumber ketidakpastian terbesar bagi pasar kripto Korea. RUU ini semula dijadwalkan untuk pembacaan kedua pada 31 Maret 2026, namun ditunda hingga setelah pemilu lokal Juni. Dua perbedaan utama menjadi penghambat: pertama, Bank of Korea menginginkan bank memimpin penerbitan stablecoin won dan memiliki setidaknya 51% kepemilikan, sedangkan FSC menolak mayoritas wajib bank, dengan alasan hal ini akan mengecualikan platform teknologi dan bursa; kedua, batas pasti kepemilikan saham masih diperdebatkan—meski ada konsensus 20%, klausul pengecualian hingga 34% bagi pendatang baru masih menunggu konfirmasi final.
Dalam jangka pendek, kekosongan kebijakan ini meningkatkan premi risiko bagi platform perdagangan Korea dan memengaruhi rencana listing serta market-making lokal. Jika pasca pemilu, kerangka stablecoin yang dipimpin bank dan aturan tata kelola yang lebih ketat diadopsi, institusi dan bank bermodal besar akan diuntungkan, berpotensi mengubah likuiditas pasar dan dinamika listing token. Sebaliknya, jika legislator melonggarkan batas kepemilikan atau mengizinkan penerbit stablecoin non-bank, hal ini bisa menjadi sinyal positif bagi produk berdenominasi won dan perusahaan internasional yang mengincar pasar ritel Korea.
Bisakah Pengetatan Regulasi Korea Menjadi "Penentu Arah" Pasar Kripto Asia?
Untuk menilai apakah Korea dapat menjadi acuan tren regulasi di Asia, perlu dilihat dari dua dimensi. Dari sisi substansi kebijakan, pendekatan Korea yang sangat intervensif pada tata kelola bursa dan keamanan aset bisa menjadi referensi bagi pasar lain, terutama saat regulator global semakin fokus pada pemisahan aset nasabah dan risiko operasional di bursa. Ketentuan FSC untuk pengecekan aset setiap 5 menit termasuk standar paling ketat di Asia.
Namun, struktur pasar Korea juga sangat unik. Konsentrasi ritel yang ekstrem, kontrol modal yang ketat, dan "Kimchi Premium" mencerminkan pasar yang tersegmentasi, yang belum tentu dapat diterapkan di pusat finansial yang lebih internasional dan berorientasi institusi seperti Hong Kong atau Singapura. Selain itu, sinyal kebijakan Korea pun beragam—di satu sisi regulasi bursa diperketat, di sisi lain larangan investasi korporasi dicabut. Penyesuaian dua jalur ini menunjukkan pendekatan Korea bukan sekadar narasi "pengetatan", melainkan upaya membangun kerangka pasar yang lebih teregulasi namun inklusif.
Penilaian yang lebih tepat adalah bahwa ketentuan operasional spesifik Korea—terutama rekonsiliasi aset, AML, dan tata kelola—dapat menjadi referensi bagi pasar Asia lainnya. Namun, jalur regulasi Korea secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh struktur pasar domestik yang unik dan sulit untuk direplikasi sepenuhnya. Masa depan regulasi kripto Asia kemungkinan akan ditentukan oleh persaingan yang terdiferensiasi, bukan satu model dominan.
Kesimpulan
Pembaruan regulasi kripto Korea Selatan tahun 2026 berfokus pada peningkatan frekuensi rekonsiliasi aset, perluasan cakupan Travel Rule, dan pembatasan kepemilikan bursa, secara langsung menanggapi kelemahan pengendalian internal yang terungkap dari insiden risiko operasional baru-baru ini. Langkah-langkah ini membentuk ulang struktur likuiditas pasar, biaya kepatuhan, dan lanskap persaingan. Volatilitas historis Kimchi Premium menyoroti bagaimana partisipasi ritel yang dalam dan kontrol modal menciptakan pasar yang sangat tersegmentasi, sementara penundaan Digital Asset Basic Act menambah ketidakpastian kebijakan. Dibandingkan Jepang, Hong Kong, dan Singapura, Korea lebih menekankan pembatasan ketat pada tata kelola internal bursa. Hal ini menjadikan Korea referensi penting dalam lanskap regulasi kripto Asia yang semakin terfragmentasi, meski penerapannya di tempat lain sangat bergantung pada struktur pasar lokal dan perlu dievaluasi secara hati-hati.
FAQ
T: Apa jadwal FSC terkait kewajiban bursa menerapkan sistem rekonsiliasi aset?
J: Pada 6 April 2026, FSC mengumumkan seluruh bursa kripto domestik wajib menerapkan sistem untuk merekonsiliasi buku besar internal dengan kepemilikan aktual setiap 5 menit, dengan implementasi penuh paling lambat akhir Mei 2026.
T: Bagaimana perluasan Travel Rule memengaruhi pengguna?
J: Aturan baru memperluas Travel Rule untuk mencakup transaksi di bawah USD 680. Bahkan transfer kripto kecil kini mewajibkan bursa mengumpulkan dan membagikan informasi identitas pengirim dan penerima, sehingga tidak mungkin lagi menghindari pemeriksaan identitas dengan memecah transfer besar.
T: Mengapa Digital Asset Basic Act Korea mengalami penundaan?
J: RUU ini semula dijadwalkan untuk ditinjau pada 31 Maret 2026, namun ditunda karena perbedaan pendapat antara Bank of Korea dan FSC terkait hak penerbitan stablecoin, serta detail batas kepemilikan saham yang belum terselesaikan. Legislasi kini ditunda hingga setelah pemilu lokal Juni.
T: Apa itu "Kimchi Premium" dan apa maknanya bagi pasar?
J: Kimchi Premium adalah selisih harga bitcoin di bursa Korea dengan pasar internasional. Ini mencerminkan dampak kontrol modal yang ketat, yang menciptakan hambatan arbitrase dan mendistorsi pembentukan harga di pasar yang sangat didorong ritel. Pada awal April 2026, premium ini mencapai 9,7%, tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
T: Apakah Korea Selatan berencana melarang perdagangan kripto secara total?
J: Saat ini tidak ada indikasi bahwa Korea Selatan akan melarang perdagangan kripto secara total. Sebaliknya, arah kebijakan FSC adalah memperkuat regulasi sambil mencabut larangan investasi korporasi, dengan tujuan membangun pasar yang lebih teregulasi namun inklusif. Tujuan pembaruan regulasi adalah meningkatkan transparansi operasional dan kepatuhan AML di bursa, bukan menghapus aktivitas perdagangan.


