Dalam satu dekade terakhir, yen Jepang menunjukkan pelemahan yang jelas dibandingkan mata uang lain di kawasan, seperti baht Thailand, yang mencerminkan kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi tren nilai tukar yen. Pada tahun 2025-2026 ini, kita akan menganalisis secara mendalam mengapa yen tetap menjadi masalah besar bagi investor dan apa saja sinyal yang perlu kita perhatikan.
Menetapkan Tren Nilai Tukar Yen: Lima Faktor Utama yang Tidak Boleh Diabaikan
Yen bukan sekadar mata uang biasa, melainkan merupakan “indikator” penting dari kondisi ekonomi Jepang dan hubungannya dengan pasar keuangan global. Ketika yen bergerak, pergerakan tersebut biasanya mencerminkan perubahan besar dalam sistem keuangan dunia.
Sumber: Forbesindia Berdasarkan data, Jepang tetap menjadi salah satu ekonomi utama dunia, diperkirakan berada di posisi kelima berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2025, dengan ukuran sekitar 4,19 triliun dolar AS. Data ini menjadi dasar untuk memahami mengapa tren nilai tukar yen sangat penting bagi investor global.
Lima Alasan Utama yang Menentukan Tren Yen
Pertama: Kebijakan moneter yang berbeda-beda Sementara Federal Reserve (FED) dan European Central Bank (ECB) menerapkan kebijakan ketat, Bank of Japan (BOJ) tetap mendukung sistem keuangan melalui langkah-langkah pelonggaran, seperti Yield Curve Control (YCC), yaitu pengendalian kurva hasil obligasi jangka panjang. Langkah ini membantu aliran likuiditas ke sistem keuangan dan menyebabkan yen melemah.
Kedua: Perbedaan suku bunga relatif Ketika suku bunga di AS lebih tinggi daripada di Jepang, investor terdorong untuk mengalihkan investasinya ke pasar AS demi mendapatkan hasil yang lebih baik. Dengan adanya arus keluar modal ini, yen mengalami tekanan yang sangat besar.
Ketiga: Pertumbuhan ekonomi Yen yang melemah mencerminkan keraguan terhadap kemampuan Jepang untuk pulih secara ekonomi. Negara dengan pertumbuhan PDB yang kuat biasanya memiliki mata uang yang dipercaya dan menguat.
Keempat: Neraca perdagangan Ketika suatu negara mengalami surplus perdagangan (ekspor lebih besar dari impor), uang masuk ke negara tersebut dan mata uangnya cenderung menguat. Sebaliknya, Jepang yang mengalami defisit perdagangan selama krisis ekonomi menghadapi tantangan tambahan.
Kelima: Peran aset aman Di saat krisis global, yen sering menguat karena investor menghindari risiko dan beralih ke aset yang dianggap aman.
Yen Jepang di Tahun 2025: Sinyal Pemulihan Nyata?
Sumber: tradingview Memasuki tahun 2025, yen terhadap baht Thailand (JPY/THB) tetap menjadi fokus utama investor regional. Pada kuartal pertama tahun 2025, pasangan mata uang ini diperdagangkan di level 0,2176 baht per yen.
Perlu dicatat bahwa level ini masih di atas support besar di 0,2150, yang telah dipertahankan selama lama. Yen yang tetap bertahan di atas support ini menunjukkan upaya yen untuk membangun “wilayah baru” dan menetapkan posisi baru sejak tahun 2021. Dalam periode ini, yen terhadap baht telah melemah lebih dari 30%.
Hal ini dipicu oleh pengurangan pembelian obligasi bulanan oleh Bank of Japan (BOJ) dari 9 triliun yen menjadi 7,5 triliun yen pada kuartal kedua, menandakan bahwa Jepang sedang bersiap keluar dari fase “berhati-hati” menuju kebijakan yang lebih ketat. Di tengah kondisi ini, yen mulai menunjukkan sinyal pemulihan kecil, dari posisi 0,2130 naik menjadi 0,2176.
Di sisi lain, baht Thailand didukung oleh berbagai faktor, terutama pemulihan pariwisata yang pesat, perdagangan regional yang kuat, dan tingkat suku bunga riil yang tetap menarik bagi aliran modal asing. Hal ini menjaga baht tetap kuat dan memberi tekanan pada yen terhadap baht.
Namun, jika BOJ secara tegas mengakhiri YCC dan inflasi tetap tinggi (antara 2,5%-3,5%), kemungkinan yen akan terus menguat ke kisaran 0,2250-0,2300 pada akhir 2025. Sebaliknya, jika langkah-langkah pengetatan kebijakan moneter tidak konsisten, yen bisa menguji level terendah baru yang lebih rendah dari posisi saat ini.
Melihat ke Depan: Tren Yen di Tahun 2026
Sumber: tradingview Melihat gambaran jangka panjang (nilai tukar JPY/THB), sejak puncaknya pada 2012, yen terhadap baht menunjukkan tren penurunan, dengan titik tertinggi dan terendah yang semakin rendah. Pada tahun 2023, pasangan ini turun di bawah 0,2400 untuk pertama kalinya.
Pada 2024-2025, di tengah upaya pemulihan, pasangan ini diperdagangkan di kisaran 0,2150-0,2250, menandakan bahwa tren mendekati “support historis” di level lama. Saat ini (Desember 2025), dengan candlestick bullish, tampaknya “lubang pasar” mungkin terjadi di level 0,2150.
Jika yen mampu mempertahankan level ini dan faktor makroekonomi berjalan sesuai harapan, yen bisa perlahan menguat ke kisaran 0,2300-0,2400 pada 2026. Namun, jika yen gagal mempertahankan support ini, kemungkinan akan menyentuh level terendah baru di bawah 0,2100, terutama jika Jepang terus melanjutkan kebijakan pelonggaran. Sementara itu, Thailand akan terus menikmati pertumbuhan ekonomi yang kuat dan aliran modal asing.
Meskipun indikator teknikal menunjukkan yen mendekati level terendah historis dan ada potensi pembalikan, faktor makroekonomi dan langkah kebijakan Bank of Japan akan menjadi penentu utama di tahun 2026.
Apa yang Harus Diperhatikan Investor di Tahun 2026
Pertama: Inflasi dan perbedaan suku bunga Tekanan inflasi global diperkirakan akan berkurang secara bertahap. Jika bank sentral utama (FED dan ECB) terus menurunkan suku bunga, sementara BOJ secara perlahan mengendalikan kebijakan, perbedaan ini bisa menguatkan yen. Namun, ketidakpastian atau keputusan tidak tegas dari BOJ dapat menjaga yen tetap lemah.
Kedua: Kebijakan moneter Jepang BOJ memberi sinyal kemungkinan keluar dari kebijakan pelonggaran total. Langkah nyata seperti mengakhiri suku bunga negatif atau menghentikan YCC dapat menguatkan yen secara signifikan. Namun, timing dan kehati-hatian dalam pelaksanaan akan menentukan apakah pemulihan yen bersifat nyata atau sekadar ilusi.
Ketiga: Arus modal kembali dan ketegangan geopolitik Investor institusi Jepang mungkin memindahkan kembali dana ke dalam negeri di tahun 2026, di tengah ketidakpastian pasar negara berkembang. Arus modal ini biasanya mendukung yen. Selain itu, ketegangan geopolitik di Asia dapat meningkatkan status yen sebagai aset safe haven regional, yang berpotensi mempengaruhi nilai tukar, termasuk JPY/THB di akhir tahun.
Saat Ini (Februari 2026): Kondisi Pasar Yen Jepang
Sumber: investing Berdasarkan analisis indikator teknikal terbaru, yen Jepang terhadap baht menunjukkan sinyal jual yang jelas dalam kerangka waktu jangka pendek. Dari 13 indikator utama, 7 memberi sinyal “jual”, 1 memberi sinyal “beli”, dan 5 berada di zona netral.
Rata-rata pergerakan menunjukkan kebingungan, dengan 6 indikator “beli” dan 6 indikator “jual”, menandakan tidak adanya tren yang jelas. Namun, volume jual berlebih menunjukkan tekanan turun dalam jangka pendek.
Trader harus memperhatikan hal ini: meskipun indikator memberi sinyal jual berlebihan, level support historis yang dekat dapat menjadi titik “sentuh” di mana yen berpotensi membalik arah, jika sentimen pasar berubah.
Kesimpulan: Yen Tetap Menjadi Masalah Besar bagi Investor
Tren nilai tukar yen adalah masalah yang membuat investor global sulit tidur nyenyak, karena pergerakannya terkait dengan berbagai aset lain, mulai dari dolar AS, hasil obligasi, hingga pasar saham Jepang secara keseluruhan.
Tahun 2025 menjadi titik balik krisis kebijakan moneter BOJ, saat sinyal pertama dari pelonggaran yang ekstrem mulai menghilang. Tahun 2026 bisa menjadi periode di mana tren yen menunjukkan pola baru. Namun, keberhasilan reformasi kebijakan moneter dan perlindungan pasar global sangat bergantung pada timing dan ketulusan pelaksanaan, yang lebih berbicara daripada sekadar kata-kata.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Yen Jepang tren yang tidak dapat dijangkau: tahun 2025-2026 adalah titik balik utama
Dalam satu dekade terakhir, yen Jepang menunjukkan pelemahan yang jelas dibandingkan mata uang lain di kawasan, seperti baht Thailand, yang mencerminkan kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi tren nilai tukar yen. Pada tahun 2025-2026 ini, kita akan menganalisis secara mendalam mengapa yen tetap menjadi masalah besar bagi investor dan apa saja sinyal yang perlu kita perhatikan.
Menetapkan Tren Nilai Tukar Yen: Lima Faktor Utama yang Tidak Boleh Diabaikan
Yen bukan sekadar mata uang biasa, melainkan merupakan “indikator” penting dari kondisi ekonomi Jepang dan hubungannya dengan pasar keuangan global. Ketika yen bergerak, pergerakan tersebut biasanya mencerminkan perubahan besar dalam sistem keuangan dunia.
Sumber: Forbesindia Berdasarkan data, Jepang tetap menjadi salah satu ekonomi utama dunia, diperkirakan berada di posisi kelima berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2025, dengan ukuran sekitar 4,19 triliun dolar AS. Data ini menjadi dasar untuk memahami mengapa tren nilai tukar yen sangat penting bagi investor global.
Lima Alasan Utama yang Menentukan Tren Yen
Pertama: Kebijakan moneter yang berbeda-beda Sementara Federal Reserve (FED) dan European Central Bank (ECB) menerapkan kebijakan ketat, Bank of Japan (BOJ) tetap mendukung sistem keuangan melalui langkah-langkah pelonggaran, seperti Yield Curve Control (YCC), yaitu pengendalian kurva hasil obligasi jangka panjang. Langkah ini membantu aliran likuiditas ke sistem keuangan dan menyebabkan yen melemah.
Kedua: Perbedaan suku bunga relatif Ketika suku bunga di AS lebih tinggi daripada di Jepang, investor terdorong untuk mengalihkan investasinya ke pasar AS demi mendapatkan hasil yang lebih baik. Dengan adanya arus keluar modal ini, yen mengalami tekanan yang sangat besar.
Ketiga: Pertumbuhan ekonomi Yen yang melemah mencerminkan keraguan terhadap kemampuan Jepang untuk pulih secara ekonomi. Negara dengan pertumbuhan PDB yang kuat biasanya memiliki mata uang yang dipercaya dan menguat.
Keempat: Neraca perdagangan Ketika suatu negara mengalami surplus perdagangan (ekspor lebih besar dari impor), uang masuk ke negara tersebut dan mata uangnya cenderung menguat. Sebaliknya, Jepang yang mengalami defisit perdagangan selama krisis ekonomi menghadapi tantangan tambahan.
Kelima: Peran aset aman Di saat krisis global, yen sering menguat karena investor menghindari risiko dan beralih ke aset yang dianggap aman.
Yen Jepang di Tahun 2025: Sinyal Pemulihan Nyata?
Sumber: tradingview Memasuki tahun 2025, yen terhadap baht Thailand (JPY/THB) tetap menjadi fokus utama investor regional. Pada kuartal pertama tahun 2025, pasangan mata uang ini diperdagangkan di level 0,2176 baht per yen.
Perlu dicatat bahwa level ini masih di atas support besar di 0,2150, yang telah dipertahankan selama lama. Yen yang tetap bertahan di atas support ini menunjukkan upaya yen untuk membangun “wilayah baru” dan menetapkan posisi baru sejak tahun 2021. Dalam periode ini, yen terhadap baht telah melemah lebih dari 30%.
Hal ini dipicu oleh pengurangan pembelian obligasi bulanan oleh Bank of Japan (BOJ) dari 9 triliun yen menjadi 7,5 triliun yen pada kuartal kedua, menandakan bahwa Jepang sedang bersiap keluar dari fase “berhati-hati” menuju kebijakan yang lebih ketat. Di tengah kondisi ini, yen mulai menunjukkan sinyal pemulihan kecil, dari posisi 0,2130 naik menjadi 0,2176.
Di sisi lain, baht Thailand didukung oleh berbagai faktor, terutama pemulihan pariwisata yang pesat, perdagangan regional yang kuat, dan tingkat suku bunga riil yang tetap menarik bagi aliran modal asing. Hal ini menjaga baht tetap kuat dan memberi tekanan pada yen terhadap baht.
Namun, jika BOJ secara tegas mengakhiri YCC dan inflasi tetap tinggi (antara 2,5%-3,5%), kemungkinan yen akan terus menguat ke kisaran 0,2250-0,2300 pada akhir 2025. Sebaliknya, jika langkah-langkah pengetatan kebijakan moneter tidak konsisten, yen bisa menguji level terendah baru yang lebih rendah dari posisi saat ini.
Melihat ke Depan: Tren Yen di Tahun 2026
Sumber: tradingview Melihat gambaran jangka panjang (nilai tukar JPY/THB), sejak puncaknya pada 2012, yen terhadap baht menunjukkan tren penurunan, dengan titik tertinggi dan terendah yang semakin rendah. Pada tahun 2023, pasangan ini turun di bawah 0,2400 untuk pertama kalinya.
Pada 2024-2025, di tengah upaya pemulihan, pasangan ini diperdagangkan di kisaran 0,2150-0,2250, menandakan bahwa tren mendekati “support historis” di level lama. Saat ini (Desember 2025), dengan candlestick bullish, tampaknya “lubang pasar” mungkin terjadi di level 0,2150.
Jika yen mampu mempertahankan level ini dan faktor makroekonomi berjalan sesuai harapan, yen bisa perlahan menguat ke kisaran 0,2300-0,2400 pada 2026. Namun, jika yen gagal mempertahankan support ini, kemungkinan akan menyentuh level terendah baru di bawah 0,2100, terutama jika Jepang terus melanjutkan kebijakan pelonggaran. Sementara itu, Thailand akan terus menikmati pertumbuhan ekonomi yang kuat dan aliran modal asing.
Meskipun indikator teknikal menunjukkan yen mendekati level terendah historis dan ada potensi pembalikan, faktor makroekonomi dan langkah kebijakan Bank of Japan akan menjadi penentu utama di tahun 2026.
Apa yang Harus Diperhatikan Investor di Tahun 2026
Pertama: Inflasi dan perbedaan suku bunga Tekanan inflasi global diperkirakan akan berkurang secara bertahap. Jika bank sentral utama (FED dan ECB) terus menurunkan suku bunga, sementara BOJ secara perlahan mengendalikan kebijakan, perbedaan ini bisa menguatkan yen. Namun, ketidakpastian atau keputusan tidak tegas dari BOJ dapat menjaga yen tetap lemah.
Kedua: Kebijakan moneter Jepang BOJ memberi sinyal kemungkinan keluar dari kebijakan pelonggaran total. Langkah nyata seperti mengakhiri suku bunga negatif atau menghentikan YCC dapat menguatkan yen secara signifikan. Namun, timing dan kehati-hatian dalam pelaksanaan akan menentukan apakah pemulihan yen bersifat nyata atau sekadar ilusi.
Ketiga: Arus modal kembali dan ketegangan geopolitik Investor institusi Jepang mungkin memindahkan kembali dana ke dalam negeri di tahun 2026, di tengah ketidakpastian pasar negara berkembang. Arus modal ini biasanya mendukung yen. Selain itu, ketegangan geopolitik di Asia dapat meningkatkan status yen sebagai aset safe haven regional, yang berpotensi mempengaruhi nilai tukar, termasuk JPY/THB di akhir tahun.
Saat Ini (Februari 2026): Kondisi Pasar Yen Jepang
Sumber: investing Berdasarkan analisis indikator teknikal terbaru, yen Jepang terhadap baht menunjukkan sinyal jual yang jelas dalam kerangka waktu jangka pendek. Dari 13 indikator utama, 7 memberi sinyal “jual”, 1 memberi sinyal “beli”, dan 5 berada di zona netral.
Rata-rata pergerakan menunjukkan kebingungan, dengan 6 indikator “beli” dan 6 indikator “jual”, menandakan tidak adanya tren yang jelas. Namun, volume jual berlebih menunjukkan tekanan turun dalam jangka pendek.
Trader harus memperhatikan hal ini: meskipun indikator memberi sinyal jual berlebihan, level support historis yang dekat dapat menjadi titik “sentuh” di mana yen berpotensi membalik arah, jika sentimen pasar berubah.
Kesimpulan: Yen Tetap Menjadi Masalah Besar bagi Investor
Tren nilai tukar yen adalah masalah yang membuat investor global sulit tidur nyenyak, karena pergerakannya terkait dengan berbagai aset lain, mulai dari dolar AS, hasil obligasi, hingga pasar saham Jepang secara keseluruhan.
Tahun 2025 menjadi titik balik krisis kebijakan moneter BOJ, saat sinyal pertama dari pelonggaran yang ekstrem mulai menghilang. Tahun 2026 bisa menjadi periode di mana tren yen menunjukkan pola baru. Namun, keberhasilan reformasi kebijakan moneter dan perlindungan pasar global sangat bergantung pada timing dan ketulusan pelaksanaan, yang lebih berbicara daripada sekadar kata-kata.