Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Bank Indonesia menghadapi dilema: permintaan selama Ramadan dan basis yang rendah akan terus mendorong inflasi
Kenarag Investment Bank baru-baru ini merilis laporan yang menganalisis bahwa faktor-faktor yang berlapis akan membuat tekanan inflasi jangka pendek di Indonesia tetap tinggi. Di antaranya, efek basis rendah tahun lalu dan peningkatan permintaan konsumsi selama bulan Ramadan menjadi pendorong utama. Dua faktor ini saling terkait dan sedang menguji kemampuan kebijakan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi.
Permintaan Merangsang Ramadan, Basis Rendah Menjadi Pemicu Inflasi
Ramadan adalah perayaan penting dalam dunia Islam, yang setiap tahun memicu puncak konsumsi di daerah mayoritas Muslim. Di Indonesia, negara dengan mayoritas penduduk Muslim, selama Ramadan daya beli keluarga meningkat secara signifikan, dan permintaan barang pokok seperti makanan dan kebutuhan sehari-hari melonjak. Ditambah dengan basis yang relatif rendah tahun lalu, kenaikan harga tahun ini tampak sangat mencolok.
Para ekonom menyatakan bahwa kondisi inflasi tinggi ini diperkirakan akan bertahan hingga sekitar bulan April. Kenarag mempertahankan prediksi indeks harga konsumen (IHK) sebesar 1,9% untuk tahun 2025 dan tetap pada 2,5% untuk tahun 2026. Meskipun dari perspektif jangka menengah tingkat inflasi masih tergolong moderat, tekanan jangka pendek memang tidak bisa diabaikan.
Tekanan Berkurang Setelah April, Tapi Risiko Belum Hilang
Seiring berakhirnya Ramadan dan berkurangnya efek basis rendah secara bertahap, para ekonom memperkirakan tekanan harga akan mereda mulai April. Namun, faktor risiko baru sedang berkembang. Ketegangan geopolitik global meningkat dan ketidakpastian semakin tinggi, yang mulai memberi tekanan pada rupiah Indonesia. Pelemahan nilai tukar meningkatkan biaya impor dan selanjutnya mendorong kenaikan harga domestik.
Kekhawatiran yang lebih dalam adalah ruang kebijakan Bank Indonesia untuk melakukan pelonggaran lebih lanjut sudah menyempit secara signifikan. Di satu sisi, risiko inflasi belum sepenuhnya terkendali; di sisi lain, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral dan kredibilitas kebijakan fiskal dapat dipertanyakan. Morgan Stanley Capital International juga mengingatkan tentang transparansi data dan standar transaksi di Indonesia.
Tekanan Berlapis, Kebijakan Bank Indonesia Terjebak
Ketegangan geopolitik yang meningkat dan ketidakpastian ekonomi global menciptakan “tekanan ganda” yang berimbas pada kebijakan domestik. Bank Indonesia harus mengawasi potensi inflasi rebound setelah Ramadan, menghadapi tantangan depresiasi nilai tukar, dan sekaligus merespons kekhawatiran pasar terhadap independensi kebijakan.
Situasi ini secara langsung membatasi ruang Bank Indonesia untuk melakukan pemotongan suku bunga lebih jauh. Dengan risiko inflasi, tekanan nilai tukar, dan kredibilitas kebijakan yang saling membatasi, pilihan alat kebijakan menjadi sangat terbatas. Bagi investor yang memantau pasar keuangan Indonesia, tren inflasi selama Ramadan dan arah kebijakan bank sentral tetap menjadi fokus utama pasar.