Patrick Gruhn, mantan kepala FTX Eropa, menjadi berita utama bukan karena keterlibatannya dalam keruntuhan dramatis bursa kripto tersebut, tetapi karena membeli salah satu artefak paling dicari dalam sejarah. Pada awal 2026, pengusaha ini menghabiskan $1,5 juta dalam lelang—harga tertinggi yang pernah dibayar untuk memorabilia Titanic—untuk membeli sebuah jam saku emas yang pernah dimiliki oleh John Jacob Astor IV, salah satu penumpang terkaya di kapal tersebut.
Sumber Kekayaan Gruhn
Kemampuan Gruhn untuk melakukan pembelian sebesar ini berasal dari kekayaan yang ia kumpulkan melalui penjualan perusahaan-perusahaannya sendiri, terpisah dari masa jabatannya di FTX Eropa. Perbedaan ini penting: Gruhn secara terbuka menyatakan bahwa dia tidak mengetahui penipuan di FTX sebelum keruntuhan besar bursa tersebut pada November 2022. Berbeda dengan eksekutif FTX lain yang menghadapi pengawasan hukum, posisi keuangan Gruhn tetap independen dari operasi penipuan, sehingga ia dapat mempertahankan dan mengalokasikan modal dari usaha bisnis yang sah.
Akuisisi Titanic yang Bersejarah
Jam yang dibeli Gruhn jauh lebih dari sekadar koleksi mewah—ini adalah bagian dari sejarah maritim yang dipulihkan dari salah satu bencana paling terkenal dalam peradaban manusia. John Jacob Astor IV sedang kembali dari bulan madu di Eropa bersama istrinya yang sedang hamil, Madeleine Astor, ketika Titanic menabrak gunung es pada tahun 1912. Seorang perwira mencegah Astor naik ke sekoci sampai semua wanita dan anak-anak dievakuasi. Ketika tubuhnya ditemukan di laut, jam emas 14 karat itu tetap bersama barang-barangnya, termasuk manset kancing, cincin berlian, dan pensil emas.
Gruhn berencana memamerkan jam dan artefak pendukungnya di museum, mengubah akuisisi pribadi menjadi kontribusi budaya publik. Menurut laporan dari The Wall Street Journal, pembelian ini bukan sekadar kesenangan kolektor tetapi juga investasi dalam pelestarian sejarah.
Upaya Pemulihan FTX dan Penyelesaian Gruhn
Akuisisi ini juga menegaskan pemulihan keuangan Gruhn setelah keruntuhan FTX. Pada Juli 2023, harta pailit FTX menuntut klaim atas kerugian lebih dari $323,5 juta terhadap pimpinan FTX Eropa. Namun, Gruhn dan eksekutif Eropa lainnya mencapai kesepakatan penyelesaian, akhirnya membeli kembali aset-aset FTX Eropa seharga sekitar $33 juta—sebuah solusi yang memungkinkannya melanjutkan tanpa terjerat proses hukum yang berkepanjangan.
Kehidupan Setelah FTX
Sejak meninggalkan reruntuhan industri kripto, Gruhn pindah ke Oregon, di mana ia mengelola sebuah jaringan televisi Katolik Jerman dan sedang mengembangkan bursa derivatif kripto baru di Eropa. Perpindahannya dari FTX mencerminkan pola yang lebih luas di kalangan tokoh industri untuk membangun kembali dan mendiversifikasi portofolio profesional mereka daripada menghilang dari perhatian publik sepenuhnya. Pembelian jam Titanic seharga $1,5 juta ini menunjukkan bagaimana pengusaha teknologi semakin banyak berinvestasi dalam artefak bersejarah dan pelestarian budaya—sebuah tren yang mencerminkan strategi pengelolaan kekayaan secara lebih luas di era pasca-keruntuhan kripto.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Bagaimana Patrick Gruhn Menyalurkan Kekayaannya: Dari FTX Eropa hingga Memorabilia Termahal Titanic
Patrick Gruhn, mantan kepala FTX Eropa, menjadi berita utama bukan karena keterlibatannya dalam keruntuhan dramatis bursa kripto tersebut, tetapi karena membeli salah satu artefak paling dicari dalam sejarah. Pada awal 2026, pengusaha ini menghabiskan $1,5 juta dalam lelang—harga tertinggi yang pernah dibayar untuk memorabilia Titanic—untuk membeli sebuah jam saku emas yang pernah dimiliki oleh John Jacob Astor IV, salah satu penumpang terkaya di kapal tersebut.
Sumber Kekayaan Gruhn
Kemampuan Gruhn untuk melakukan pembelian sebesar ini berasal dari kekayaan yang ia kumpulkan melalui penjualan perusahaan-perusahaannya sendiri, terpisah dari masa jabatannya di FTX Eropa. Perbedaan ini penting: Gruhn secara terbuka menyatakan bahwa dia tidak mengetahui penipuan di FTX sebelum keruntuhan besar bursa tersebut pada November 2022. Berbeda dengan eksekutif FTX lain yang menghadapi pengawasan hukum, posisi keuangan Gruhn tetap independen dari operasi penipuan, sehingga ia dapat mempertahankan dan mengalokasikan modal dari usaha bisnis yang sah.
Akuisisi Titanic yang Bersejarah
Jam yang dibeli Gruhn jauh lebih dari sekadar koleksi mewah—ini adalah bagian dari sejarah maritim yang dipulihkan dari salah satu bencana paling terkenal dalam peradaban manusia. John Jacob Astor IV sedang kembali dari bulan madu di Eropa bersama istrinya yang sedang hamil, Madeleine Astor, ketika Titanic menabrak gunung es pada tahun 1912. Seorang perwira mencegah Astor naik ke sekoci sampai semua wanita dan anak-anak dievakuasi. Ketika tubuhnya ditemukan di laut, jam emas 14 karat itu tetap bersama barang-barangnya, termasuk manset kancing, cincin berlian, dan pensil emas.
Gruhn berencana memamerkan jam dan artefak pendukungnya di museum, mengubah akuisisi pribadi menjadi kontribusi budaya publik. Menurut laporan dari The Wall Street Journal, pembelian ini bukan sekadar kesenangan kolektor tetapi juga investasi dalam pelestarian sejarah.
Upaya Pemulihan FTX dan Penyelesaian Gruhn
Akuisisi ini juga menegaskan pemulihan keuangan Gruhn setelah keruntuhan FTX. Pada Juli 2023, harta pailit FTX menuntut klaim atas kerugian lebih dari $323,5 juta terhadap pimpinan FTX Eropa. Namun, Gruhn dan eksekutif Eropa lainnya mencapai kesepakatan penyelesaian, akhirnya membeli kembali aset-aset FTX Eropa seharga sekitar $33 juta—sebuah solusi yang memungkinkannya melanjutkan tanpa terjerat proses hukum yang berkepanjangan.
Kehidupan Setelah FTX
Sejak meninggalkan reruntuhan industri kripto, Gruhn pindah ke Oregon, di mana ia mengelola sebuah jaringan televisi Katolik Jerman dan sedang mengembangkan bursa derivatif kripto baru di Eropa. Perpindahannya dari FTX mencerminkan pola yang lebih luas di kalangan tokoh industri untuk membangun kembali dan mendiversifikasi portofolio profesional mereka daripada menghilang dari perhatian publik sepenuhnya. Pembelian jam Titanic seharga $1,5 juta ini menunjukkan bagaimana pengusaha teknologi semakin banyak berinvestasi dalam artefak bersejarah dan pelestarian budaya—sebuah tren yang mencerminkan strategi pengelolaan kekayaan secara lebih luas di era pasca-keruntuhan kripto.