Harga emas telah mengalami kenaikan yang luar biasa dalam lima tahun terakhir. Dari sekitar 1800 dolar per ons di awal 2021, naik terus hingga mencapai puncak 5150-5200 dolar di awal 2026, dengan kenaikan total lebih dari 150%, menciptakan tren jangka panjang terbaik dalam hampir 30 tahun. Fluktuasi tajam dalam tren ini bukan sekadar spekulasi jangka pendek, melainkan cerminan dari perubahan mendalam dalam pola geopolitik dan ekonomi global.
Jejak Harga Emas Lima Tahun: Logika di Balik Tiga Kali Mencapai Rekor Sejarah
Untuk memahami mengapa harga emas sangat kuat dalam lima tahun terakhir, pertama kita harus melihat kekuatan dasar yang mendorongnya. Harga emas bukan karena inflasi atau kepanikan jangka pendek, melainkan didukung oleh faktor struktural jangka panjang yang mampu menggoyahkan kepercayaan terhadap mata uang utama dunia.
Menurut data Reuters dan Bloomberg, kenaikan harga emas pada 2024-2025 telah melebihi 30%, mencatat rekor tertinggi dalam hampir 30 tahun, melampaui 31% di 2007 dan 29% di 2010. Setelah 2026, tren kenaikan ini tetap stabil di atas 5000 dolar per ons. Dari awal 2024 yang sekitar 2000 dolar, hingga menembus 5000 dolar saat ini, grafik tren jangka panjang menunjukkan pasar sedang menjalani proses penyesuaian siklus lengkap.
Fenomena ini, di mana harga emas berkali-kali mencetak rekor baru, menunjukkan apa? Singkatnya, emas telah bertransformasi dari aset lindung nilai tradisional menjadi alat hedging jangka panjang terhadap risiko sistem kepercayaan global.
Lapisan Penggerak: Kebijakan, Kepercayaan, dan Investasi
Kekuatan yang mendorong kenaikan emas saat ini berasal dari tiga lapisan, saling memperkuat, membentuk fondasi struktural yang sulit digoyahkan.
Lapisan Pertama: Dorongan Kebijakan
Proteksionisme perdagangan dan kebijakan tarif yang terus berkembang menjadi katalis langsung kenaikan harga emas dalam dua tahun terakhir. Kebijakan tarif yang berkelanjutan meningkatkan ketidakpastian pasar, memperkuat sentimen lindung nilai, dan mendorong harga emas naik. Pengalaman sejarah (seperti perang dagang AS-China 2018) menunjukkan bahwa selama periode ketidakpastian kebijakan, harga emas biasanya naik 5–10% dalam jangka pendek.
Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (Fed) menjadi pendukung penting lainnya. Penurunan suku bunga melemahkan dolar AS, menurunkan biaya peluang memegang emas, sehingga daya tarik emas meningkat. Dalam setiap siklus penurunan suku bunga, harga emas cenderung melonjak—baik di 2008-2011 maupun 2020-2022, ini terbukti. Prediksi untuk 2026 pun memperkirakan 1-2 kali lagi penurunan suku bunga, memberikan dukungan kuat bagi emas.
Perlu diingat, tidak semua berita penurunan suku bunga akan langsung mendorong harga emas naik. Pasar biasanya sudah mengantisipasi ekspektasi tersebut, dan pernyataan pejabat yang hawkish bisa mengubah persepsi pasar terhadap kecepatan penurunan suku bunga. Dalam praktiknya, menggunakan alat CME FedWatch untuk mengikuti perubahan probabilitas penurunan suku bunga dapat membantu menilai tren jangka pendek emas—ketika probabilitas naik, harga cenderung naik, dan sebaliknya.
Lapisan Kedua: Kepercayaan
Kepercayaan terhadap dolar AS secara bertahap menurun, mengubah tatanan aset global. Antara 2025-2026, defisit fiskal AS membesar, debat batas utang sering terjadi, dan tren de-dolarisasi global semakin menguat. Banyak dana mengalir dari aset dolar ke aset keras. Ini bukan fenomena jangka pendek, melainkan perubahan struktural jangka panjang.
Tingginya utang global (hingga 2025, total utang dunia mencapai 307 triliun dolar menurut IMF) membatasi ruang kebijakan suku bunga negara-negara, mendorong kebijakan moneter yang longgar, dan menurunkan suku bunga riil secara tidak langsung meningkatkan daya tarik emas. Tindakan bank sentral juga menguatkan analisis ini—menurut laporan World Gold Council (WGC), pada 2025, pembelian bersih emas oleh bank sentral global melebihi 1200 ton, menandai tahun keempat berturut-turut angka ini melampaui seribu ton.
Dalam survei cadangan emas bank sentral 2025 yang dirilis WGC, 76% bank sentral menyatakan akan meningkatkan proporsi emas secara moderat atau signifikan dalam lima tahun ke depan, dan mayoritas juga memperkirakan penurunan proporsi cadangan dolar. Ini bukan tindakan jangka pendek, melainkan strategi kolektif bank sentral global.
Lapisan Ketiga: Investasi
Pasar saham sudah berada di level tertinggi sejarah, jumlah pemimpin pasar terbatas, dan risiko konsentrasi portofolio semakin meningkat. Meski ini tidak otomatis berarti pasar saham akan segera koreksi, kerugian pasar akan berdampak sangat besar jika terjadi. Dalam konteks ini, banyak investor menempatkan emas untuk stabilitas portofolio.
Selain itu, media dan opini publik turut mendorong masuknya dana secara besar-besaran. Berita dan sentimen yang terus-menerus memanas menyebabkan kapital besar mengalir tanpa ragu ke pasar emas, menciptakan tren kenaikan berkelanjutan. Arus dana jangka pendek ini sangat terlihat di instrumen seperti XAU/USD.
Gelombang Pembelian Emas oleh Bank Sentral: Isyarat Hedging Risiko Sistemik Jangka Panjang
Berbeda dari spekulasi jangka pendek investor, aksi pembelian emas oleh bank sentral menunjukkan penilaian strategis terhadap lima tahun ke depan atau lebih panjang. Lonjakan pembelian emas oleh bank sentral sejak 2022 tidak pernah berhenti.
Apa maknanya? Jawaban sederhananya adalah: keraguan jangka panjang terhadap sistem dolar AS. Ketika institusi keuangan terbesar dunia mulai menambah cadangan emas, itu menunjukkan mereka sedang bersiap menghadapi dunia yang semakin tidak pasti. Inflasi yang menempel, tekanan utang, ketegangan geopolitik—semua masalah ini tetap ada, dan tren pembelian emas oleh bank sentral di 2026 tidak akan hilang secara tiba-tiba.
Hasilnya: dasar harga emas terus meningkat, penurunan saat pasar bearish terbatas, dan tren bullish tetap kuat.
Risiko Geopolitik dan Ekonomi: Permintaan Hedging yang Terus Meningkat
Perang Rusia-Ukraina berlanjut, konflik di Timur Tengah meningkat, dan ketegangan regional terus memanas, menjaga permintaan lindung nilai tetap tinggi. Peristiwa geopolitik sering memicu lonjakan harga emas jangka pendek, dan faktor ini di 2025-2026 tidak berkurang, malah diperkuat oleh kerentanan rantai pasok global.
Selain itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan tekanan inflasi memaksa bank sentral di berbagai negara menghadapi dilema kebijakan. Ini semakin memperkokoh posisi emas sebagai alat hedging jangka panjang.
Prospek 5 Tahun ke Depan: Target Harga Institusi dari 5400 hingga 6500 dolar
Sejak 2026, harga spot emas (XAU/USD) telah beberapa kali mencetak rekor baru, stabil di atas 5150-5200 dolar per ons. Para analis umumnya optimis untuk sisa 2026, memperkirakan tren kenaikan berlanjut didukung oleh faktor struktural yang mendorong bull market selama dua tahun terakhir.
Prediksi industri:
Rata-rata harga 2026: 5200–5600 dolar per ons
Target akhir tahun: biasanya 5400–5800 dolar, dengan prediksi lebih optimis mencapai 6000–6500 dolar
Prediksi ekstrem: jika risiko geopolitik meningkat atau dolar melemah tajam, beberapa institusi percaya harga bisa menembus 6500 dolar
Prediksi lembaga keuangan utama (terkini):
Goldman Sachs menaikkan target akhir tahun dari 5400 menjadi 5700 dolar, didukung pembelian bank sentral dan penurunan hasil riil. JPMorgan memperkirakan mencapai 5550 dolar di kuartal keempat, didukung aliran dana ETF dan permintaan lindung nilai. Citibank memproyeksikan rata-rata 5800 dolar di semester kedua, dengan risiko kenaikan hingga 6200 dolar jika terjadi resesi atau inflasi tinggi. UBS lebih konservatif, target akhir tahun 5300 dolar, tetapi mengakui jika penurunan suku bunga dipercepat, target ini bisa terlalu rendah.
World Gold Council dan London Bullion Market Association memperkirakan harga rata-rata tahun ini sekitar 5450 dolar, meningkat signifikan dari survei sebelumnya.
Strategi Investasi Berlapis: Sesuaikan dengan Risiko dan Tujuan
Setelah memahami logika tren emas, pertanyaan utama adalah: sebagai investor ritel, apakah masih layak membeli sekarang? Jawabannya tidak sekadar ya atau tidak, melainkan tergantung pada jangka waktu investasi dan toleransi risiko.
Jika Anda adalah trader berpengalaman:
Volatilitas pasar memberi peluang jangka pendek yang baik. Likuiditas cukup, arah kenaikan dan penurunan relatif mudah diprediksi, terutama saat volatilitas ekstrem. Trader berpengalaman bisa memanfaatkan momentum ini untuk meraih keuntungan dari fluktuasi.
Jika Anda pemula dan ingin ikut tren:
Pastikan mulai dengan modal kecil, jangan gegabah menambah posisi. Jika mental tidak kuat, risiko kehilangan seluruh modal sangat besar. Pelajari penggunaan kalender ekonomi untuk mengikuti data ekonomi AS secara tepat, dan terapkan stop-loss secara disiplin.
Jika Anda ingin memegang emas fisik untuk jangka panjang:
Harus siap menghadapi volatilitas besar. Secara jangka panjang, tren naik tetap ada, tapi harus siap menghadapi fluktuasi tajam di tengah jalan. Rata-rata volatilitas tahunan emas sekitar 19.4%, lebih tinggi dari S&P 500 yang 14.7%.
Jika ingin alokasikan emas dalam portofolio:
Boleh saja, tapi ingat volatilitas emas tidak lebih rendah dari saham. Mengalokasikan seluruh kekayaan ke emas bukan pilihan bijak. Diversifikasi tetap disarankan.
Jika ingin maksimalkan keuntungan:
Bisa memegang secara jangka panjang sekaligus memanfaatkan peluang trading jangka pendek saat volatilitas meningkat, terutama menjelang data ekonomi utama. Tapi ini membutuhkan pengalaman dan kemampuan pengelolaan risiko.
Tips Utama: Volatilitas adalah Keniscayaan, Jangka Panjang adalah Kunci
Grafik tren lima tahun emas menunjukkan jalur spiral naik, bukan garis lurus mulus. Setiap investor harus ingat poin-poin berikut:
Pertama, volatilitas harga emas tidak lebih kecil dari saham, dengan rata-rata volatilitas tahunan 19.4%. Pada 2025, harga sempat koreksi 10–15% akibat ekspektasi kebijakan Fed, dan di 2026, jika suku bunga riil rebound atau krisis mereda, volatilitas tetap tinggi.
Kedua, siklus emas sangat panjang. Saat menempatkan dana untuk menjaga nilai, perlu dilihat dalam kerangka waktu 10 tahun atau lebih agar mencapai hasil yang diharapkan. Dalam periode ini, harga bisa berlipat ganda atau bahkan terpangkas setengahnya. Fluktuasi jangka pendek tidak menentukan tren jangka panjang.
Ketiga, biaya transaksi emas fisik relatif tinggi, biasanya 5–20%. Ini berarti frekuensi transaksi akan mengurangi keuntungan.
Bagi investor di Taiwan, memperhitungkan fluktuasi nilai tukar dolar AS/TWD juga penting, karena dapat mempengaruhi hasil akhir. Dukungan dari bank sentral, sentimen lindung nilai, dan ketidakpastian kebijakan tetap membuat tren emas di 2026 tetap kokoh. Tapi yang terpenting adalah memiliki sistem untuk memantau pasar secara sistematis, bukan sekadar mengikuti berita secara impulsif. Tren emas saat ini, meskipun didorong oleh penurunan suku bunga, inflasi, dan risiko geopolitik, sebenarnya mencerminkan keretakan sistem kepercayaan global. Investor yang sistematis akan unggul dalam memahami tren jangka panjang, bukan sekadar memprediksi fluktuasi jangka pendek.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Pergerakan harga emas selama 5 tahun mengalami perubahan besar: dari menembus $2000 menjadi melewati $5000, apakah masih ada ruang di tahun 2026?
Harga emas telah mengalami kenaikan yang luar biasa dalam lima tahun terakhir. Dari sekitar 1800 dolar per ons di awal 2021, naik terus hingga mencapai puncak 5150-5200 dolar di awal 2026, dengan kenaikan total lebih dari 150%, menciptakan tren jangka panjang terbaik dalam hampir 30 tahun. Fluktuasi tajam dalam tren ini bukan sekadar spekulasi jangka pendek, melainkan cerminan dari perubahan mendalam dalam pola geopolitik dan ekonomi global.
Jejak Harga Emas Lima Tahun: Logika di Balik Tiga Kali Mencapai Rekor Sejarah
Untuk memahami mengapa harga emas sangat kuat dalam lima tahun terakhir, pertama kita harus melihat kekuatan dasar yang mendorongnya. Harga emas bukan karena inflasi atau kepanikan jangka pendek, melainkan didukung oleh faktor struktural jangka panjang yang mampu menggoyahkan kepercayaan terhadap mata uang utama dunia.
Menurut data Reuters dan Bloomberg, kenaikan harga emas pada 2024-2025 telah melebihi 30%, mencatat rekor tertinggi dalam hampir 30 tahun, melampaui 31% di 2007 dan 29% di 2010. Setelah 2026, tren kenaikan ini tetap stabil di atas 5000 dolar per ons. Dari awal 2024 yang sekitar 2000 dolar, hingga menembus 5000 dolar saat ini, grafik tren jangka panjang menunjukkan pasar sedang menjalani proses penyesuaian siklus lengkap.
Fenomena ini, di mana harga emas berkali-kali mencetak rekor baru, menunjukkan apa? Singkatnya, emas telah bertransformasi dari aset lindung nilai tradisional menjadi alat hedging jangka panjang terhadap risiko sistem kepercayaan global.
Lapisan Penggerak: Kebijakan, Kepercayaan, dan Investasi
Kekuatan yang mendorong kenaikan emas saat ini berasal dari tiga lapisan, saling memperkuat, membentuk fondasi struktural yang sulit digoyahkan.
Lapisan Pertama: Dorongan Kebijakan
Proteksionisme perdagangan dan kebijakan tarif yang terus berkembang menjadi katalis langsung kenaikan harga emas dalam dua tahun terakhir. Kebijakan tarif yang berkelanjutan meningkatkan ketidakpastian pasar, memperkuat sentimen lindung nilai, dan mendorong harga emas naik. Pengalaman sejarah (seperti perang dagang AS-China 2018) menunjukkan bahwa selama periode ketidakpastian kebijakan, harga emas biasanya naik 5–10% dalam jangka pendek.
Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (Fed) menjadi pendukung penting lainnya. Penurunan suku bunga melemahkan dolar AS, menurunkan biaya peluang memegang emas, sehingga daya tarik emas meningkat. Dalam setiap siklus penurunan suku bunga, harga emas cenderung melonjak—baik di 2008-2011 maupun 2020-2022, ini terbukti. Prediksi untuk 2026 pun memperkirakan 1-2 kali lagi penurunan suku bunga, memberikan dukungan kuat bagi emas.
Perlu diingat, tidak semua berita penurunan suku bunga akan langsung mendorong harga emas naik. Pasar biasanya sudah mengantisipasi ekspektasi tersebut, dan pernyataan pejabat yang hawkish bisa mengubah persepsi pasar terhadap kecepatan penurunan suku bunga. Dalam praktiknya, menggunakan alat CME FedWatch untuk mengikuti perubahan probabilitas penurunan suku bunga dapat membantu menilai tren jangka pendek emas—ketika probabilitas naik, harga cenderung naik, dan sebaliknya.
Lapisan Kedua: Kepercayaan
Kepercayaan terhadap dolar AS secara bertahap menurun, mengubah tatanan aset global. Antara 2025-2026, defisit fiskal AS membesar, debat batas utang sering terjadi, dan tren de-dolarisasi global semakin menguat. Banyak dana mengalir dari aset dolar ke aset keras. Ini bukan fenomena jangka pendek, melainkan perubahan struktural jangka panjang.
Tingginya utang global (hingga 2025, total utang dunia mencapai 307 triliun dolar menurut IMF) membatasi ruang kebijakan suku bunga negara-negara, mendorong kebijakan moneter yang longgar, dan menurunkan suku bunga riil secara tidak langsung meningkatkan daya tarik emas. Tindakan bank sentral juga menguatkan analisis ini—menurut laporan World Gold Council (WGC), pada 2025, pembelian bersih emas oleh bank sentral global melebihi 1200 ton, menandai tahun keempat berturut-turut angka ini melampaui seribu ton.
Dalam survei cadangan emas bank sentral 2025 yang dirilis WGC, 76% bank sentral menyatakan akan meningkatkan proporsi emas secara moderat atau signifikan dalam lima tahun ke depan, dan mayoritas juga memperkirakan penurunan proporsi cadangan dolar. Ini bukan tindakan jangka pendek, melainkan strategi kolektif bank sentral global.
Lapisan Ketiga: Investasi
Pasar saham sudah berada di level tertinggi sejarah, jumlah pemimpin pasar terbatas, dan risiko konsentrasi portofolio semakin meningkat. Meski ini tidak otomatis berarti pasar saham akan segera koreksi, kerugian pasar akan berdampak sangat besar jika terjadi. Dalam konteks ini, banyak investor menempatkan emas untuk stabilitas portofolio.
Selain itu, media dan opini publik turut mendorong masuknya dana secara besar-besaran. Berita dan sentimen yang terus-menerus memanas menyebabkan kapital besar mengalir tanpa ragu ke pasar emas, menciptakan tren kenaikan berkelanjutan. Arus dana jangka pendek ini sangat terlihat di instrumen seperti XAU/USD.
Gelombang Pembelian Emas oleh Bank Sentral: Isyarat Hedging Risiko Sistemik Jangka Panjang
Berbeda dari spekulasi jangka pendek investor, aksi pembelian emas oleh bank sentral menunjukkan penilaian strategis terhadap lima tahun ke depan atau lebih panjang. Lonjakan pembelian emas oleh bank sentral sejak 2022 tidak pernah berhenti.
Apa maknanya? Jawaban sederhananya adalah: keraguan jangka panjang terhadap sistem dolar AS. Ketika institusi keuangan terbesar dunia mulai menambah cadangan emas, itu menunjukkan mereka sedang bersiap menghadapi dunia yang semakin tidak pasti. Inflasi yang menempel, tekanan utang, ketegangan geopolitik—semua masalah ini tetap ada, dan tren pembelian emas oleh bank sentral di 2026 tidak akan hilang secara tiba-tiba.
Hasilnya: dasar harga emas terus meningkat, penurunan saat pasar bearish terbatas, dan tren bullish tetap kuat.
Risiko Geopolitik dan Ekonomi: Permintaan Hedging yang Terus Meningkat
Perang Rusia-Ukraina berlanjut, konflik di Timur Tengah meningkat, dan ketegangan regional terus memanas, menjaga permintaan lindung nilai tetap tinggi. Peristiwa geopolitik sering memicu lonjakan harga emas jangka pendek, dan faktor ini di 2025-2026 tidak berkurang, malah diperkuat oleh kerentanan rantai pasok global.
Selain itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan tekanan inflasi memaksa bank sentral di berbagai negara menghadapi dilema kebijakan. Ini semakin memperkokoh posisi emas sebagai alat hedging jangka panjang.
Prospek 5 Tahun ke Depan: Target Harga Institusi dari 5400 hingga 6500 dolar
Sejak 2026, harga spot emas (XAU/USD) telah beberapa kali mencetak rekor baru, stabil di atas 5150-5200 dolar per ons. Para analis umumnya optimis untuk sisa 2026, memperkirakan tren kenaikan berlanjut didukung oleh faktor struktural yang mendorong bull market selama dua tahun terakhir.
Prediksi industri:
Prediksi lembaga keuangan utama (terkini):
Goldman Sachs menaikkan target akhir tahun dari 5400 menjadi 5700 dolar, didukung pembelian bank sentral dan penurunan hasil riil. JPMorgan memperkirakan mencapai 5550 dolar di kuartal keempat, didukung aliran dana ETF dan permintaan lindung nilai. Citibank memproyeksikan rata-rata 5800 dolar di semester kedua, dengan risiko kenaikan hingga 6200 dolar jika terjadi resesi atau inflasi tinggi. UBS lebih konservatif, target akhir tahun 5300 dolar, tetapi mengakui jika penurunan suku bunga dipercepat, target ini bisa terlalu rendah.
World Gold Council dan London Bullion Market Association memperkirakan harga rata-rata tahun ini sekitar 5450 dolar, meningkat signifikan dari survei sebelumnya.
Strategi Investasi Berlapis: Sesuaikan dengan Risiko dan Tujuan
Setelah memahami logika tren emas, pertanyaan utama adalah: sebagai investor ritel, apakah masih layak membeli sekarang? Jawabannya tidak sekadar ya atau tidak, melainkan tergantung pada jangka waktu investasi dan toleransi risiko.
Jika Anda adalah trader berpengalaman:
Volatilitas pasar memberi peluang jangka pendek yang baik. Likuiditas cukup, arah kenaikan dan penurunan relatif mudah diprediksi, terutama saat volatilitas ekstrem. Trader berpengalaman bisa memanfaatkan momentum ini untuk meraih keuntungan dari fluktuasi.
Jika Anda pemula dan ingin ikut tren:
Pastikan mulai dengan modal kecil, jangan gegabah menambah posisi. Jika mental tidak kuat, risiko kehilangan seluruh modal sangat besar. Pelajari penggunaan kalender ekonomi untuk mengikuti data ekonomi AS secara tepat, dan terapkan stop-loss secara disiplin.
Jika Anda ingin memegang emas fisik untuk jangka panjang:
Harus siap menghadapi volatilitas besar. Secara jangka panjang, tren naik tetap ada, tapi harus siap menghadapi fluktuasi tajam di tengah jalan. Rata-rata volatilitas tahunan emas sekitar 19.4%, lebih tinggi dari S&P 500 yang 14.7%.
Jika ingin alokasikan emas dalam portofolio:
Boleh saja, tapi ingat volatilitas emas tidak lebih rendah dari saham. Mengalokasikan seluruh kekayaan ke emas bukan pilihan bijak. Diversifikasi tetap disarankan.
Jika ingin maksimalkan keuntungan:
Bisa memegang secara jangka panjang sekaligus memanfaatkan peluang trading jangka pendek saat volatilitas meningkat, terutama menjelang data ekonomi utama. Tapi ini membutuhkan pengalaman dan kemampuan pengelolaan risiko.
Tips Utama: Volatilitas adalah Keniscayaan, Jangka Panjang adalah Kunci
Grafik tren lima tahun emas menunjukkan jalur spiral naik, bukan garis lurus mulus. Setiap investor harus ingat poin-poin berikut:
Pertama, volatilitas harga emas tidak lebih kecil dari saham, dengan rata-rata volatilitas tahunan 19.4%. Pada 2025, harga sempat koreksi 10–15% akibat ekspektasi kebijakan Fed, dan di 2026, jika suku bunga riil rebound atau krisis mereda, volatilitas tetap tinggi.
Kedua, siklus emas sangat panjang. Saat menempatkan dana untuk menjaga nilai, perlu dilihat dalam kerangka waktu 10 tahun atau lebih agar mencapai hasil yang diharapkan. Dalam periode ini, harga bisa berlipat ganda atau bahkan terpangkas setengahnya. Fluktuasi jangka pendek tidak menentukan tren jangka panjang.
Ketiga, biaya transaksi emas fisik relatif tinggi, biasanya 5–20%. Ini berarti frekuensi transaksi akan mengurangi keuntungan.
Bagi investor di Taiwan, memperhitungkan fluktuasi nilai tukar dolar AS/TWD juga penting, karena dapat mempengaruhi hasil akhir. Dukungan dari bank sentral, sentimen lindung nilai, dan ketidakpastian kebijakan tetap membuat tren emas di 2026 tetap kokoh. Tapi yang terpenting adalah memiliki sistem untuk memantau pasar secara sistematis, bukan sekadar mengikuti berita secara impulsif. Tren emas saat ini, meskipun didorong oleh penurunan suku bunga, inflasi, dan risiko geopolitik, sebenarnya mencerminkan keretakan sistem kepercayaan global. Investor yang sistematis akan unggul dalam memahami tren jangka panjang, bukan sekadar memprediksi fluktuasi jangka pendek.