Pasar saat ini umumnya optimistis terhadap kinerja Renminbi, banyak bank investasi internasional secara berturut-turut meningkatkan ekspektasi apresiasi dolar AS terhadap Renminbi. Dari Deutsche Bank, Morgan Stanley hingga Goldman Sachs, analisis terbaru dari lembaga-lembaga otoritatif ini menunjukkan satu kesimpulan bersama: siklus depresiasi yang dimulai pada 2022 sedang berbalik arah, dan Renminbi berpotensi memasuki jalur apresiasi jangka menengah-panjang. Perubahan ini didukung oleh logika ekonomi dan kebijakan yang mendalam, yang layak dipahami secara mendalam oleh investor.
Bank Investasi Internasional Optimistis terhadap Penguatan Renminbi, Pergerakan Nilai Tukar USD terhadap RMB Berbalik Arah
Prediksi terbaru dari berbagai lembaga otoritatif memberikan dukungan kuat terhadap penguatan Renminbi. Analisis Deutsche Bank menunjukkan bahwa tren penguatan RMB terhadap USD baru-baru ini mungkin menandai dimulainya siklus apresiasi jangka panjang. Bank ini memperkirakan bahwa nilai tukar RMB terhadap USD akan naik ke 7,0 pada akhir 2025 dan selanjutnya ke 6,7 pada akhir 2026.
Morgan Stanley lebih tegas, memperkirakan Renminbi akan menunjukkan tren apresiasi yang moderat, dan memperkirakan dolar AS akan terus melemah dalam dua tahun ke depan. Berdasarkan prediksi mereka, indeks dolar kemungkinan akan turun ke 89 pada akhir 2026, dan nilai tukar RMB terhadap USD berpotensi mencapai sekitar 7,05.
Pandangan Goldman Sachs sangat menarik perhatian. Kepala Strategi Valuta Asing Global Goldman Sachs, Kamakshya Trivedi, dalam laporan Mei, secara signifikan menaikkan ekspektasi, dari 7,35 menjadi 7,0 untuk nilai tukar USD terhadap RMB dalam 12 bulan ke depan, dan memprediksi bahwa momen “tembus 7” mungkin akan datang lebih cepat dari yang diperkirakan pasar. Logika Goldman Sachs adalah bahwa nilai tukar efektif nyata RMB saat ini undervalued sebesar 12% dibandingkan rata-rata 10 tahun, dan terhadap dolar AS bahkan lebih undervalued, mencapai 15%.
Berdasarkan kemajuan positif dalam negosiasi perdagangan China-AS dan kondisi undervaluasi RMB saat ini, Goldman Sachs memperkirakan bahwa dalam 12 bulan ke depan, nilai tukar RMB terhadap USD akan naik ke 7,0. Selain itu, mereka percaya bahwa kinerja ekspor China yang kuat akan mendukung RMB, sementara pemerintah China lebih cenderung menggunakan kebijakan lain untuk merangsang ekonomi daripada melakukan devaluasi mata uang. Goldman Sachs juga memberikan target harga yang lebih spesifik: target 3 bulan di 7,2 dan 6 bulan di 7,1.
Siklus Penguatan Renminbi: Tinjauan Pergerakan Nilai Tukar 5 Tahun dan Analisis Titik Balik
Untuk memahami makna pergerakan nilai tukar USD terhadap RMB saat ini, perlu menelusuri perubahan pasar selama lima tahun terakhir. Sejarah ini secara jelas menggambarkan siklus lengkap dari apresiasi, depresiasi, hingga rebound RMB.
Fase rebound cepat 2020, di mana nilai tukar USD terhadap RMB berfluktuasi antara 6,9 dan 7,0 di awal tahun, dipicu oleh ketegangan perdagangan China-AS dan dampak pandemi. Pada Mei, RMB sempat melemah ke 7,18. Namun, dengan China yang cepat mengendalikan pandemi dan memulai pemulihan ekonomi, ditambah Federal Reserve yang menurunkan suku bunga ke hampir nol sementara China mempertahankan kebijakan moneter yang stabil, selisih suku bunga yang melebar menjadi pendukung utama penguatan RMB. Efek kebijakan ini mendorong RMB rebound kuat ke sekitar 6,50 di akhir tahun, menguat sekitar 6% sepanjang tahun.
Tahun 2021, periode konsolidasi di level tinggi, di mana ekspor China tetap kuat dan ekonomi menunjukkan tren positif, sementara indeks dolar tetap rendah. Pada periode ini, nilai tukar USD/RMB berfluktuasi sempit antara 6,35 dan 6,58, dengan rata-rata sekitar 6,45, menunjukkan RMB tetap relatif kuat.
2022 menjadi tahun paling volatil dalam lima tahun terakhir, dengan depresiasi besar. USD/RMB naik dari 6,35 ke di atas 7,25, menandai depresiasi sekitar 8%, dan mencatat penurunan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Penyebab utama adalah kenaikan suku bunga agresif Federal Reserve yang mendorong indeks dolar naik, sementara kebijakan ketat China dalam pandemi dan krisis properti memperburuk sentimen pasar dan memperlambat ekonomi.
2023, periode depresiasi berlanjut, dengan USD/RMB berfluktuasi antara 6,83 dan 7,35, dengan rata-rata sekitar 7,0, dan sedikit menguat ke sekitar 7,1 di akhir tahun. Pemulihan ekonomi China pasca pandemi tidak sesuai harapan, krisis utang properti berlarut-larut, konsumsi lemah, sementara suku bunga tinggi AS tetap dipertahankan, menyebabkan indeks dolar di kisaran 100–104 dan RMB tetap tertekan.
2024, menunjukkan volatilitas meningkat sebagai tanda awal perubahan. Dolar AS mulai melemah, mengurangi tekanan terhadap RMB, sementara langkah stimulus fiskal China dan kebijakan dukungan properti meningkatkan kepercayaan pasar. Nilai tukar USD/RMB dari 7,1 naik ke sekitar 7,3 di pertengahan tahun, dan RMB di luar negeri menembus 7,10 pada Agustus, mencatat level tertinggi semester, dengan volatilitas yang meningkat secara signifikan.
Dari evolusi lima tahun ini, 2022 merupakan titik balik yang menentukan. Setelah itu, meskipun RMB masih dalam tren depresiasi, sinyal rebound semakin jelas, menyiapkan dasar bagi dimulainya siklus apresiasi saat ini.
Pergerakan RMB 2025 dan Ciri-Ciri Titik Balik
Tahun 2025 adalah tahun kunci untuk pergerakan nilai tukar RMB. Sepanjang tahun, USD/RMB berfluktuasi antara 7,1 dan 7,3, menunjukkan ketahanan tertentu, dengan apresiasi total sekitar 2,40%. Tren penguatan ini mematahkan tren depresiasi selama tiga tahun berturut-turut dari 2022 hingga 2024, menandai titik balik penting.
Dari performa pasar luar negeri, nilai tukar USD terhadap RMB di luar negeri berfluktuasi antara 7,1 dan 7,4, dengan apresiasi sekitar 2,80%, sedikit lebih tinggi dari pasar dalam negeri. Hal ini mencerminkan bahwa RMB di luar negeri lebih sensitif terhadap faktor makro global, dan perbedaan ini patut diperhatikan.
Pada akhir November 2025, didorong oleh perbaikan hubungan perdagangan China-AS dan ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve, tren penguatan RMB terhadap USD meningkat tajam, nilai tukar sempat turun di bawah 7,08, bahkan menyentuh 7,0765, level terendah dalam setahun terakhir. Breakthrough ini memiliki arti teknis penting, menandakan pasar mulai mengkonsumsi ekspektasi apresiasi sebelumnya.
Pada semester pertama, tekanan terhadap RMB muncul dari ketidakpastian kebijakan tarif global dan penguatan indeks dolar. RMB sempat menembus level 7,40, dan USD/RMB mencapai level tertinggi sejak 2022, bahkan mencatat rekor sejak “Reform 8.11” tahun 2015. Tahap ini menunjukkan tingkat ekspektasi depresiasi RMB yang cukup serius.
Titik balik terjadi di semester kedua, saat negosiasi perdagangan China-AS secara bertahap membaik, hubungan kedua negara menunjukkan tanda-tanda mereda, dan tren penguatan dolar mulai berbalik. Dengan penguatan mata uang utama non-AS seperti euro dan pound, RMB terhadap USD juga mulai menguat secara moderat, dan suasana pasar menjadi lebih stabil.
Faktor Inti yang Mempengaruhi Nilai Tukar USD terhadap RMB 2026
Pergerakan masa depan USD/RMB dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait, baik dari lingkungan eksternal maupun kebijakan domestik.
Perkembangan indeks dolar adalah faktor utama. Dalam lima bulan pertama 2025, indeks dolar turun 9%, mencatat awal tahun terburuk dalam sejarah. Pasar umumnya memperkirakan bahwa siklus penurunan suku bunga Federal Reserve akan mendorong suku bunga jangka pendek turun, yang berarti dolar kemungkinan akan terus melemah dalam 12 bulan ke depan. Tren ini akan mendukung penguatan mata uang Asia termasuk RMB.
Perkembangan hubungan China-AS dan kebijakan perdagangan juga menjadi variabel penting. Meski setelah pertemuan di London kedua negara kembali berdamai, ketegangan ini masih berpotensi kembali. Kesepakatan yang dicapai pada Mei lalu di Jenewa pun pernah pecah dengan cepat, menunjukkan risiko fluktuasi tetap ada. Jika negosiasi berhasil meredakan konflik tarif, RMB berpotensi menguat; jika ketegangan meningkat, tekanan depresiasi akan berlanjut.
Penyesuaian kebijakan Federal Reserve juga berpengaruh besar. Pada paruh kedua 2024, Fed sudah memberi sinyal penurunan suku bunga, tetapi besaran dan kecepatan penurunan di 2025 akan bergantung pada data inflasi, pasar tenaga kerja, dan kebijakan pemerintah Trump. Jika inflasi tetap tinggi, Fed mungkin menahan suku bunga tinggi atau memperlambat penurunan, menguatkan dolar. Sebaliknya, jika ekonomi melambat, penurunan suku bunga akan dipercepat dan melemahkan dolar. Hubungan RMB dan indeks dolar biasanya berlawanan.
Kebijakan Bank Sentral China juga sangat penting. Bank sentral cenderung menjaga kebijakan longgar untuk mendukung pemulihan ekonomi, terutama di tengah lemahnya pasar properti dan permintaan domestik. Bank sentral mungkin menurunkan suku bunga atau rasio cadangan untuk menambah likuiditas, yang biasanya memberi tekanan depresiasi terhadap RMB. Namun, jika kebijakan longgar ini dipadukan dengan stimulus fiskal yang lebih kuat dan stabilitas ekonomi, RMB jangka panjang bisa menguat. Selain itu, percepatan internasionalisasi RMB, termasuk peningkatan penggunaan dalam pembayaran global dan perluasan perjanjian swap mata uang dengan negara lain, dapat mendukung stabilitas RMB dalam jangka menengah-panjang.
Apakah Penguatan RMB Layak Dijadikan Investasi — Analisis Waktu dan Peluang
Dalam kondisi saat ini, berinvestasi dalam pasangan mata uang terkait RMB bisa menguntungkan, asalkan mampu menangkap waktu yang tepat. Dalam jangka pendek, RMB diperkirakan akan tetap relatif kuat, berfluktuasi berlawanan dengan dolar AS dalam kisaran terbatas.
Berdasarkan kondisi pasar saat ini, kemungkinan RMB akan cepat menguat ke bawah 7,0 sebelum akhir 2026 relatif kecil. Artinya, investor harus bersiap untuk posisi menengah, bukan berharap keuntungan cepat. Faktor utama yang perlu diperhatikan adalah: pergerakan indeks dolar, sinyal pengaturan nilai tengah RMB, dan kekuatan serta kecepatan kebijakan stabilisasi pertumbuhan China.
Empat Metode Utama Menilai Pergerakan Nilai Tukar RMB
Lebih baik mengajarkan orang cara berpikir sendiri daripada sekadar memberi tahu apa yang harus dilakukan. Daripada mengikuti opini orang lain, investor sebaiknya belajar menilai sendiri pergerakan USD/RMB. Terlepas dari fluktuasi pasar, ada beberapa aspek utama yang bisa digunakan untuk menilai:
Pertama, mengikuti perubahan kebijakan moneter People’s Bank of China (PBOC). Sebagai bank sentral China, kebijakan PBOC langsung mempengaruhi pasokan uang, dan permintaan serta penawaran uang ini akan mempengaruhi nilai tukar. Ketika kebijakan longgar (seperti penurunan suku bunga atau rasio cadangan), ekspektasi peningkatan pasokan uang akan melemahkan RMB; sebaliknya, kebijakan ketat (seperti kenaikan suku bunga atau peningkatan rasio cadangan) akan mendorong RMB menguat. Pada November 2014, PBOC memulai siklus pelonggaran dengan menurunkan suku bunga pinjaman sebanyak 6 kali dan terus menurunkan rasio cadangan, yang menyebabkan USD/RMB dari sekitar 6 naik ke hampir 7,4, menunjukkan pengaruh besar kebijakan moneter terhadap nilai tukar.
Kedua, memperhatikan data ekonomi China. Ketika ekonomi China stabil dan tumbuh lebih baik dari pasar negara berkembang lain, akan menarik investasi asing dan meningkatkan permintaan RMB, menguatkan RMB. Sebaliknya, perlambatan ekonomi atau daya tarik relatif yang menurun akan mengurangi aliran masuk modal dan permintaan RMB. Data penting meliputi:
GDP: dirilis triwulanan, mencerminkan kondisi ekonomi nasional
PMI: resmi dan swasta, menunjukkan kondisi perusahaan besar dan kecil
CPI: inflasi, mengindikasikan suhu ekonomi dan potensi kebijakan
Investasi aset tetap: dari Biro Statistik Nasional, menunjukkan aktivitas ekonomi
Ketiga, mengikuti pergerakan dolar dan faktor pendorongnya. Fluktuasi dolar langsung mempengaruhi USD/RMB. Kebijakan moneter Fed dan ECB adalah faktor utama. Contohnya, awal 2017, ekonomi Zona Euro pulih dari krisis utang, pertumbuhan melebihi AS, dan ECB memberi sinyal pengetatan, mendorong euro naik dan indeks dolar melemah. Dana mengalir dari dolar ke euro, menyebabkan indeks dolar turun 15% sepanjang tahun, dan USD/RMB mengikuti tren penurunan yang sama, menunjukkan korelasi tinggi.
Keempat, memahami kebijakan resmi terhadap nilai tukar RMB. Berbeda dari mata uang yang bebas diperdagangkan, RMB sejak 1978 mengalami berbagai reformasi pengelolaan nilai tukar. Pada 26 Mei 2017, otoritas mengubah model penetapan nilai tengah RMB menjadi “penutupan harga + perubahan nilai keranjang mata uang + faktor siklus balik”, yang mengurangi perilaku siklus dan memperkuat panduan resmi. Pengaturan ini mempengaruhi jangka pendek, tetapi tren jangka panjang tetap mengikuti arah pasar uang.
Cara Berinvestasi dalam Tren Penguatan RMB — Panduan Diversifikasi Saluran
Bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang apresiasi USD terhadap RMB, tersedia berbagai saluran investasi:
Investasi valuta asing melalui bank adalah cara paling tradisional. Investor dapat membuka rekening valas di bank lokal maupun internasional dan melakukan transaksi serta investasi valas di sana.
Bekerja sama dengan broker forex menawarkan fleksibilitas lebih besar. Broker ini menyediakan platform trading online lengkap dengan alat analisis, memungkinkan investor membuka posisi long dan short. Dengan leverage, potensi keuntungan bisa lebih besar, tetapi risiko juga meningkat. Pemilihan broker harus memperhatikan regulasi, legalitas, dan skala platform. Contohnya, Mitrade, XTB, Admirals, Plus500, IG adalah platform yang baik. Mitrade, misalnya, diatur oleh CIMA, menawarkan leverage 1-200, spread rendah, dan fitur pengelolaan risiko lengkap. Bonus pendaftaran dan akun demo juga tersedia.
Perusahaan sekuritas dan bursa berjangka juga menyediakan layanan trading forex dan forex futures, memberi alternatif lain untuk diversifikasi.
Ringkasan dan Saran Investasi
Dalam konteks kemungkinan dimulainya siklus penguatan RMB, prediksi pergerakan USD/RMB dari berbagai bank investasi internasional menunjukkan konsensus positif, dan performa penguatan di 2025 memperkuat sinyal bahwa RMB sedang memasuki jalur apresiasi jangka menengah-panjang.
Daya dorong utama adalah: ketahanan ekspor China, minat kembali investasi asing dalam aset RMB, dan pelemahan struktural indeks dolar. Faktor lain seperti hubungan China-AS, kebijakan Fed, dan proses internasionalisasi RMB juga perlu diikuti secara cermat.
Saat ini, investor berada di posisi titik balik pergerakan USD/RMB. Dengan memahami empat dimensi utama: kebijakan moneter, data ekonomi, tren dolar, dan kebijakan resmi, mereka dapat menilai prospek pasar secara mandiri. Seiring RMB menguat secara bertahap, peluang berpartisipasi melalui bank, broker, maupun pasar futures terbuka lebar. Yang terpenting adalah terus memantau pergerakan USD/RMB dan menyesuaikan strategi secara fleksibel agar dapat meraih keuntungan stabil dalam tren penguatan jangka panjang.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap yuan Renminbi: Ekspektasi apresiasi menguat pada tahun 2026
Pasar saat ini umumnya optimistis terhadap kinerja Renminbi, banyak bank investasi internasional secara berturut-turut meningkatkan ekspektasi apresiasi dolar AS terhadap Renminbi. Dari Deutsche Bank, Morgan Stanley hingga Goldman Sachs, analisis terbaru dari lembaga-lembaga otoritatif ini menunjukkan satu kesimpulan bersama: siklus depresiasi yang dimulai pada 2022 sedang berbalik arah, dan Renminbi berpotensi memasuki jalur apresiasi jangka menengah-panjang. Perubahan ini didukung oleh logika ekonomi dan kebijakan yang mendalam, yang layak dipahami secara mendalam oleh investor.
Bank Investasi Internasional Optimistis terhadap Penguatan Renminbi, Pergerakan Nilai Tukar USD terhadap RMB Berbalik Arah
Prediksi terbaru dari berbagai lembaga otoritatif memberikan dukungan kuat terhadap penguatan Renminbi. Analisis Deutsche Bank menunjukkan bahwa tren penguatan RMB terhadap USD baru-baru ini mungkin menandai dimulainya siklus apresiasi jangka panjang. Bank ini memperkirakan bahwa nilai tukar RMB terhadap USD akan naik ke 7,0 pada akhir 2025 dan selanjutnya ke 6,7 pada akhir 2026.
Morgan Stanley lebih tegas, memperkirakan Renminbi akan menunjukkan tren apresiasi yang moderat, dan memperkirakan dolar AS akan terus melemah dalam dua tahun ke depan. Berdasarkan prediksi mereka, indeks dolar kemungkinan akan turun ke 89 pada akhir 2026, dan nilai tukar RMB terhadap USD berpotensi mencapai sekitar 7,05.
Pandangan Goldman Sachs sangat menarik perhatian. Kepala Strategi Valuta Asing Global Goldman Sachs, Kamakshya Trivedi, dalam laporan Mei, secara signifikan menaikkan ekspektasi, dari 7,35 menjadi 7,0 untuk nilai tukar USD terhadap RMB dalam 12 bulan ke depan, dan memprediksi bahwa momen “tembus 7” mungkin akan datang lebih cepat dari yang diperkirakan pasar. Logika Goldman Sachs adalah bahwa nilai tukar efektif nyata RMB saat ini undervalued sebesar 12% dibandingkan rata-rata 10 tahun, dan terhadap dolar AS bahkan lebih undervalued, mencapai 15%.
Berdasarkan kemajuan positif dalam negosiasi perdagangan China-AS dan kondisi undervaluasi RMB saat ini, Goldman Sachs memperkirakan bahwa dalam 12 bulan ke depan, nilai tukar RMB terhadap USD akan naik ke 7,0. Selain itu, mereka percaya bahwa kinerja ekspor China yang kuat akan mendukung RMB, sementara pemerintah China lebih cenderung menggunakan kebijakan lain untuk merangsang ekonomi daripada melakukan devaluasi mata uang. Goldman Sachs juga memberikan target harga yang lebih spesifik: target 3 bulan di 7,2 dan 6 bulan di 7,1.
Siklus Penguatan Renminbi: Tinjauan Pergerakan Nilai Tukar 5 Tahun dan Analisis Titik Balik
Untuk memahami makna pergerakan nilai tukar USD terhadap RMB saat ini, perlu menelusuri perubahan pasar selama lima tahun terakhir. Sejarah ini secara jelas menggambarkan siklus lengkap dari apresiasi, depresiasi, hingga rebound RMB.
Fase rebound cepat 2020, di mana nilai tukar USD terhadap RMB berfluktuasi antara 6,9 dan 7,0 di awal tahun, dipicu oleh ketegangan perdagangan China-AS dan dampak pandemi. Pada Mei, RMB sempat melemah ke 7,18. Namun, dengan China yang cepat mengendalikan pandemi dan memulai pemulihan ekonomi, ditambah Federal Reserve yang menurunkan suku bunga ke hampir nol sementara China mempertahankan kebijakan moneter yang stabil, selisih suku bunga yang melebar menjadi pendukung utama penguatan RMB. Efek kebijakan ini mendorong RMB rebound kuat ke sekitar 6,50 di akhir tahun, menguat sekitar 6% sepanjang tahun.
Tahun 2021, periode konsolidasi di level tinggi, di mana ekspor China tetap kuat dan ekonomi menunjukkan tren positif, sementara indeks dolar tetap rendah. Pada periode ini, nilai tukar USD/RMB berfluktuasi sempit antara 6,35 dan 6,58, dengan rata-rata sekitar 6,45, menunjukkan RMB tetap relatif kuat.
2022 menjadi tahun paling volatil dalam lima tahun terakhir, dengan depresiasi besar. USD/RMB naik dari 6,35 ke di atas 7,25, menandai depresiasi sekitar 8%, dan mencatat penurunan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Penyebab utama adalah kenaikan suku bunga agresif Federal Reserve yang mendorong indeks dolar naik, sementara kebijakan ketat China dalam pandemi dan krisis properti memperburuk sentimen pasar dan memperlambat ekonomi.
2023, periode depresiasi berlanjut, dengan USD/RMB berfluktuasi antara 6,83 dan 7,35, dengan rata-rata sekitar 7,0, dan sedikit menguat ke sekitar 7,1 di akhir tahun. Pemulihan ekonomi China pasca pandemi tidak sesuai harapan, krisis utang properti berlarut-larut, konsumsi lemah, sementara suku bunga tinggi AS tetap dipertahankan, menyebabkan indeks dolar di kisaran 100–104 dan RMB tetap tertekan.
2024, menunjukkan volatilitas meningkat sebagai tanda awal perubahan. Dolar AS mulai melemah, mengurangi tekanan terhadap RMB, sementara langkah stimulus fiskal China dan kebijakan dukungan properti meningkatkan kepercayaan pasar. Nilai tukar USD/RMB dari 7,1 naik ke sekitar 7,3 di pertengahan tahun, dan RMB di luar negeri menembus 7,10 pada Agustus, mencatat level tertinggi semester, dengan volatilitas yang meningkat secara signifikan.
Dari evolusi lima tahun ini, 2022 merupakan titik balik yang menentukan. Setelah itu, meskipun RMB masih dalam tren depresiasi, sinyal rebound semakin jelas, menyiapkan dasar bagi dimulainya siklus apresiasi saat ini.
Pergerakan RMB 2025 dan Ciri-Ciri Titik Balik
Tahun 2025 adalah tahun kunci untuk pergerakan nilai tukar RMB. Sepanjang tahun, USD/RMB berfluktuasi antara 7,1 dan 7,3, menunjukkan ketahanan tertentu, dengan apresiasi total sekitar 2,40%. Tren penguatan ini mematahkan tren depresiasi selama tiga tahun berturut-turut dari 2022 hingga 2024, menandai titik balik penting.
Dari performa pasar luar negeri, nilai tukar USD terhadap RMB di luar negeri berfluktuasi antara 7,1 dan 7,4, dengan apresiasi sekitar 2,80%, sedikit lebih tinggi dari pasar dalam negeri. Hal ini mencerminkan bahwa RMB di luar negeri lebih sensitif terhadap faktor makro global, dan perbedaan ini patut diperhatikan.
Pada akhir November 2025, didorong oleh perbaikan hubungan perdagangan China-AS dan ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve, tren penguatan RMB terhadap USD meningkat tajam, nilai tukar sempat turun di bawah 7,08, bahkan menyentuh 7,0765, level terendah dalam setahun terakhir. Breakthrough ini memiliki arti teknis penting, menandakan pasar mulai mengkonsumsi ekspektasi apresiasi sebelumnya.
Pada semester pertama, tekanan terhadap RMB muncul dari ketidakpastian kebijakan tarif global dan penguatan indeks dolar. RMB sempat menembus level 7,40, dan USD/RMB mencapai level tertinggi sejak 2022, bahkan mencatat rekor sejak “Reform 8.11” tahun 2015. Tahap ini menunjukkan tingkat ekspektasi depresiasi RMB yang cukup serius.
Titik balik terjadi di semester kedua, saat negosiasi perdagangan China-AS secara bertahap membaik, hubungan kedua negara menunjukkan tanda-tanda mereda, dan tren penguatan dolar mulai berbalik. Dengan penguatan mata uang utama non-AS seperti euro dan pound, RMB terhadap USD juga mulai menguat secara moderat, dan suasana pasar menjadi lebih stabil.
Faktor Inti yang Mempengaruhi Nilai Tukar USD terhadap RMB 2026
Pergerakan masa depan USD/RMB dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait, baik dari lingkungan eksternal maupun kebijakan domestik.
Perkembangan indeks dolar adalah faktor utama. Dalam lima bulan pertama 2025, indeks dolar turun 9%, mencatat awal tahun terburuk dalam sejarah. Pasar umumnya memperkirakan bahwa siklus penurunan suku bunga Federal Reserve akan mendorong suku bunga jangka pendek turun, yang berarti dolar kemungkinan akan terus melemah dalam 12 bulan ke depan. Tren ini akan mendukung penguatan mata uang Asia termasuk RMB.
Perkembangan hubungan China-AS dan kebijakan perdagangan juga menjadi variabel penting. Meski setelah pertemuan di London kedua negara kembali berdamai, ketegangan ini masih berpotensi kembali. Kesepakatan yang dicapai pada Mei lalu di Jenewa pun pernah pecah dengan cepat, menunjukkan risiko fluktuasi tetap ada. Jika negosiasi berhasil meredakan konflik tarif, RMB berpotensi menguat; jika ketegangan meningkat, tekanan depresiasi akan berlanjut.
Penyesuaian kebijakan Federal Reserve juga berpengaruh besar. Pada paruh kedua 2024, Fed sudah memberi sinyal penurunan suku bunga, tetapi besaran dan kecepatan penurunan di 2025 akan bergantung pada data inflasi, pasar tenaga kerja, dan kebijakan pemerintah Trump. Jika inflasi tetap tinggi, Fed mungkin menahan suku bunga tinggi atau memperlambat penurunan, menguatkan dolar. Sebaliknya, jika ekonomi melambat, penurunan suku bunga akan dipercepat dan melemahkan dolar. Hubungan RMB dan indeks dolar biasanya berlawanan.
Kebijakan Bank Sentral China juga sangat penting. Bank sentral cenderung menjaga kebijakan longgar untuk mendukung pemulihan ekonomi, terutama di tengah lemahnya pasar properti dan permintaan domestik. Bank sentral mungkin menurunkan suku bunga atau rasio cadangan untuk menambah likuiditas, yang biasanya memberi tekanan depresiasi terhadap RMB. Namun, jika kebijakan longgar ini dipadukan dengan stimulus fiskal yang lebih kuat dan stabilitas ekonomi, RMB jangka panjang bisa menguat. Selain itu, percepatan internasionalisasi RMB, termasuk peningkatan penggunaan dalam pembayaran global dan perluasan perjanjian swap mata uang dengan negara lain, dapat mendukung stabilitas RMB dalam jangka menengah-panjang.
Apakah Penguatan RMB Layak Dijadikan Investasi — Analisis Waktu dan Peluang
Dalam kondisi saat ini, berinvestasi dalam pasangan mata uang terkait RMB bisa menguntungkan, asalkan mampu menangkap waktu yang tepat. Dalam jangka pendek, RMB diperkirakan akan tetap relatif kuat, berfluktuasi berlawanan dengan dolar AS dalam kisaran terbatas.
Berdasarkan kondisi pasar saat ini, kemungkinan RMB akan cepat menguat ke bawah 7,0 sebelum akhir 2026 relatif kecil. Artinya, investor harus bersiap untuk posisi menengah, bukan berharap keuntungan cepat. Faktor utama yang perlu diperhatikan adalah: pergerakan indeks dolar, sinyal pengaturan nilai tengah RMB, dan kekuatan serta kecepatan kebijakan stabilisasi pertumbuhan China.
Empat Metode Utama Menilai Pergerakan Nilai Tukar RMB
Lebih baik mengajarkan orang cara berpikir sendiri daripada sekadar memberi tahu apa yang harus dilakukan. Daripada mengikuti opini orang lain, investor sebaiknya belajar menilai sendiri pergerakan USD/RMB. Terlepas dari fluktuasi pasar, ada beberapa aspek utama yang bisa digunakan untuk menilai:
Pertama, mengikuti perubahan kebijakan moneter People’s Bank of China (PBOC). Sebagai bank sentral China, kebijakan PBOC langsung mempengaruhi pasokan uang, dan permintaan serta penawaran uang ini akan mempengaruhi nilai tukar. Ketika kebijakan longgar (seperti penurunan suku bunga atau rasio cadangan), ekspektasi peningkatan pasokan uang akan melemahkan RMB; sebaliknya, kebijakan ketat (seperti kenaikan suku bunga atau peningkatan rasio cadangan) akan mendorong RMB menguat. Pada November 2014, PBOC memulai siklus pelonggaran dengan menurunkan suku bunga pinjaman sebanyak 6 kali dan terus menurunkan rasio cadangan, yang menyebabkan USD/RMB dari sekitar 6 naik ke hampir 7,4, menunjukkan pengaruh besar kebijakan moneter terhadap nilai tukar.
Kedua, memperhatikan data ekonomi China. Ketika ekonomi China stabil dan tumbuh lebih baik dari pasar negara berkembang lain, akan menarik investasi asing dan meningkatkan permintaan RMB, menguatkan RMB. Sebaliknya, perlambatan ekonomi atau daya tarik relatif yang menurun akan mengurangi aliran masuk modal dan permintaan RMB. Data penting meliputi:
Ketiga, mengikuti pergerakan dolar dan faktor pendorongnya. Fluktuasi dolar langsung mempengaruhi USD/RMB. Kebijakan moneter Fed dan ECB adalah faktor utama. Contohnya, awal 2017, ekonomi Zona Euro pulih dari krisis utang, pertumbuhan melebihi AS, dan ECB memberi sinyal pengetatan, mendorong euro naik dan indeks dolar melemah. Dana mengalir dari dolar ke euro, menyebabkan indeks dolar turun 15% sepanjang tahun, dan USD/RMB mengikuti tren penurunan yang sama, menunjukkan korelasi tinggi.
Keempat, memahami kebijakan resmi terhadap nilai tukar RMB. Berbeda dari mata uang yang bebas diperdagangkan, RMB sejak 1978 mengalami berbagai reformasi pengelolaan nilai tukar. Pada 26 Mei 2017, otoritas mengubah model penetapan nilai tengah RMB menjadi “penutupan harga + perubahan nilai keranjang mata uang + faktor siklus balik”, yang mengurangi perilaku siklus dan memperkuat panduan resmi. Pengaturan ini mempengaruhi jangka pendek, tetapi tren jangka panjang tetap mengikuti arah pasar uang.
Cara Berinvestasi dalam Tren Penguatan RMB — Panduan Diversifikasi Saluran
Bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang apresiasi USD terhadap RMB, tersedia berbagai saluran investasi:
Investasi valuta asing melalui bank adalah cara paling tradisional. Investor dapat membuka rekening valas di bank lokal maupun internasional dan melakukan transaksi serta investasi valas di sana.
Bekerja sama dengan broker forex menawarkan fleksibilitas lebih besar. Broker ini menyediakan platform trading online lengkap dengan alat analisis, memungkinkan investor membuka posisi long dan short. Dengan leverage, potensi keuntungan bisa lebih besar, tetapi risiko juga meningkat. Pemilihan broker harus memperhatikan regulasi, legalitas, dan skala platform. Contohnya, Mitrade, XTB, Admirals, Plus500, IG adalah platform yang baik. Mitrade, misalnya, diatur oleh CIMA, menawarkan leverage 1-200, spread rendah, dan fitur pengelolaan risiko lengkap. Bonus pendaftaran dan akun demo juga tersedia.
Perusahaan sekuritas dan bursa berjangka juga menyediakan layanan trading forex dan forex futures, memberi alternatif lain untuk diversifikasi.
Ringkasan dan Saran Investasi
Dalam konteks kemungkinan dimulainya siklus penguatan RMB, prediksi pergerakan USD/RMB dari berbagai bank investasi internasional menunjukkan konsensus positif, dan performa penguatan di 2025 memperkuat sinyal bahwa RMB sedang memasuki jalur apresiasi jangka menengah-panjang.
Daya dorong utama adalah: ketahanan ekspor China, minat kembali investasi asing dalam aset RMB, dan pelemahan struktural indeks dolar. Faktor lain seperti hubungan China-AS, kebijakan Fed, dan proses internasionalisasi RMB juga perlu diikuti secara cermat.
Saat ini, investor berada di posisi titik balik pergerakan USD/RMB. Dengan memahami empat dimensi utama: kebijakan moneter, data ekonomi, tren dolar, dan kebijakan resmi, mereka dapat menilai prospek pasar secara mandiri. Seiring RMB menguat secara bertahap, peluang berpartisipasi melalui bank, broker, maupun pasar futures terbuka lebar. Yang terpenting adalah terus memantau pergerakan USD/RMB dan menyesuaikan strategi secara fleksibel agar dapat meraih keuntungan stabil dalam tren penguatan jangka panjang.