Apakah pencabutan saham dari daftar bursa merupakan jebakan atau peluang? Panduan lengkap yang wajib dibaca oleh investor untuk menghadapi situasi ini

Beli dan jual saham saat berita delisting muncul tentu saja membuat hati cemas. Ini berarti saham yang dipegang bisa dari aset yang likuid, tiba-tiba berubah menjadi kertas yang tak diminati orang. Namun, delisting tidak selalu merupakan akhir yang putus asa; kuncinya terletak pada kemampuan Anda untuk mengenali sinyal risiko secara tepat waktu dan mengambil tindakan yang benar. Artikel ini akan secara menyeluruh menjelaskan proses delisting saham, membantu investor dalam membuat keputusan rasional saat menghadapi situasi delisting.

Apa itu delisting saham? Memahami konsep dasar agar dapat merespons secara tepat waktu

Delisting saham (penghapusan dari daftar) adalah kondisi di mana sebuah perusahaan yang sebelumnya terdaftar dan diperdagangkan di bialah bursa efek, karena tidak lagi memenuhi standar listing atau atas permintaan sendiri, dihentikan pencatatannya. Setelah saham delisting, investor tidak lagi dapat membeli atau menjual saham tersebut di bursa yang bersangkutan, dan nilai saham kemungkinan besar akan mengalami perubahan signifikan.

Perlu dicatat bahwa, delisting dan pencabutan dari daftar OTC adalah dua konsep berbeda. Delisting mengacu pada perusahaan yang keluar dari pasar utama bursa efek, sedangkan pencabutan dari daftar OTC (Over-The-Counter) berarti perusahaan yang diperdagangkan di pusat perdagangan OTC dihentikan perdagangannya. Keduanya melibatkan hilangnya status pencatatan, tetapi berlaku di pasar dan aturan pengawasan yang berbeda.

Banyak investor menganggap delisting dan suspend trading (penghentian sementara perdagangan) sebagai hal yang sama, tetapi keduanya sangat berbeda. Suspend trading adalah penangguhan sementara (biasanya beberapa hari hingga bulan) karena pengungkapan berita penting atau fluktuasi harga yang abnormal, sementara delisting adalah keluar permanen dari pasar. Setelah suspend trading, saham biasanya akan kembali diperdagangkan, tetapi delisting berarti karier perdagangan saham di pasar utama berakhir di situ.

Mengapa saham bisa delisting? Lima penyebab umum yang memicu

Memburuknya kondisi keuangan dan kerugian berkelanjutan

Perusahaan yang mengalami kerugian berturut-turut selama bertahun-tahun, memiliki ekuitas negatif, laporan keuangan dengan opini audit negatif atau tidak dapat memberikan opini, akan masuk dalam daftar pemeriksaan delisting oleh bursa. Perusahaan seperti ini biasanya sudah kehilangan kemampuan menghasilkan laba dan sulit mempertahankan operasi normal.

Contoh kasus yang khas adalah Chesapeake Energy Corporation, produsen gas alam. Pada Juni 2020, perusahaan ini mengajukan perlindungan kebangkrutan karena masalah keuangan, dan kemudian menyelesaikan restrukturisasi pada Februari 2021. Nilai sahamnya mengalami penurunan drastis sebelum dan sesudah kebangkrutan, dan akhirnya hanya menunggu proses restrukturisasi selesai untuk memastikan apakah investor bisa mendapatkan sebagian kompensasi.

Pelanggaran pengungkapan informasi dan kecurangan

Perusahaan yang tidak mengumumkan laporan keuangan tepat waktu, melaporkan pendapatan palsu, melakukan transaksi insider, menyembunyikan informasi penting, dan lain-lain, akan memicu delisting. Pelanggaran semacam ini langsung merusak kepercayaan investor, dan bursa tidak segan-segan memulai proses delisting.

Kasus Luckin Coffee adalah contoh klasik dari kasus pelanggaran serius. Pada April 2020, perusahaan ini dikeluarkan dari NASDAQ karena dugaan kecurangan keuangan, menyebabkan kerugian besar bagi investor. Bertahun-tahun kemudian, saham Luckin di pasar luar bursa hampir tidak diminati, dan pemegang saham hampir tidak bisa mencairkan investasinya.

Perilaku bisnis abnormal dan manajemen yang buruk

Perusahaan yang mengalami penurunan besar dalam bisnis utama, kehilangan pangsa pasar secara terus-menerus, atau kehilangan daya saing inti, berpotensi delisting. Terutama di industri yang cepat berinovasi teknologi, perusahaan yang tertinggal akan menghadapi risiko penghapusan yang dipercepat.

Privatisasi dan akuisisi serta restrukturisasi secara sukarela

Beberapa perusahaan secara aktif memilih delisting untuk melakukan privatisasi, biasanya dilakukan oleh pemegang saham utama yang ingin mengurangi kewajiban pengungkapan publik atau menyiapkan restrukturisasi besar. Contohnya, Dell Technologies keluar dari NASDAQ pada 2013 dan menjadi perusahaan privat, kemudian kembali terdaftar pada 2018.

Dalam proses privatisasi, pemegang saham utama biasanya membeli kembali saham yang beredar sesuai harga kesepakatan. Jika investor cepat menjual, mereka biasanya dapat keluar dengan harga yang relatif adil.

Perubahan kebijakan regulasi

Beberapa industri yang terkena penyesuaian kebijakan akan diminta membersihkan perusahaan yang tidak memenuhi standar baru. Misalnya, industri fintech dan farmasi yang diatur ketat, perusahaan yang tidak memenuhi persyaratan setelah kebijakan baru diberlakukan akan dipaksa delisting.

Dari peringatan hingga penghentian: proses delisting saham dalam empat tahap

Delisting tidak terjadi secara mendadak. Jika investor memantau pengumuman resmi dari bursa secara cermat, biasanya ada cukup waktu untuk merespons. Proses ini umumnya terdiri dari empat tahap:

Tahap pertama: Peringatan dan penandaan
Bursa mengirimkan surat peringatan “penanganan” dan menandai nama saham dengan simbol “*” atau “ST” (misalnya “*XX Elektronik”), ini adalah sinyal risiko awal. Pada tahap ini, investor harus mulai memperhatikan perkembangan dan berita terkait perusahaan.

Tahap kedua: Masa perbaikan
Perusahaan diberikan masa remediasi selama 3-6 bulan, selama periode ini mereka dapat memperbaiki kondisi keuangan melalui pelaporan keuangan tambahan, mengundang investor strategis, restrukturisasi aset, dan lain-lain, agar memenuhi standar listing. Tahap ini adalah waktu penting bagi investor untuk menilai apakah perusahaan mampu bangkit kembali.

Tahap ketiga: Penilaian dan keputusan
Jika perusahaan gagal mencapai target perbaikan, bursa akan mengadakan rapat peninjauan untuk memutuskan apakah akan memulai proses delisting secara resmi. Pada tahap ini, peluang perusahaan untuk bangkit sudah sangat kecil, dan harga saham biasanya akan turun tajam.

Tahap keempat: Penghentian dan pencabutan daftar
Bursa mengumumkan tanggal delisting, dan saham akan resmi keluar dari pasar setelah hari perdagangan terakhir. Setelah itu, investor tidak bisa melakukan transaksi di bursa lagi, dan harus beralih ke pasar luar bursa atau menunggu pengaturan selanjutnya dari perusahaan.

Apakah saham yang delisting masih bisa diselamatkan? Pendekatan berbeda sesuai situasi

Kasus buyback privat

Jika perusahaan secara sukarela melakukan delisting untuk privatisasi, dan saham yang beredar di pasar hanya sekitar 10-20%, nilai saham yang dimiliki investor bisa justru meningkat. Pemegang saham utama biasanya akan membeli kembali saham tersebut dengan harga yang wajar atau bahkan premium dalam periode tertentu. Investor harus terus memantau pengumuman perusahaan, dan jika ada proposal buyback, segera evaluasi apakah harga buyback wajar.

Kasus kebangkrutan dan likuidasi

Jika alasan delisting adalah kebangkrutan total, kondisi investor paling buruk. Dalam proses likuidasi, prioritas pembayaran adalah: gaji karyawan, utang bank, pajak pemerintah, dan terakhir pemegang saham biasa. Pada kenyataannya, nilai saham yang dimiliki sering kali tidak kembali sama sekali karena aset perusahaan sudah dibagi habis oleh kreditur.

Penurunan nilai pasar yang ekstrem

Ketika harga saham terus-menerus rendah dan kapitalisasi pasar terus menurun, delisting menjadi hasil yang hampir pasti. Pada kondisi ini, likuiditas saham sangat rendah, dan sedikit orang yang bersedia membeli. Investor beruntung mungkin menemukan pembeli di pasar dalam maupun luar, tetapi yang tidak beruntung akan menghadapi saham yang benar-benar tak diminati, dan akhirnya mengalami kerugian besar atau hampir seluruh investasi hilang.

Delisting karena pelanggaran regulasi

Perusahaan yang dipaksa delisting karena pelanggaran regulasi biasanya sahamnya dibekukan, sehingga tidak bisa dicairkan. Investor harus menunggu proses hukum dan administrasi perusahaan selesai, selama itu mereka tidak bisa menggunakan dana tersebut dan harus menanggung ketidakpastian serta biaya peluang.

Kemungkinan perusahaan kembali terdaftar

Dalam beberapa kasus, saham yang delisting masih memiliki peluang untuk kembali terdaftar. Terutama jika perusahaan menyelesaikan restrukturisasi privat, memperbaiki kondisi keuangan, atau berhasil melakukan inovasi bisnis, bursa bisa mengizinkan perusahaan mengajukan pendaftaran ulang. Jika investor bertahan hingga saat itu, kerugian sebelumnya bisa berbalik.

Suspend trading dan delisting, apa bedanya? Simak perbedaan utama

Banyak investor pemula menganggap suspend trading dan delisting sebagai hal yang sama, tetapi keduanya memiliki perbedaan mendasar dari segi durasi, dampak di pasar, dan nilai saham:

Aspek Suspend trading Delisting
Cara penghentian sementara Penangguhan jangka pendek (biasanya beberapa hari hingga bulan) Penghentian permanen (penghapusan dari daftar)
Status pasar Masih terdaftar di bursa, hanya sementara dihentikan Keluar total dari bursa
Pengaruh terhadap nilai saham Sebelum dan sesudah suspend biasanya tidak banyak perubahan, kecuali terkait aksi korporasi Kemungkinan besar mengalami penurunan drastis
Pengembangan selanjutnya Biasanya akan dipulihkan dan diperdagangkan kembali Tidak bisa diperdagangkan di pasar utama lagi
Tingkat kesulitan bagi investor Relatif lebih mudah Lebih kompleks dan harus diambil tindakan aktif

Suspend trading biasanya tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Investor cukup memperhatikan peristiwa besar yang menyebabkan suspend dan dampaknya terhadap harga saham, lalu menyesuaikan strategi. Investor jangka menengah dan panjang yang membeli dengan harga sesuai harapan biasanya tidak akan terganggu oleh suspend. Sementara itu, trader jangka pendek harus lebih fleksibel menyesuaikan rencana perdagangan sesuai kondisi.

Mengenali risiko dan pencegahan: Bagaimana menyaring saham bermasalah

Delisting memang berat bagi investor, tetapi pencegahan aktif jauh lebih baik daripada reaksi pasif. Berikut beberapa kebiasaan yang harus dimiliki investor dalam mengenali risiko:

Pantau indikator kesehatan keuangan
Periksa secara rutin laba bersih, arus kas, rasio utang terhadap aset, dan indikator utama lainnya. Jika perusahaan terus-menerus merugi, arus kas melemah, rasio utang melebihi 100%, ini adalah sinyal bahaya. Saat tanda bahaya muncul, sebaiknya kurangi posisi atau keluar dari saham tersebut.

Perhatikan perkembangan pengungkapan informasi
Perusahaan apakah rutin merilis laporan keuangan, pengumuman lengkap dan akurat, serta apakah manajemen sering berganti? Jika ada kejanggalan, lakukan investigasi mendalam.

Evaluasi daya saing bisnis
Apakah produk utama perusahaan masih memiliki pasar, pesaing menggerogoti pangsa pasar, dan apakah perusahaan melakukan inovasi yang efektif? Faktor ini penting untuk menilai prospek jangka panjang.

Ikuti perubahan kebijakan industri
Beberapa industri menghadapi risiko sistemik akibat regulasi baru. Investor harus mengikuti perkembangan regulasi dan melakukan prediksi dini.

Bangun portofolio yang terdiversifikasi
Menyebar dana ke berbagai aset adalah cara efektif mengurangi risiko delisting. Berikut contoh alokasi berdasarkan toleransi risiko:

Preferensi risiko Investasi risiko tinggi Risiko sedang Risiko rendah Cadangan kas
Suka risiko tinggi 15% Kontrak CFD 50% Saham 30% Reksa dana 5%
Risiko netral 10% Kontrak CFD 35% Saham 35% Reksa dana 20%
Risiko rendah 5% Kontrak CFD 15% Saham 40% Reksa dana 40%

Dengan alokasi aset yang rasional, meskipun satu saham delisting, dampaknya terhadap portofolio secara keseluruhan bisa diminimalkan.

Panduan bertahan setelah delisting: Daftar langkah darurat tujuh poin

Jika secara tidak sengaja memegang saham yang akan delisting, berikut tujuh langkah yang dapat membantu memaksimalkan perlindungan:

Langkah pertama: Pantau pengumuman resmi secara ketat

Sebelum saham resmi delisting, perusahaan akan mengumumkan tanggal delisting dan rencana tindak lanjut melalui situs resmi seperti “Pengawas Informasi Publik”. Investor harus aktif memantau informasi ini secara rutin atau mengonfirmasi ke broker. Pengumuman ini biasanya berisi apakah akan dilakukan buyback, dipindahkan ke pasar OTC, dan lain-lain.

Langkah kedua: Nilai keadilan skema buyback

Jika perusahaan menawarkan skema buyback, evaluasi terlebih dahulu apakah harga buyback wajar dan lebih tinggi dari harga pasar saat ini. Pastikan menyelesaikan proses konfirmasi sesuai waktu yang ditentukan, karena melewati batas waktu bisa kehilangan hak buyback. Jika setuju, selesaikan semua prosedur sebelum tenggat.

Langkah ketiga: Pertimbangkan transfer ke pasar OTC

Beberapa perusahaan akan memindahkan saham ke pasar OTC (Over-The-Counter). Meskipun likuiditas sangat rendah, saham tetap bisa diperdagangkan di sana. Investor bisa melakukan jual beli melalui broker di pasar OTC dan menunggu peluang perusahaan kembali listing setelah kondisi membaik.

Langkah keempat: Siapkan diri menghadapi likuidasi

Jika alasan delisting adalah kebangkrutan dan likuidasi, pahami jadwal dan hasil yang diharapkan dari proses likuidasi. Simpan semua dokumen dan catatan transaksi terkait investasi agar dapat mengklaim hak saat distribusi aset. Bahkan jika tidak mendapatkan kembali uang, catatan ini penting untuk pelaporan pajak kerugian modal.

Langkah kelima: Cari peluang transaksi di luar bursa

Jika perusahaan tidak menawarkan buyback atau OTC, investor tetap bisa mencari pembeli di pasar luar bursa. Biasanya melalui negosiasi dengan pemegang saham lain dan proses transfer kepemilikan. Meskipun likuiditas sangat rendah, ini lebih baik daripada memegang saham yang tak diminati.

Langkah keenam: Konsultasi profesional

Hubungi broker, agen saham, atau layanan pelanggan perusahaan untuk memahami prosedur transfer saham dan pendaftaran. Kadang, profesional dapat membantu menemukan peluang pencairan nilai saham yang tersisa.

Langkah ketujuh: Urus aspek perpajakan

Jika saham benar-benar tidak bisa diperdagangkan lagi karena delisting, investor bisa melaporkan kerugian investasi tersebut untuk mengurangi pajak penghasilan dari capital gain atau penghasilan lain. Sebaiknya konsultasikan ke akuntan atau otoritas pajak agar proses pelaporan sesuai aturan dan menghindari sengketa pajak di kemudian hari.

Standar rasionalitas dalam pengambilan keputusan

Dalam menghadapi delisting, strategi yang diambil harus didasarkan pada penilaian objektif terhadap penyebab delisting dan prospek perusahaan:

  • Jika penilaian menunjukkan kemungkinan kerugian besar, dan ada pembeli yang bersedia menampung, sebaiknya segera keluar dan melakukan cut loss untuk menyelamatkan modal. Penundaan hanya akan memperbesar kerugian yang tidak bisa diperbaiki lagi.

  • Jika prospek keuntungan cukup besar (misalnya, privatisasi yang menguntungkan), bisa dipertahankan dan menunggu skema buyback dengan harga tinggi atau peluang perusahaan kembali listing.

  • Jika prospek tidak pasti, sesuaikan dengan kebutuhan arus kas, toleransi risiko, dan tujuan investasi. Dalam kondisi ini, bisa juga melakukan penjualan bertahap di pasar luar bursa untuk mengurangi risiko.

Delisting bukanlah akhir dari investasi secara mutlak; ini lebih merupakan ujian terhadap kemampuan penilaian dan eksekusi investor. Dengan memahami pengetahuan terkait, mengenali sinyal risiko secara dini, dan merancang strategi secara tenang, investor dewasa akan mampu menghadapinya.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)