Dalam pasar global saat ini, mata uang terlemah di dunia tidak hanya disebabkan oleh satu faktor, tetapi merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling terkait. Mulai dari inflasi yang melonjak, ketidakstabilan politik, hingga ekonomi yang kurang beragam dan berkurangnya investasi asing. Faktor-faktor ini bersatu menciptakan kondisi yang menyebabkan banyak negara mengalami kehilangan nilai mata uang secara drastis.
Dampak Bersama yang Menyebabkan Nilai Mata Uang Terlemah di Dunia
Sebagian besar mata uang yang melemah memiliki karakteristik serupa: negara dengan mata uang lemah biasanya mengalami:
Inflasi tinggi yang mengurangi daya beli masyarakat
Defisit perdagangan yang meningkatkan permintaan terhadap mata uang asing
Kurangnya investasi dari sektor swasta dan asing
Ketidakstabilan politik yang menimbulkan kekhawatiran bagi investor
Sepuluh Mata Uang yang Mengalami Kondisi Terberat
1. Pound Lebanon (LBP): Ketika Krisis Ekonomi Menjadi Bencana
Pound Lebanon atau Lira adalah mata uang resmi sejak tahun 1939. Dahulu mata uang ini stabil karena terikat dengan dolar AS, tetapi situasinya berubah secara drastis.
Lebanon sedang mengalami resesi terburuk dalam sejarah modern sejak 2019, dengan inflasi tiga digit, kemiskinan meluas, dan sektor perbankan yang tetap lumpuh. Pemerintah gagal membayar utang pada tahun 2020, dan pound Lebanon kehilangan lebih dari 90% nilainya di pasar paralel.
Data Mata Uang:
Kurs: 89.751,22 LBP/USD
Kebijakan: Kurs multi-level, tidak efektif terikat secara tetap
2. Rial Iran (IRR): Akibat Sanksi Ekonomi dan Masalah Internal
Rial Iran memiliki sejarah kembali ke abad ke-19, saat Iran masih disebut Persia. Pada tahun 1932, diperkenalkan rial baru yang terikat dengan pound Inggris, tetapi setelah Revolusi Islam 1979, semuanya berubah.
Penurunan nilai utama disebabkan oleh sanksi ekonomi dari AS dan sekutunya, ketergantungan berlebihan pada ekspor minyak, ketegangan geopolitik, dan manajemen ekonomi yang tidak efisien. Semua faktor ini menyebabkan inflasi ekstrem dan hilangnya kepercayaan secara cepat.
Data Mata Uang:
Kurs: 42.112,50 IRR/USD
Kebijakan: Terikat resmi dengan USD tetapi secara praktis mengambang dengan pengelolaan
3. Dong Vietnam (VND): Lebih Stabil Meski Masih Lemah
Dong pertama kali digunakan pada tahun 1954 setelah pemisahan Vietnam. Setelah perang berakhir, dong menjadi mata uang nasional. Awalnya mengalami inflasi tinggi, tetapi ekonomi Vietnam mulai stabil di tahun 2000-an.
Meskipun ekonomi tumbuh pesat, dong tetap lemah karena dikendalikan ketat oleh bank sentral. Sistem mengambang yang dikelola ini berarti nilai tukar bisa berfluktuasi sesuai izin bank, tetapi penurunan nilai ini menguntungkan Vietnam yang memiliki surplus perdagangan dan ingin menjual produk di pasar global.
Data Mata Uang:
Kurs: 26.040 VND/USD
Kebijakan: Sistem mengambang terkelola, mengacu pada keranjang mata uang
4. Kip Laos (LAK): Ekonomi Baru yang Berjuang
Kip adalah mata uang resmi Laos sejak 1952. Awalnya terikat dengan franc Prancis, tetapi mulai berfluktuasi lebih banyak di tahun 1990-an saat Laos melakukan reformasi ekonomi.
Laos adalah salah satu negara dengan pembangunan terendah di kawasan, kekurangan investasi asing, bergantung pada pertanian dan ekspor sumber daya alam. Masalah ekonomi memburuk pasca COVID-19 dengan inflasi tinggi dan pertumbuhan melambat. Kip menjadi salah satu mata uang terlemah di dunia.
Data Mata Uang:
Kurs: 21.625,82 LAK/USD
Kebijakan: Sistem mengambang terkelola, terikat USD dan Baht Thailand
5. Rupiah Indonesia (IDR): Pasar Berkembang yang Rentan
Rupiah digunakan sejak tahun 1945 setelah deklarasi kemerdekaan dari Belanda. Pada awalnya, mengalami banyak gejolak, termasuk inflasi tinggi dan krisis keuangan Asia 1997-1998 yang menghancurkan ekonomi.
Meski Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat dan ekonomi terbesar di kawasan, rupiah tetap lemah karena ketergantungan pada ekspor komoditas, inflasi tinggi, dan banyak utang yang menarik keluar modal. Kebijakan bank sentral juga terbatas oleh cadangan devisa yang terbatas.
Data Mata Uang:
Kurs: 16.275 IDR/USD
Kebijakan: Mengambang bebas
6. Som Uzbekistan (UZS): Reformasi Ekonomi Lambat dan Dikendalikan
Som Uzbekistan resmi digunakan sejak 1994 setelah kemerdekaan dari Uni Soviet. Ekonomi mulai tumbuh setelah reformasi di pertengahan 2010-an, tetapi perkembangan masih lambat.
Dikendalikan ketat oleh pemerintah, bergantung pada ekspor sumber daya alam, dan investasi asing terbatas. Inflasi tetap menjadi masalah sejak lama. Pemerintah mulai membuka ekonomi secara perlahan, tetapi ekonomi yang beragam masih minim, menjadikan som salah satu mata uang terlemah.
Data Mata Uang:
Kurs: 12.798,70 UZS/USD
Kebijakan: Mengambang bebas
7. Franc Guinea (GNF): Sumber Daya Melimpah Tapi Ekonomi Lemah
Franc Guinea digunakan sejak 1959 menggantikan franc Prancis. Meskipun kaya sumber daya alam, ekonomi Guinea tidak efektif memanfaatkannya.
Negara ini mengalami ketidakstabilan politik, krisis ekonomi berkepanjangan, dan kurangnya infrastruktur. Ketergantungan pada pertanian dan pertambangan, serta korupsi dan inflasi, menyebabkan franc Guinea terus melemah.
Data Mata Uang:
Kurs: 8.667,50 GNF/USD
Kebijakan: Sistem mengambang terkelola
8. Guarani Paraguay (PYG): Negara Agraris Berhutang Tinggi
Guarani memiliki sejarah panjang sejak 1887. Mengalami berbagai krisis, termasuk perang dan krisis utang, serta ketergantungan pada ekspor produk pertanian seperti kedelai.
Defisit perdagangan dan utang tinggi menyebabkan mata uang ini lemah dan terus melemah.
Data Mata Uang:
Kurs: 7.996,67 PYG/USD
Kebijakan: Mengambang bebas
9. Ariary Madagascar (MGA): Pengelolaan Khusus dan Risiko Tinggi
Ariary resmi sejak 2005 menggantikan franc Madagascar. Uniknya, 1 ariary setara dengan 5 iram-bilanja, karena tidak menggunakan sistem desimal.
Ekonomi Madagascar bergantung pada pertanian, pariwisata, dan ekspor sumber daya alam. Risiko cuaca dan ketidakstabilan politik tinggi, kemiskinan meluas, dan terbatasnya instrumen keuangan membuat inflasi sulit dikendalikan.
Data Mata Uang:
Kurs: 4.467,50 MGA/USD
Kebijakan: Mengambang terkelola oleh bank sentral
10. Franc Burundi (BIF): Negara Miskin Berjuang Melawan Inflasi
Franc Burundi digunakan sejak 1964 setelah merdeka dari Belgia, menggantikan franc Belgia Kongo. Struktur tetap sama sejak saat itu.
Burundi adalah salah satu negara termiskin, bergantung pada pertanian dan subsisten. Defisit perdagangan, industri terbatas, dan ketergantungan pada bantuan luar negeri menyebabkan inflasi tinggi, ketidakstabilan pangan, dan ketidakstabilan politik. Franc Burundi menjadi salah satu mata uang terlemah.
Data Mata Uang:
Kurs: 2.977,00 BIF/USD
Kebijakan: Kebijakan moneter fokus pada pengendalian inflasi dan likuiditas
Faktor Utama di Balik Nilai Mata Uang Terlemah di Dunia
Nilai tukar dipengaruhi oleh berbagai faktor utama:
Suku bunga tinggi biasanya menarik investasi asing dan meningkatkan permintaan mata uang
Inflasi tinggi mengurangi daya beli dan kepercayaan investor; negara dengan inflasi rendah cenderung mata uangnya lebih kuat
Neraca berjalan memberi gambaran kesehatan ekonomi; defisit dapat menghambat investasi
Resesi ekonomi menurunkan suku bunga dan nilai mata uang
Utang publik yang meningkat menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuan bayar
Ketidakstabilan politik membuat investor menghindar dan beralih ke aset aman
Hal yang Perlu Diketahui Investor tentang Mata Uang Terlemah di Dunia
Alasan mata uang rendah tidak berarti mata uang tersebut tidak berharga. Kadang, nilai tukar yang lemah mencerminkan kerentanan ekonomi dan risiko tinggi. Bagi trader, memahami faktor fundamental di balik fluktuasi nilai tukar sangat penting. Mata uang terlemah ini bisa menjadi peluang trading, tetapi juga berisiko tinggi dan membutuhkan studi mendalam tentang ekonomi dan politik masing-masing negara.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Mata uang terlemah di dunia: 10 mata uang yang menghadapi krisis berat
Dalam pasar global saat ini, mata uang terlemah di dunia tidak hanya disebabkan oleh satu faktor, tetapi merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling terkait. Mulai dari inflasi yang melonjak, ketidakstabilan politik, hingga ekonomi yang kurang beragam dan berkurangnya investasi asing. Faktor-faktor ini bersatu menciptakan kondisi yang menyebabkan banyak negara mengalami kehilangan nilai mata uang secara drastis.
Dampak Bersama yang Menyebabkan Nilai Mata Uang Terlemah di Dunia
Sebagian besar mata uang yang melemah memiliki karakteristik serupa: negara dengan mata uang lemah biasanya mengalami:
Sepuluh Mata Uang yang Mengalami Kondisi Terberat
1. Pound Lebanon (LBP): Ketika Krisis Ekonomi Menjadi Bencana
Pound Lebanon atau Lira adalah mata uang resmi sejak tahun 1939. Dahulu mata uang ini stabil karena terikat dengan dolar AS, tetapi situasinya berubah secara drastis.
Lebanon sedang mengalami resesi terburuk dalam sejarah modern sejak 2019, dengan inflasi tiga digit, kemiskinan meluas, dan sektor perbankan yang tetap lumpuh. Pemerintah gagal membayar utang pada tahun 2020, dan pound Lebanon kehilangan lebih dari 90% nilainya di pasar paralel.
Data Mata Uang:
2. Rial Iran (IRR): Akibat Sanksi Ekonomi dan Masalah Internal
Rial Iran memiliki sejarah kembali ke abad ke-19, saat Iran masih disebut Persia. Pada tahun 1932, diperkenalkan rial baru yang terikat dengan pound Inggris, tetapi setelah Revolusi Islam 1979, semuanya berubah.
Penurunan nilai utama disebabkan oleh sanksi ekonomi dari AS dan sekutunya, ketergantungan berlebihan pada ekspor minyak, ketegangan geopolitik, dan manajemen ekonomi yang tidak efisien. Semua faktor ini menyebabkan inflasi ekstrem dan hilangnya kepercayaan secara cepat.
Data Mata Uang:
3. Dong Vietnam (VND): Lebih Stabil Meski Masih Lemah
Dong pertama kali digunakan pada tahun 1954 setelah pemisahan Vietnam. Setelah perang berakhir, dong menjadi mata uang nasional. Awalnya mengalami inflasi tinggi, tetapi ekonomi Vietnam mulai stabil di tahun 2000-an.
Meskipun ekonomi tumbuh pesat, dong tetap lemah karena dikendalikan ketat oleh bank sentral. Sistem mengambang yang dikelola ini berarti nilai tukar bisa berfluktuasi sesuai izin bank, tetapi penurunan nilai ini menguntungkan Vietnam yang memiliki surplus perdagangan dan ingin menjual produk di pasar global.
Data Mata Uang:
4. Kip Laos (LAK): Ekonomi Baru yang Berjuang
Kip adalah mata uang resmi Laos sejak 1952. Awalnya terikat dengan franc Prancis, tetapi mulai berfluktuasi lebih banyak di tahun 1990-an saat Laos melakukan reformasi ekonomi.
Laos adalah salah satu negara dengan pembangunan terendah di kawasan, kekurangan investasi asing, bergantung pada pertanian dan ekspor sumber daya alam. Masalah ekonomi memburuk pasca COVID-19 dengan inflasi tinggi dan pertumbuhan melambat. Kip menjadi salah satu mata uang terlemah di dunia.
Data Mata Uang:
5. Rupiah Indonesia (IDR): Pasar Berkembang yang Rentan
Rupiah digunakan sejak tahun 1945 setelah deklarasi kemerdekaan dari Belanda. Pada awalnya, mengalami banyak gejolak, termasuk inflasi tinggi dan krisis keuangan Asia 1997-1998 yang menghancurkan ekonomi.
Meski Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat dan ekonomi terbesar di kawasan, rupiah tetap lemah karena ketergantungan pada ekspor komoditas, inflasi tinggi, dan banyak utang yang menarik keluar modal. Kebijakan bank sentral juga terbatas oleh cadangan devisa yang terbatas.
Data Mata Uang:
6. Som Uzbekistan (UZS): Reformasi Ekonomi Lambat dan Dikendalikan
Som Uzbekistan resmi digunakan sejak 1994 setelah kemerdekaan dari Uni Soviet. Ekonomi mulai tumbuh setelah reformasi di pertengahan 2010-an, tetapi perkembangan masih lambat.
Dikendalikan ketat oleh pemerintah, bergantung pada ekspor sumber daya alam, dan investasi asing terbatas. Inflasi tetap menjadi masalah sejak lama. Pemerintah mulai membuka ekonomi secara perlahan, tetapi ekonomi yang beragam masih minim, menjadikan som salah satu mata uang terlemah.
Data Mata Uang:
7. Franc Guinea (GNF): Sumber Daya Melimpah Tapi Ekonomi Lemah
Franc Guinea digunakan sejak 1959 menggantikan franc Prancis. Meskipun kaya sumber daya alam, ekonomi Guinea tidak efektif memanfaatkannya.
Negara ini mengalami ketidakstabilan politik, krisis ekonomi berkepanjangan, dan kurangnya infrastruktur. Ketergantungan pada pertanian dan pertambangan, serta korupsi dan inflasi, menyebabkan franc Guinea terus melemah.
Data Mata Uang:
8. Guarani Paraguay (PYG): Negara Agraris Berhutang Tinggi
Guarani memiliki sejarah panjang sejak 1887. Mengalami berbagai krisis, termasuk perang dan krisis utang, serta ketergantungan pada ekspor produk pertanian seperti kedelai.
Defisit perdagangan dan utang tinggi menyebabkan mata uang ini lemah dan terus melemah.
Data Mata Uang:
9. Ariary Madagascar (MGA): Pengelolaan Khusus dan Risiko Tinggi
Ariary resmi sejak 2005 menggantikan franc Madagascar. Uniknya, 1 ariary setara dengan 5 iram-bilanja, karena tidak menggunakan sistem desimal.
Ekonomi Madagascar bergantung pada pertanian, pariwisata, dan ekspor sumber daya alam. Risiko cuaca dan ketidakstabilan politik tinggi, kemiskinan meluas, dan terbatasnya instrumen keuangan membuat inflasi sulit dikendalikan.
Data Mata Uang:
10. Franc Burundi (BIF): Negara Miskin Berjuang Melawan Inflasi
Franc Burundi digunakan sejak 1964 setelah merdeka dari Belgia, menggantikan franc Belgia Kongo. Struktur tetap sama sejak saat itu.
Burundi adalah salah satu negara termiskin, bergantung pada pertanian dan subsisten. Defisit perdagangan, industri terbatas, dan ketergantungan pada bantuan luar negeri menyebabkan inflasi tinggi, ketidakstabilan pangan, dan ketidakstabilan politik. Franc Burundi menjadi salah satu mata uang terlemah.
Data Mata Uang:
Faktor Utama di Balik Nilai Mata Uang Terlemah di Dunia
Nilai tukar dipengaruhi oleh berbagai faktor utama:
Hal yang Perlu Diketahui Investor tentang Mata Uang Terlemah di Dunia
Alasan mata uang rendah tidak berarti mata uang tersebut tidak berharga. Kadang, nilai tukar yang lemah mencerminkan kerentanan ekonomi dan risiko tinggi. Bagi trader, memahami faktor fundamental di balik fluktuasi nilai tukar sangat penting. Mata uang terlemah ini bisa menjadi peluang trading, tetapi juga berisiko tinggi dan membutuhkan studi mendalam tentang ekonomi dan politik masing-masing negara.