Bank Sentral Australia minggu ini mengirim sinyal keras, sehingga AUD mencapai level tertinggi dalam tiga tahun. Keputusan kenaikan suku bunga awal bulan ini telah membuka siklus kenaikan suku bunga, dan Gubernur bank sentral, Brooke, kembali menegaskan bahwa jika inflasi terus tidak terkendali, pembuat kebijakan siap untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. Serangkaian sinyal ini mendorong performa AUD yang kuat, dan pelaku pasar perlu memperhatikan titik balik berikutnya dari pergerakan AUD.
Bank Sentral Australia Berubah menjadi Lebih Hawkish, AUD/USD Tembus Level Tertinggi dalam Tiga Tahun
Bank sentral Australia pada hari Kamis mengumumkan bahwa jika inflasi tidak membaik, mereka siap untuk melakukan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Setelah sinyal hawkish ini diumumkan, AUD/USD naik ke 0.7147, menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun sejak Februari 2023. Kenaikan ini bukan kebetulan—minggu lalu, Reserve Bank of Australia menjadi bank sentral utama pertama di dunia yang menaikkan suku bunga hingga tahun 2025.
Pada awal Februari, Komite Kebijakan Moneter RBA sepakat menaikkan target suku bunga tunai sebesar 25 basis poin menjadi 3,85%, mengakhiri siklus penurunan suku bunga selama lebih dari dua tahun. Bank menyatakan langkah ini dilakukan untuk mengatasi tekanan inflasi yang “substansial” di paruh kedua tahun dan kendala kapasitas di sisi penawaran. Berdasarkan proyeksi ekonomi terbaru yang dirilis bank, kemungkinan akan ada setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi dalam beberapa bulan mendatang, dan sebagian besar ekonom memperkirakan kenaikan lagi pada Mei menjadi 4,1%.
Akar Penyebab Inflasi: Ketidakseimbangan Pengeluaran Pemerintah dan Permintaan
Mengapa inflasi di Australia kembali meningkat? Berdasarkan data terbaru dari Australian Bureau of Statistics, Indeks Harga Konsumen (IHK) secara tahunan naik 3,8% per Desember 2025, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang 3,4%. Di antaranya, perumahan menjadi pendorong utama inflasi, naik 5,5% secara tahunan; makanan dan minuman non-alkohol naik 3,4%; serta rekreasi dan budaya naik 4,4%. Sejak Juli tahun lalu, inflasi terus meningkat dan telah bertahan di atas 3% selama beberapa bulan berturut-turut.
Masalah inflasi di Australia bersifat “endogen”. Dalam beberapa tahun terakhir, pengeluaran fiskal dari pemerintah daerah, negara bagian, dan pemerintah federal meningkat pesat, sementara produktivitas tenaga kerja domestik, inovasi, investasi energi, dan kemajuan dalam transisi ekonomi masih tertinggal. Hal ini menyebabkan permintaan total terus melebihi penawaran total, sehingga mendorong kenaikan harga. Mantan anggota dewan Reserve Bank of Australia, Roger Kobet, secara terbuka menyatakan bahwa rencana pengeluaran besar pemerintah sedang menahan pertumbuhan ekonomi, dan ekspansi sektor layanan publik membawa biaya besar bagi anggaran dan sektor swasta, sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi sulit di tengah kondisi ini.
Pedang Bermata Dua Kenaikan Suku Bunga: Kekhawatiran Ekonomi di Tengah Kekuatan AUD
Inflasi yang terus tinggi memaksa bank sentral Australia mengambil langkah kenaikan suku bunga secara agresif, yang dalam jangka pendek mendorong penguatan AUD. Namun, perlu diingat bahwa tingkat suku bunga yang lebih tinggi akhirnya akan menekan pertumbuhan ekonomi. Gubernur bank sentral Brooke dalam rapat Komite Ekonomi DPR terakhir mengakui bahwa pengeluaran pemerintah memang menjadi faktor utama yang mendorong permintaan total dan inflasi. Ini berarti, meskipun kenaikan suku bunga dapat menekan inflasi, jika pengeluaran pemerintah tetap tinggi, pertumbuhan ekonomi pasti akan menghadapi tekanan penurunan.
Pelaku pasar perlu menimbang risiko kenaikan AUD jangka pendek terhadap tekanan ekonomi jangka menengah. Siklus kenaikan suku bunga meskipun mendukung AUD, juga berarti biaya pinjaman yang lebih tinggi dan konsumsi yang melemah, sehingga prospek ekonomi menjadi tidak pasti.
Analisis Teknikal AUD: 0.7100 Menjadi Kunci Penting
Dari segi teknikal, AUD/USD sejak November tahun lalu menunjukkan tren kenaikan yang jelas, dengan serangkaian higher high dan higher low yang menandakan tren bullish yang baik. Namun, saat ini pasar memasuki periode krusial, dan AUD menghadapi pilihan arah.
Jika AUD/USD mampu bertahan di atas angka 0.7100, ada potensi rebound lebih lanjut menuju 0.7300 bahkan 0.7500. Sebaliknya, jika gagal mempertahankan di atas 0.7100, perlu waspada terhadap risiko koreksi ke bawah, yang bisa menguji level 0.7000 dan bahkan 0.6750. Secara keseluruhan, resistance jangka pendek untuk AUD masih cenderung ke atas, namun ruang kenaikan tergantung pada keberlanjutan sinyal kebijakan bank sentral dan perkembangan data inflasi.
Pelaku pasar harus memperhatikan keputusan rapat bank sentral Australia pada pertengahan Maret dan data inflasi berikutnya, karena keduanya akan langsung mempengaruhi arah jangka menengah AUD.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kekuatan Dolar Australia Menguat: Siklus Kenaikan Suku Bunga Bank Sentral Dimulai dan Inflasi yang Terjebak
Bank Sentral Australia minggu ini mengirim sinyal keras, sehingga AUD mencapai level tertinggi dalam tiga tahun. Keputusan kenaikan suku bunga awal bulan ini telah membuka siklus kenaikan suku bunga, dan Gubernur bank sentral, Brooke, kembali menegaskan bahwa jika inflasi terus tidak terkendali, pembuat kebijakan siap untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. Serangkaian sinyal ini mendorong performa AUD yang kuat, dan pelaku pasar perlu memperhatikan titik balik berikutnya dari pergerakan AUD.
Bank Sentral Australia Berubah menjadi Lebih Hawkish, AUD/USD Tembus Level Tertinggi dalam Tiga Tahun
Bank sentral Australia pada hari Kamis mengumumkan bahwa jika inflasi tidak membaik, mereka siap untuk melakukan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Setelah sinyal hawkish ini diumumkan, AUD/USD naik ke 0.7147, menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun sejak Februari 2023. Kenaikan ini bukan kebetulan—minggu lalu, Reserve Bank of Australia menjadi bank sentral utama pertama di dunia yang menaikkan suku bunga hingga tahun 2025.
Pada awal Februari, Komite Kebijakan Moneter RBA sepakat menaikkan target suku bunga tunai sebesar 25 basis poin menjadi 3,85%, mengakhiri siklus penurunan suku bunga selama lebih dari dua tahun. Bank menyatakan langkah ini dilakukan untuk mengatasi tekanan inflasi yang “substansial” di paruh kedua tahun dan kendala kapasitas di sisi penawaran. Berdasarkan proyeksi ekonomi terbaru yang dirilis bank, kemungkinan akan ada setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi dalam beberapa bulan mendatang, dan sebagian besar ekonom memperkirakan kenaikan lagi pada Mei menjadi 4,1%.
Akar Penyebab Inflasi: Ketidakseimbangan Pengeluaran Pemerintah dan Permintaan
Mengapa inflasi di Australia kembali meningkat? Berdasarkan data terbaru dari Australian Bureau of Statistics, Indeks Harga Konsumen (IHK) secara tahunan naik 3,8% per Desember 2025, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang 3,4%. Di antaranya, perumahan menjadi pendorong utama inflasi, naik 5,5% secara tahunan; makanan dan minuman non-alkohol naik 3,4%; serta rekreasi dan budaya naik 4,4%. Sejak Juli tahun lalu, inflasi terus meningkat dan telah bertahan di atas 3% selama beberapa bulan berturut-turut.
Masalah inflasi di Australia bersifat “endogen”. Dalam beberapa tahun terakhir, pengeluaran fiskal dari pemerintah daerah, negara bagian, dan pemerintah federal meningkat pesat, sementara produktivitas tenaga kerja domestik, inovasi, investasi energi, dan kemajuan dalam transisi ekonomi masih tertinggal. Hal ini menyebabkan permintaan total terus melebihi penawaran total, sehingga mendorong kenaikan harga. Mantan anggota dewan Reserve Bank of Australia, Roger Kobet, secara terbuka menyatakan bahwa rencana pengeluaran besar pemerintah sedang menahan pertumbuhan ekonomi, dan ekspansi sektor layanan publik membawa biaya besar bagi anggaran dan sektor swasta, sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi sulit di tengah kondisi ini.
Pedang Bermata Dua Kenaikan Suku Bunga: Kekhawatiran Ekonomi di Tengah Kekuatan AUD
Inflasi yang terus tinggi memaksa bank sentral Australia mengambil langkah kenaikan suku bunga secara agresif, yang dalam jangka pendek mendorong penguatan AUD. Namun, perlu diingat bahwa tingkat suku bunga yang lebih tinggi akhirnya akan menekan pertumbuhan ekonomi. Gubernur bank sentral Brooke dalam rapat Komite Ekonomi DPR terakhir mengakui bahwa pengeluaran pemerintah memang menjadi faktor utama yang mendorong permintaan total dan inflasi. Ini berarti, meskipun kenaikan suku bunga dapat menekan inflasi, jika pengeluaran pemerintah tetap tinggi, pertumbuhan ekonomi pasti akan menghadapi tekanan penurunan.
Pelaku pasar perlu menimbang risiko kenaikan AUD jangka pendek terhadap tekanan ekonomi jangka menengah. Siklus kenaikan suku bunga meskipun mendukung AUD, juga berarti biaya pinjaman yang lebih tinggi dan konsumsi yang melemah, sehingga prospek ekonomi menjadi tidak pasti.
Analisis Teknikal AUD: 0.7100 Menjadi Kunci Penting
Dari segi teknikal, AUD/USD sejak November tahun lalu menunjukkan tren kenaikan yang jelas, dengan serangkaian higher high dan higher low yang menandakan tren bullish yang baik. Namun, saat ini pasar memasuki periode krusial, dan AUD menghadapi pilihan arah.
Jika AUD/USD mampu bertahan di atas angka 0.7100, ada potensi rebound lebih lanjut menuju 0.7300 bahkan 0.7500. Sebaliknya, jika gagal mempertahankan di atas 0.7100, perlu waspada terhadap risiko koreksi ke bawah, yang bisa menguji level 0.7000 dan bahkan 0.6750. Secara keseluruhan, resistance jangka pendek untuk AUD masih cenderung ke atas, namun ruang kenaikan tergantung pada keberlanjutan sinyal kebijakan bank sentral dan perkembangan data inflasi.
Pelaku pasar harus memperhatikan keputusan rapat bank sentral Australia pada pertengahan Maret dan data inflasi berikutnya, karena keduanya akan langsung mempengaruhi arah jangka menengah AUD.