Kehidupan Jesse Livermore adalah sebuah epik tentang jenius keuangan dan kelemahan manusia. Ia tumbuh dari seorang anak petani miskin menjadi “Raja Short Selling di Wall Street”, meraih kekayaan yang dalam satu transaksi setara dengan 100 juta dolar hari ini, namun akhirnya mengakhiri hidupnya karena depresi. Kisahnya bukan hanya tentang bagaimana meraih keuntungan di pasar, tetapi juga tentang bagaimana seorang jenius dihancurkan oleh keinginan dan kesombongannya sendiri.
Semangat Muda: Dari Anak Petani Miskin ke Pendatang Baru di Wall Street
Lahir tahun 1877 di Massachusetts dari keluarga petani miskin, sejak usia tiga setengah tahun sudah bisa membaca dan menulis, dan sejak lima tahun sudah mulai membaca surat kabar keuangan. Sejak kecil, Livermore menunjukkan bakat matematika yang luar biasa, tetapi takdir keluarganya tampaknya sudah diputuskan—ayahnya menginginkan dia mewarisi kehidupan petani.
Musim semi 1891, saat berusia 14 tahun, Livermore menolak takdir tersebut. Dengan dorongan dari ibunya, dia diam-diam mengumpulkan 5 dolar (setara dengan sekitar 180 dolar saat ini), dan keputusan ini mengubah sejarah Wall Street selamanya. Dengan modal kecil itu, dia menyelinap naik kereta dan kereta kuda, dan melalui perjalanan penuh liku-liku, akhirnya tiba di Boston.
Dia tidak langsung menuju alamat yang diberikan ibunya untuk bergabung dengan kerabat, melainkan berhenti di depan gedung Paine Webber. Deretan angka yang berdenyut menarik perhatiannya. Dengan penampilan yang agak dewasa, dia berhasil diterima sebagai pencatat harga di meja penawaran. Dari saat itu, karier keuangan Livermore resmi dimulai, seorang anak petani akan menemukan kode rahasia miliknya di pasar.
Menemukan Kode Rahasia: Menggunakan Angka untuk Membaca Jiwa Pasar
Dalam pekerjaan harian di meja penawaran, Livermore menemukan pola yang diabaikan orang lain. Ia mulai mencatat angka-angka yang tampaknya acak dan melompat-lompat, menggambar grafik harga di buku kotak, mencari pola di dalamnya.
Pola yang dia temukan meliputi:
Harga saham bukanlah fluktuasi acak, melainkan mengikuti irama tertentu—beberapa kombinasi harga akan berulang, seperti pola tetap dalam permainan kartu. Harga saham Union Pacific Railway sering menunjukkan fluktuasi serupa pada pukul 11:15 pagi dan 2:30 siang, seolah-olah didorong oleh “pasang surut tak terlihat”. Ketika broker menerima order besar, biasanya disertai titik-titik dukungan harga tertentu. Beberapa saham selalu mengalami koreksi sekitar 3/8 dari gelombang sebelumnya, rasio ini kemudian dikenal sebagai “Fibonacci retracement”.
Dalam pengamatan jangka panjang, saat mencatat harga futures kapas, dia tiba-tiba memahami—“Angka-angka ini bernapas, naik seperti menaiki tangga, turun seperti menapaki tumpukan salju yang runtuh.” Saat itu, Livermore mengaktifkan “saluran energi” dalam dirinya sendiri dan memahami rahasia pasar. Pola-pola yang dia temukan kemudian menjadi dasar teori analisis teknikal.
Dengan pencerahan ini, Livermore memutuskan untuk mencoba secara nyata. Dia menemukan sebuah perusahaan taruhan—pelanggan tidak benar-benar membeli atau menjual saham, melainkan bertaruh pada pergerakan harga, mirip kontrak CFD modern. Dia menginvestasikan 5 dolar dan meraih keuntungan 3,12 dolar. Setelah merasakan manisnya kemenangan, anak muda ini bekerja sambil melakukan trading di perusahaan taruhan. Pada usia 16 tahun, dia keluar dari Paine Webber dan menjadi trader penuh waktu.
Namun, harga keberhasilan membawa iri hati. Karena dia selalu menang, perusahaan taruhan di Boston akhirnya memutuskan untuk melarangnya—melarang masuk ke perusahaan taruhan manapun. Belum genap 20 tahun, Livermore sudah mencapai prestasi “dikeluarkan dari kasino”, tetapi saat itu dia sudah mengumpulkan sekitar 10.000 dolar modal, setara dengan sekitar 300.000 dolar saat ini.
Menampakkan Taring: Perang Pertama Melawan Gempa Bumi 1906
Tahun 1899, saat berusia 23 tahun, Livermore membawa kekayaannya ke New York, panggung keuangan yang lebih besar. Di sana, dia bertemu gadis Indian bernama Nattie Jordan, dan mereka segera menikah. Tetapi pasar New York jauh lebih kompleks daripada Boston. Karena mengandalkan data otomatis dari ticker yang tertunda 30-40 menit, dia sering mengalami kerugian, dan kurang dari setahun setelah menikah, dia mengalami kebangkrutan pertama. Untuk mendapatkan dana, dia meminta Nattie menggadaikan perhiasannya, tetapi ditolak. Enam tahun kemudian, mereka bercerai.
Dalam beberapa tahun berikutnya, Livermore belajar dari pengalaman, membangun kembali karier trading-nya secara stabil. Pada 1906, saat berusia 28 tahun, dia telah mengumpulkan 100.000 dolar. Tetapi keberhasilan itu tidak memberinya kepuasan, malah menimbulkan kecemasan mendalam—dia mulai meragukan pendekatan konservatifnya, merasa uang yang diperoleh tetap membuatnya gelisah. Untuk mengatasi perasaan ini, dia pergi berlibur ke Palm Beach.
Di pantai, saat merenung, Livermore menyiapkan sebuah transaksi yang akan mengubah hidupnya.
Pada 18 April 1906, terjadi gempa bumi berkekuatan 7,9 di San Francisco. Bencana ini menghancurkan kota tersebut. Sebagai pusat transportasi utama di Barat, kerugian besar menimpa Union Pacific Railroad. Pandangan umum pasar adalah bahwa saham kereta akan naik karena kebutuhan pembangunan kembali, tetapi Livermore berpendapat sebaliknya.
Dia melakukan riset lapangan dan menemukan: gempa menyebabkan volume pengangkutan Union Pacific menurun drastis dalam waktu singkat; perusahaan asuransi harus membayar klaim besar, kemungkinan akan menjual saham untuk likuidasi; laporan keuangan perusahaan sebenarnya akan jauh di bawah ekspektasi pasar. Dari segi teknikal, setelah gempa, harga saham sempat rebound (sentimen optimisme pasar), tetapi volume perdagangan menyusut, menunjukkan kekurangan pembeli.
Livermore memutuskan untuk melakukan short selling secara terencana. Dia membangun posisi secara bertahap melalui beberapa broker, menggunakan leverage tinggi tetapi dengan pengelolaan risiko ketat, dalam tiga tahap selama tiga bulan. Pada April hingga Mei, dia mulai membangun posisi short di sekitar 160 dolar; setelah perusahaan mengumumkan kerugian pada Juni, dia menambah posisi, dan harga turun di bawah 150 dolar; pada Juli, pasar panik dan harga jatuh di bawah 100 dolar. Livermore menutup posisi di sekitar 90 dolar, meraih keuntungan lebih dari 250.000 dolar, setara sekitar 7,5 juta dolar saat ini.
Strategi utama yang dia gunakan dalam transaksi ini:
“Metode titik kunci”—dia tidak sekadar short sembarangan, tetapi menunggu konfirmasi tren turun sebelum benar-benar masuk; memahami psikologi pasar—dia tahu bahwa “berita baik selalu menjadi berita buruk”, bahwa awal gempa pasar tampak optimis, tetapi kenyataannya, berita buruk akan terungkap; pengelolaan risiko yang ketat—meskipun menggunakan leverage, dia selalu menyisihkan dana cadangan, menghindari keluar dari posisi karena rebound jangka pendek.
Perang Penobatan: Mendapatkan 3 Juta Dolar dalam Tiga Hari pada 1907
Kemenangan besar tahun 1906 membuat nama Livermore terkenal, tetapi “perang penobatannya” yang sesungguhnya baru akan datang. Pada 1907, dia menemukan ancaman yang lebih besar—perusahaan trust di New York yang berinvestasi dalam obligasi sampah dengan leverage tinggi, sangat bergantung pada pinjaman jangka pendek. Suku bunga antar bank melonjak dari 6% ke 100%, menandakan akan datangnya krisis likuiditas.
Livermore menyamar sebagai pelanggan dan menyelidiki beberapa trust secara diam-diam, memastikan bahwa jaminan mereka sangat buruk. Dia tahu ini akan memicu keruntuhan finansial.
Pada 14 Oktober, dia secara terbuka mempertanyakan kemampuan pembayaran trust Nickebork, memicu penarikan dana besar-besaran. Tiga hari kemudian, trust tersebut bangkrut, dan kepanikan melanda pasar. Livermore melakukan short secara tersebar melalui beberapa broker terhadap saham-saham utama seperti Union Pacific dan US Steel, sekaligus membeli opsi put untuk menghindari deteksi dari bursa.
Pada 22 Oktober, saat kritis, dia memanfaatkan aturan “penyerahan dalam 24 jam” (T+0), menjual semua sahamnya sebelum pasar tutup, dan menggunakan metode “piramida” (menambah posisi short setelah profit), memicu stop-loss otomatis dan mempercepat kejatuhan pasar.
Pada 24 Oktober, puncak kepanikan. Ketua NYSE, Thomas W. Williams, secara pribadi memohon Livermore agar menghentikan short selling, jika tidak, pasar akan benar-benar runtuh. Indeks Dow Jones anjlok 8% dalam satu hari, dan Morgan & Co. segera turun tangan menyelamatkan pasar. Livermore dengan tepat mengatur waktu keluar, menutup 70% posisi short satu jam sebelum Morgan mengumumkan suntikan dana. Saat pasar stabil kembali pada 30 Oktober, dia menutup semua posisi.
Total keuntungan: 3 juta dolar, setara sekitar 100 juta dolar saat ini.
Pertempuran ini mengukuhkan reputasinya sebagai “Raja Short Selling di Wall Street”, sekaligus menyadarkannya akan pentingnya informasi. Ia kemudian membangun jaringan intelijen sendiri, yang menjadi bagian penting dari sistem trading-nya.
Perangkap Kelemahan Manusia: Penipuan Kapas dan Kesombongan Livermore
Kekayaan yang diraih dari keberhasilan membuat Livermore mulai menikmati hidup. Ia membeli kapal pesiar seharga 200.000 dolar, kereta pribadi, dan rumah mewah di West Side. Ia bergabung dengan klub-klub eksklusif dan memiliki banyak selir. Tetapi di balik kemewahan itu, kelemahan manusia mulai muncul.
Beberapa tahun setelah 1907, Livermore menjalin “persahabatan” dengan Teddy Price, otoritas di industri kapas. Price adalah pemilik perkebunan dan trader, yang memiliki informasi langsung tentang pasar kapas spot. Tetapi dia bermain permainan mematikan—mengumumkan secara terbuka bahwa kapas akan kekurangan, sementara diam-diam bersekongkol dengan petani untuk melakukan short.
Price memanfaatkan keinginan Livermore untuk “buktikan kemampuan cross-market”-nya, terus-menerus menyebarkan pandangan bahwa pasokan kapas akan terbatas. Bahkan ketika Livermore menemukan data yang bertentangan dari databasenya, dia tetap percaya kepada “temannya” ini. Akhirnya, dia memegang posisi long kapas sebesar 300 juta pound (jauh melebihi batas wajar), dan saat pasar berbalik, dia merugi 3 juta dolar—tepat sama dengan keuntungan short-nya di 1907.
Kegagalan ini memaksa dia menutup posisi di pasar lain, yang menyebabkan kebangkrutan berturut-turut pada 1915-1916. Lebih menyedihkan lagi, Livermore melanggar tiga aturan utama yang dia buat sendiri: Jangan pernah percaya saran orang lain, jangan pernah menutup posisi rugi secara paksa, dan jangan biarkan narasi fundamental mengalahkan sinyal harga.
Ini bukan hanya pengkhianatan dari teman, tetapi juga hukuman bagi jenius dan kesombongannya—kejatuhan yang pasti bagi orang yang terlalu bangga.
Melawan Segala Rintangan: Mengubah Nasib dengan Baja Bethlehem Steel
Setelah kebangkrutan terakhir pada 1934, Livermore tampaknya sudah benar-benar putus asa. Tetapi kali ini, dia memilih untuk benar-benar mengubah dirinya. Dia mengajukan perlindungan kebangkrutan secara sukarela, mencapai kesepakatan dengan kreditur, dan hanya menyisakan 50.000 dolar untuk kebutuhan hidup. Melalui koneksi rahasia dari saingannya, Daniel Williamson, dia mendapatkan kredit rahasia, tetapi dengan syarat semua transaksi harus dilakukan melalui perusahaan Williamson—yang sebenarnya adalah bentuk pengawasan risiko.
Dengan terpaksa menggunakan leverage 1:5 (sebelumnya dia biasa menggunakan 1:20), dan membatasi posisi maksimal 10% dari total modal, dia mulai membangun kembali disiplin trading-nya.
Saat itu, Perang Dunia I pecah. Livermore dengan tajam mencium peluang bisnis—pesanan militer AS meningkat pesat, dan saham Bethlehem Steel belum mencerminkan prospek ini. Data laporan keuangan yang belum dipublikasikan bocor, volume transaksi melonjak tetapi harga tetap datar, menandakan akumulasi saham secara besar-besaran.
Pada Juli 1915, Livermore mulai membangun posisi pertama, membeli saham seharga 50 dolar, dengan modal 5%. Pada Agustus, harga menembus 60 dolar, dia menambah posisi hingga 30%. Pada September, harga kembali ke 58 dolar, tetapi Livermore menolak berhenti rugi karena yakin tren naik belum terganggu. Ketekunan akhirnya membuahkan hasil—pada Januari tahun berikutnya, harga melonjak ke 700 dolar, dan dia meraih keuntungan 14 kali lipat. Dengan modal 50.000 dolar, Livermore kembali meraup 300.000 dolar.
Paradoks Kekayaan: Dari Miliarder Menjadi Miskin
Setelah itu, puluhan tahun, Livermore terus menjalani kisah tentang uang dan wanita. Pada 1925, dia meraup 10 juta dolar dari perdagangan gandum dan jagung. Pada 1929, saat Wall Street crash besar, dia meraup keuntungan 100 juta dolar dari short secara besar-besaran (setara sekitar 15 miliar dolar saat ini). Tetapi, sepuluh tahun berikutnya, uang itu habis karena perceraian, pajak, dan gaya hidup boros.
Setelah perceraian panjang dan penuh perhatian dari istri pertamanya, Nattie Jordan, dia menikahi penari dari grup opera Zigfeld, Dorothy. Meski Dorothy melahirkan dua anak, Livermore tetap menjalin hubungan asmara dengan aktris opera Eropa, Anita Vennice, bahkan membelikan kapal pesiar mewah dan menamainya sesuai namanya. Dorothy, diabaikan, mulai kecanduan alkohol.
Majalah The New Yorker pernah menulis: “Livermore sangat tajam di pasar seperti pisau bedah, tetapi di dunia asmara, ia buta seperti pemabuk. Sepanjang hidupnya, dia selalu melakukan short di pasar, tetapi selalu long di cinta—dan keduanya membuatnya bangkrut.”
Pada 1931, dia bercerai lagi. Dorothy mendapatkan hak asuh 10 juta dolar, dan kemudian menjual rumah mewah mereka seharga 222.200 dolar—yang dulu bernilai 350.000 dolar—dengan perceraian itu, rumah mewah penuh pelayan, pembantu, koki, dan taman itu hancur. Perhiasan dan cincin pernikahan yang bertuliskan namanya yang dia beli untuk Dorothy juga dijual murah—membekas luka besar di jiwanya.
Pada 1932, saat berusia 55 tahun, dia bertemu dengan Harriet Matz Noble, wanita yang disebut “janda sosial”. Dia tampaknya salah menilai kekayaan Livermore, padahal sebenarnya dia sudah berhutang 2 juta dolar. Setelah kebangkrutan 1934, mereka terpaksa keluar dari apartemen di Manhattan dan hidup dari menjual perhiasan.
Pada November 1940, Harriet bunuh diri di kamar hotel dengan pistol Colt .32 miliknya, meninggalkan surat yang menyatakan “tak mampu lagi menahan kemiskinan dan alkoholnya.” Livermore menulis di diary: “Aku telah membunuh semua orang yang dekat denganku.”
Suara Tembakan Terakhir: Akhir dari Seorang Jenius
28 November 1941, sehari sebelum Thanksgiving, di ruang pakaian Hotel Shirley- Holland di Manhattan, terdengar suara tembakan. Itu adalah hotel yang dipilih istri ketiga, Harriet, untuk bunuh diri setahun sebelumnya. Terjebak dalam depresi berat, Livermore menembakkan pistol Colt .32 yang selalu dibawanya ke pelipisnya. Secara takdir, ini melingkari lingkaran—senjata yang dia beli setelah meraih keuntungan besar dari short selling tahun 1907.
Di atas kertas catatan di hotel, dia meninggalkan tiga kalimat:
“Hidupku adalah sebuah kegagalan.”
“Aku lelah berjuang, tak mampu lagi bertahan.”
“Ini satu-satunya jalan keluar.”
Hanya tersisa 8,24 dolar uang tunai dan satu tiket taruhan pacuan kuda kadaluarsa di saku. Hanya 15 orang yang hadir di pemakamannya, termasuk dua kreditur. Makamnya awalnya tak bertulisan apa-apa, sampai pada tahun 1999, penggemar mengumpulkan dana untuk menuliskan: “Hidupnya membuktikan bahwa pisau tajam dalam transaksi akhirnya akan menusuk dirinya sendiri.”
Warisan Livermore: Nilai Abadi dari Kitab Suci Trading
Livermore mengalami empat kali kebangkrutan dan empat kali bangkit kembali. Metode dan filosofi trading-nya dihormati oleh para master investasi seperti Warren Buffett, George Soros, dan Peter Lynch sebagai “kitab suci trading.” Meskipun hidupnya berakhir tragis, kebijaksanaan trading yang dia tinggalkan tetap bersinar hingga hari ini, 120 tahun kemudian:
“Beli saham yang sedang naik, jual saham yang sedang turun.”—aturan sederhana ini mengajarkan pentingnya mengikuti tren.
“Trading hanya saat pasar menunjukkan tren yang jelas.”—kesabaran saat pasar bergejolak adalah kunci agar tidak terseret keluar.
“Wall Street tidak pernah berubah. Kantong berubah, saham berubah, tetapi manusia tidak pernah berubah.”—ini adalah wawasan terdalam Livermore—inti perubahan pasar adalah pengulangan sifat manusia.
“Investor harus waspada terhadap banyak hal, terutama terhadap diri sendiri.”—Livermore mengajarkan bahwa musuh terbesar seringkali adalah keserakahan dan kesombongan diri sendiri.
“Pasar tidak pernah salah, hanya manusia yang salah.”—ketika trading gagal, yang harus direnungkan bukan pasar, tetapi diri sendiri.
“Mendapatkan uang besar membutuhkan kesabaran, bukan trading aktif yang sering.”—ini kontras dengan tren trading harian modern.
“Spekulasi adalah permainan paling memikat di dunia, tetapi orang bodoh tidak boleh bermain, malas tidak boleh bermain, dan yang lemah mental tidak boleh bermain.”—peringatan terakhir untuk semua investor.
Kehidupan Livermore adalah tragedi tentang jenius, keinginan, sistem, dan manusia. Ia menemukan kode pasar, tetapi tidak mampu memecahkan misteri hati manusia. Ia membuktikan bahwa dengan aturan tertentu, seseorang bisa menaklukkan Wall Street, tetapi hanya dengan pengenalan diri yang sempurna, seseorang bisa menaklukkan hidup. Kisahnya mengingatkan setiap peserta pasar: sistem trading yang sukses bisa membuatmu mendapatkan uang, tetapi hanya pengenalan diri yang lengkap yang bisa membawamu meraih kehidupan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Dari lima dolar hingga impian jutaan: Legenda short selling dan paradoks manusia Li Fo Mo
Kehidupan Jesse Livermore adalah sebuah epik tentang jenius keuangan dan kelemahan manusia. Ia tumbuh dari seorang anak petani miskin menjadi “Raja Short Selling di Wall Street”, meraih kekayaan yang dalam satu transaksi setara dengan 100 juta dolar hari ini, namun akhirnya mengakhiri hidupnya karena depresi. Kisahnya bukan hanya tentang bagaimana meraih keuntungan di pasar, tetapi juga tentang bagaimana seorang jenius dihancurkan oleh keinginan dan kesombongannya sendiri.
Semangat Muda: Dari Anak Petani Miskin ke Pendatang Baru di Wall Street
Lahir tahun 1877 di Massachusetts dari keluarga petani miskin, sejak usia tiga setengah tahun sudah bisa membaca dan menulis, dan sejak lima tahun sudah mulai membaca surat kabar keuangan. Sejak kecil, Livermore menunjukkan bakat matematika yang luar biasa, tetapi takdir keluarganya tampaknya sudah diputuskan—ayahnya menginginkan dia mewarisi kehidupan petani.
Musim semi 1891, saat berusia 14 tahun, Livermore menolak takdir tersebut. Dengan dorongan dari ibunya, dia diam-diam mengumpulkan 5 dolar (setara dengan sekitar 180 dolar saat ini), dan keputusan ini mengubah sejarah Wall Street selamanya. Dengan modal kecil itu, dia menyelinap naik kereta dan kereta kuda, dan melalui perjalanan penuh liku-liku, akhirnya tiba di Boston.
Dia tidak langsung menuju alamat yang diberikan ibunya untuk bergabung dengan kerabat, melainkan berhenti di depan gedung Paine Webber. Deretan angka yang berdenyut menarik perhatiannya. Dengan penampilan yang agak dewasa, dia berhasil diterima sebagai pencatat harga di meja penawaran. Dari saat itu, karier keuangan Livermore resmi dimulai, seorang anak petani akan menemukan kode rahasia miliknya di pasar.
Menemukan Kode Rahasia: Menggunakan Angka untuk Membaca Jiwa Pasar
Dalam pekerjaan harian di meja penawaran, Livermore menemukan pola yang diabaikan orang lain. Ia mulai mencatat angka-angka yang tampaknya acak dan melompat-lompat, menggambar grafik harga di buku kotak, mencari pola di dalamnya.
Pola yang dia temukan meliputi:
Harga saham bukanlah fluktuasi acak, melainkan mengikuti irama tertentu—beberapa kombinasi harga akan berulang, seperti pola tetap dalam permainan kartu. Harga saham Union Pacific Railway sering menunjukkan fluktuasi serupa pada pukul 11:15 pagi dan 2:30 siang, seolah-olah didorong oleh “pasang surut tak terlihat”. Ketika broker menerima order besar, biasanya disertai titik-titik dukungan harga tertentu. Beberapa saham selalu mengalami koreksi sekitar 3/8 dari gelombang sebelumnya, rasio ini kemudian dikenal sebagai “Fibonacci retracement”.
Dalam pengamatan jangka panjang, saat mencatat harga futures kapas, dia tiba-tiba memahami—“Angka-angka ini bernapas, naik seperti menaiki tangga, turun seperti menapaki tumpukan salju yang runtuh.” Saat itu, Livermore mengaktifkan “saluran energi” dalam dirinya sendiri dan memahami rahasia pasar. Pola-pola yang dia temukan kemudian menjadi dasar teori analisis teknikal.
Dengan pencerahan ini, Livermore memutuskan untuk mencoba secara nyata. Dia menemukan sebuah perusahaan taruhan—pelanggan tidak benar-benar membeli atau menjual saham, melainkan bertaruh pada pergerakan harga, mirip kontrak CFD modern. Dia menginvestasikan 5 dolar dan meraih keuntungan 3,12 dolar. Setelah merasakan manisnya kemenangan, anak muda ini bekerja sambil melakukan trading di perusahaan taruhan. Pada usia 16 tahun, dia keluar dari Paine Webber dan menjadi trader penuh waktu.
Namun, harga keberhasilan membawa iri hati. Karena dia selalu menang, perusahaan taruhan di Boston akhirnya memutuskan untuk melarangnya—melarang masuk ke perusahaan taruhan manapun. Belum genap 20 tahun, Livermore sudah mencapai prestasi “dikeluarkan dari kasino”, tetapi saat itu dia sudah mengumpulkan sekitar 10.000 dolar modal, setara dengan sekitar 300.000 dolar saat ini.
Menampakkan Taring: Perang Pertama Melawan Gempa Bumi 1906
Tahun 1899, saat berusia 23 tahun, Livermore membawa kekayaannya ke New York, panggung keuangan yang lebih besar. Di sana, dia bertemu gadis Indian bernama Nattie Jordan, dan mereka segera menikah. Tetapi pasar New York jauh lebih kompleks daripada Boston. Karena mengandalkan data otomatis dari ticker yang tertunda 30-40 menit, dia sering mengalami kerugian, dan kurang dari setahun setelah menikah, dia mengalami kebangkrutan pertama. Untuk mendapatkan dana, dia meminta Nattie menggadaikan perhiasannya, tetapi ditolak. Enam tahun kemudian, mereka bercerai.
Dalam beberapa tahun berikutnya, Livermore belajar dari pengalaman, membangun kembali karier trading-nya secara stabil. Pada 1906, saat berusia 28 tahun, dia telah mengumpulkan 100.000 dolar. Tetapi keberhasilan itu tidak memberinya kepuasan, malah menimbulkan kecemasan mendalam—dia mulai meragukan pendekatan konservatifnya, merasa uang yang diperoleh tetap membuatnya gelisah. Untuk mengatasi perasaan ini, dia pergi berlibur ke Palm Beach.
Di pantai, saat merenung, Livermore menyiapkan sebuah transaksi yang akan mengubah hidupnya.
Pada 18 April 1906, terjadi gempa bumi berkekuatan 7,9 di San Francisco. Bencana ini menghancurkan kota tersebut. Sebagai pusat transportasi utama di Barat, kerugian besar menimpa Union Pacific Railroad. Pandangan umum pasar adalah bahwa saham kereta akan naik karena kebutuhan pembangunan kembali, tetapi Livermore berpendapat sebaliknya.
Dia melakukan riset lapangan dan menemukan: gempa menyebabkan volume pengangkutan Union Pacific menurun drastis dalam waktu singkat; perusahaan asuransi harus membayar klaim besar, kemungkinan akan menjual saham untuk likuidasi; laporan keuangan perusahaan sebenarnya akan jauh di bawah ekspektasi pasar. Dari segi teknikal, setelah gempa, harga saham sempat rebound (sentimen optimisme pasar), tetapi volume perdagangan menyusut, menunjukkan kekurangan pembeli.
Livermore memutuskan untuk melakukan short selling secara terencana. Dia membangun posisi secara bertahap melalui beberapa broker, menggunakan leverage tinggi tetapi dengan pengelolaan risiko ketat, dalam tiga tahap selama tiga bulan. Pada April hingga Mei, dia mulai membangun posisi short di sekitar 160 dolar; setelah perusahaan mengumumkan kerugian pada Juni, dia menambah posisi, dan harga turun di bawah 150 dolar; pada Juli, pasar panik dan harga jatuh di bawah 100 dolar. Livermore menutup posisi di sekitar 90 dolar, meraih keuntungan lebih dari 250.000 dolar, setara sekitar 7,5 juta dolar saat ini.
Strategi utama yang dia gunakan dalam transaksi ini:
“Metode titik kunci”—dia tidak sekadar short sembarangan, tetapi menunggu konfirmasi tren turun sebelum benar-benar masuk; memahami psikologi pasar—dia tahu bahwa “berita baik selalu menjadi berita buruk”, bahwa awal gempa pasar tampak optimis, tetapi kenyataannya, berita buruk akan terungkap; pengelolaan risiko yang ketat—meskipun menggunakan leverage, dia selalu menyisihkan dana cadangan, menghindari keluar dari posisi karena rebound jangka pendek.
Perang Penobatan: Mendapatkan 3 Juta Dolar dalam Tiga Hari pada 1907
Kemenangan besar tahun 1906 membuat nama Livermore terkenal, tetapi “perang penobatannya” yang sesungguhnya baru akan datang. Pada 1907, dia menemukan ancaman yang lebih besar—perusahaan trust di New York yang berinvestasi dalam obligasi sampah dengan leverage tinggi, sangat bergantung pada pinjaman jangka pendek. Suku bunga antar bank melonjak dari 6% ke 100%, menandakan akan datangnya krisis likuiditas.
Livermore menyamar sebagai pelanggan dan menyelidiki beberapa trust secara diam-diam, memastikan bahwa jaminan mereka sangat buruk. Dia tahu ini akan memicu keruntuhan finansial.
Pada 14 Oktober, dia secara terbuka mempertanyakan kemampuan pembayaran trust Nickebork, memicu penarikan dana besar-besaran. Tiga hari kemudian, trust tersebut bangkrut, dan kepanikan melanda pasar. Livermore melakukan short secara tersebar melalui beberapa broker terhadap saham-saham utama seperti Union Pacific dan US Steel, sekaligus membeli opsi put untuk menghindari deteksi dari bursa.
Pada 22 Oktober, saat kritis, dia memanfaatkan aturan “penyerahan dalam 24 jam” (T+0), menjual semua sahamnya sebelum pasar tutup, dan menggunakan metode “piramida” (menambah posisi short setelah profit), memicu stop-loss otomatis dan mempercepat kejatuhan pasar.
Pada 24 Oktober, puncak kepanikan. Ketua NYSE, Thomas W. Williams, secara pribadi memohon Livermore agar menghentikan short selling, jika tidak, pasar akan benar-benar runtuh. Indeks Dow Jones anjlok 8% dalam satu hari, dan Morgan & Co. segera turun tangan menyelamatkan pasar. Livermore dengan tepat mengatur waktu keluar, menutup 70% posisi short satu jam sebelum Morgan mengumumkan suntikan dana. Saat pasar stabil kembali pada 30 Oktober, dia menutup semua posisi.
Total keuntungan: 3 juta dolar, setara sekitar 100 juta dolar saat ini.
Pertempuran ini mengukuhkan reputasinya sebagai “Raja Short Selling di Wall Street”, sekaligus menyadarkannya akan pentingnya informasi. Ia kemudian membangun jaringan intelijen sendiri, yang menjadi bagian penting dari sistem trading-nya.
Perangkap Kelemahan Manusia: Penipuan Kapas dan Kesombongan Livermore
Kekayaan yang diraih dari keberhasilan membuat Livermore mulai menikmati hidup. Ia membeli kapal pesiar seharga 200.000 dolar, kereta pribadi, dan rumah mewah di West Side. Ia bergabung dengan klub-klub eksklusif dan memiliki banyak selir. Tetapi di balik kemewahan itu, kelemahan manusia mulai muncul.
Beberapa tahun setelah 1907, Livermore menjalin “persahabatan” dengan Teddy Price, otoritas di industri kapas. Price adalah pemilik perkebunan dan trader, yang memiliki informasi langsung tentang pasar kapas spot. Tetapi dia bermain permainan mematikan—mengumumkan secara terbuka bahwa kapas akan kekurangan, sementara diam-diam bersekongkol dengan petani untuk melakukan short.
Price memanfaatkan keinginan Livermore untuk “buktikan kemampuan cross-market”-nya, terus-menerus menyebarkan pandangan bahwa pasokan kapas akan terbatas. Bahkan ketika Livermore menemukan data yang bertentangan dari databasenya, dia tetap percaya kepada “temannya” ini. Akhirnya, dia memegang posisi long kapas sebesar 300 juta pound (jauh melebihi batas wajar), dan saat pasar berbalik, dia merugi 3 juta dolar—tepat sama dengan keuntungan short-nya di 1907.
Kegagalan ini memaksa dia menutup posisi di pasar lain, yang menyebabkan kebangkrutan berturut-turut pada 1915-1916. Lebih menyedihkan lagi, Livermore melanggar tiga aturan utama yang dia buat sendiri: Jangan pernah percaya saran orang lain, jangan pernah menutup posisi rugi secara paksa, dan jangan biarkan narasi fundamental mengalahkan sinyal harga.
Ini bukan hanya pengkhianatan dari teman, tetapi juga hukuman bagi jenius dan kesombongannya—kejatuhan yang pasti bagi orang yang terlalu bangga.
Melawan Segala Rintangan: Mengubah Nasib dengan Baja Bethlehem Steel
Setelah kebangkrutan terakhir pada 1934, Livermore tampaknya sudah benar-benar putus asa. Tetapi kali ini, dia memilih untuk benar-benar mengubah dirinya. Dia mengajukan perlindungan kebangkrutan secara sukarela, mencapai kesepakatan dengan kreditur, dan hanya menyisakan 50.000 dolar untuk kebutuhan hidup. Melalui koneksi rahasia dari saingannya, Daniel Williamson, dia mendapatkan kredit rahasia, tetapi dengan syarat semua transaksi harus dilakukan melalui perusahaan Williamson—yang sebenarnya adalah bentuk pengawasan risiko.
Dengan terpaksa menggunakan leverage 1:5 (sebelumnya dia biasa menggunakan 1:20), dan membatasi posisi maksimal 10% dari total modal, dia mulai membangun kembali disiplin trading-nya.
Saat itu, Perang Dunia I pecah. Livermore dengan tajam mencium peluang bisnis—pesanan militer AS meningkat pesat, dan saham Bethlehem Steel belum mencerminkan prospek ini. Data laporan keuangan yang belum dipublikasikan bocor, volume transaksi melonjak tetapi harga tetap datar, menandakan akumulasi saham secara besar-besaran.
Pada Juli 1915, Livermore mulai membangun posisi pertama, membeli saham seharga 50 dolar, dengan modal 5%. Pada Agustus, harga menembus 60 dolar, dia menambah posisi hingga 30%. Pada September, harga kembali ke 58 dolar, tetapi Livermore menolak berhenti rugi karena yakin tren naik belum terganggu. Ketekunan akhirnya membuahkan hasil—pada Januari tahun berikutnya, harga melonjak ke 700 dolar, dan dia meraih keuntungan 14 kali lipat. Dengan modal 50.000 dolar, Livermore kembali meraup 300.000 dolar.
Paradoks Kekayaan: Dari Miliarder Menjadi Miskin
Setelah itu, puluhan tahun, Livermore terus menjalani kisah tentang uang dan wanita. Pada 1925, dia meraup 10 juta dolar dari perdagangan gandum dan jagung. Pada 1929, saat Wall Street crash besar, dia meraup keuntungan 100 juta dolar dari short secara besar-besaran (setara sekitar 15 miliar dolar saat ini). Tetapi, sepuluh tahun berikutnya, uang itu habis karena perceraian, pajak, dan gaya hidup boros.
Setelah perceraian panjang dan penuh perhatian dari istri pertamanya, Nattie Jordan, dia menikahi penari dari grup opera Zigfeld, Dorothy. Meski Dorothy melahirkan dua anak, Livermore tetap menjalin hubungan asmara dengan aktris opera Eropa, Anita Vennice, bahkan membelikan kapal pesiar mewah dan menamainya sesuai namanya. Dorothy, diabaikan, mulai kecanduan alkohol.
Majalah The New Yorker pernah menulis: “Livermore sangat tajam di pasar seperti pisau bedah, tetapi di dunia asmara, ia buta seperti pemabuk. Sepanjang hidupnya, dia selalu melakukan short di pasar, tetapi selalu long di cinta—dan keduanya membuatnya bangkrut.”
Pada 1931, dia bercerai lagi. Dorothy mendapatkan hak asuh 10 juta dolar, dan kemudian menjual rumah mewah mereka seharga 222.200 dolar—yang dulu bernilai 350.000 dolar—dengan perceraian itu, rumah mewah penuh pelayan, pembantu, koki, dan taman itu hancur. Perhiasan dan cincin pernikahan yang bertuliskan namanya yang dia beli untuk Dorothy juga dijual murah—membekas luka besar di jiwanya.
Pada 1932, saat berusia 55 tahun, dia bertemu dengan Harriet Matz Noble, wanita yang disebut “janda sosial”. Dia tampaknya salah menilai kekayaan Livermore, padahal sebenarnya dia sudah berhutang 2 juta dolar. Setelah kebangkrutan 1934, mereka terpaksa keluar dari apartemen di Manhattan dan hidup dari menjual perhiasan.
Pada November 1940, Harriet bunuh diri di kamar hotel dengan pistol Colt .32 miliknya, meninggalkan surat yang menyatakan “tak mampu lagi menahan kemiskinan dan alkoholnya.” Livermore menulis di diary: “Aku telah membunuh semua orang yang dekat denganku.”
Suara Tembakan Terakhir: Akhir dari Seorang Jenius
28 November 1941, sehari sebelum Thanksgiving, di ruang pakaian Hotel Shirley- Holland di Manhattan, terdengar suara tembakan. Itu adalah hotel yang dipilih istri ketiga, Harriet, untuk bunuh diri setahun sebelumnya. Terjebak dalam depresi berat, Livermore menembakkan pistol Colt .32 yang selalu dibawanya ke pelipisnya. Secara takdir, ini melingkari lingkaran—senjata yang dia beli setelah meraih keuntungan besar dari short selling tahun 1907.
Di atas kertas catatan di hotel, dia meninggalkan tiga kalimat:
“Hidupku adalah sebuah kegagalan.”
“Aku lelah berjuang, tak mampu lagi bertahan.”
“Ini satu-satunya jalan keluar.”
Hanya tersisa 8,24 dolar uang tunai dan satu tiket taruhan pacuan kuda kadaluarsa di saku. Hanya 15 orang yang hadir di pemakamannya, termasuk dua kreditur. Makamnya awalnya tak bertulisan apa-apa, sampai pada tahun 1999, penggemar mengumpulkan dana untuk menuliskan: “Hidupnya membuktikan bahwa pisau tajam dalam transaksi akhirnya akan menusuk dirinya sendiri.”
Warisan Livermore: Nilai Abadi dari Kitab Suci Trading
Livermore mengalami empat kali kebangkrutan dan empat kali bangkit kembali. Metode dan filosofi trading-nya dihormati oleh para master investasi seperti Warren Buffett, George Soros, dan Peter Lynch sebagai “kitab suci trading.” Meskipun hidupnya berakhir tragis, kebijaksanaan trading yang dia tinggalkan tetap bersinar hingga hari ini, 120 tahun kemudian:
“Beli saham yang sedang naik, jual saham yang sedang turun.”—aturan sederhana ini mengajarkan pentingnya mengikuti tren.
“Trading hanya saat pasar menunjukkan tren yang jelas.”—kesabaran saat pasar bergejolak adalah kunci agar tidak terseret keluar.
“Wall Street tidak pernah berubah. Kantong berubah, saham berubah, tetapi manusia tidak pernah berubah.”—ini adalah wawasan terdalam Livermore—inti perubahan pasar adalah pengulangan sifat manusia.
“Investor harus waspada terhadap banyak hal, terutama terhadap diri sendiri.”—Livermore mengajarkan bahwa musuh terbesar seringkali adalah keserakahan dan kesombongan diri sendiri.
“Pasar tidak pernah salah, hanya manusia yang salah.”—ketika trading gagal, yang harus direnungkan bukan pasar, tetapi diri sendiri.
“Mendapatkan uang besar membutuhkan kesabaran, bukan trading aktif yang sering.”—ini kontras dengan tren trading harian modern.
“Spekulasi adalah permainan paling memikat di dunia, tetapi orang bodoh tidak boleh bermain, malas tidak boleh bermain, dan yang lemah mental tidak boleh bermain.”—peringatan terakhir untuk semua investor.
Kehidupan Livermore adalah tragedi tentang jenius, keinginan, sistem, dan manusia. Ia menemukan kode pasar, tetapi tidak mampu memecahkan misteri hati manusia. Ia membuktikan bahwa dengan aturan tertentu, seseorang bisa menaklukkan Wall Street, tetapi hanya dengan pengenalan diri yang sempurna, seseorang bisa menaklukkan hidup. Kisahnya mengingatkan setiap peserta pasar: sistem trading yang sukses bisa membuatmu mendapatkan uang, tetapi hanya pengenalan diri yang lengkap yang bisa membawamu meraih kehidupan.