Pada akhir tahun 2025, Renminbi berhasil menembus batas psikologis 7.0, menandai berakhirnya siklus depresiasi selama tiga tahun. Memasuki tahun 2026, apakah tren apresiasi ini layak untuk diikuti? Apakah membeli Renminbi benar-benar menguntungkan? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami terlebih dahulu situasi pasar saat ini dan arah perkembangan di masa depan.
Siklus baru apresiasi Renminbi telah dimulai
Pada tahun 2025, nilai tukar dolar AS terhadap Renminbi berfluktuasi dalam kisaran 6.95 hingga 7.35, dengan apresiasi total sekitar 4% sepanjang tahun. Terutama pada pertengahan Desember, didorong oleh penurunan suku bunga Federal Reserve dan perbaikan sentimen pasar, Renminbi menguat kuat menembus angka 7.05, dan secara resmi menembus angka 7.0 pada 30 Desember, akhirnya mendekati 6.9623. Peristiwa ini menandai berakhirnya tren depresiasi sejak 2022 dan memasuki siklus apresiasi jangka menengah hingga panjang yang baru.
Mengenang kembali gejolak tahun lalu, semester pertama Renminbi menghadapi berbagai tekanan. Ketidakpastian kebijakan tarif global, penguatan indeks dolar AS yang berkelanjutan, serta meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China, sempat menyebabkan nilai tukar offshore Renminbi menembus angka 7.40, bahkan mencatat rekor baru sejak reformasi kurs 8.11 tahun 2015. Namun, memasuki semester kedua, seiring dengan kemajuan negosiasi perdagangan AS-China, munculnya tanda-tanda relaksasi hubungan bilateral, dan melemahnya indeks dolar AS, nilai tukar Renminbi mulai stabil dan menguat secara bertahap.
Di tengah penguatan umum mata uang utama non-AS seperti Euro dan Poundsterling, Renminbi terhadap dolar AS juga mengalami apresiasi moderat, dan sentimen pasar pun menjadi lebih stabil. Perubahan ini bukan sekadar fluktuasi jangka pendek, melainkan mencerminkan perubahan ekonomi dan kebijakan yang lebih mendalam.
Tiga faktor utama yang mendorong apresiasi Renminbi
Untuk menilai apakah membeli Renminbi adalah langkah bijak, kita harus memahami faktor-faktor dasar yang mendukung tren penguatan ini. Analisis pasar umumnya mengidentifikasi tiga kekuatan kunci yang akan mendorong Renminbi menguat di masa depan:
Faktor pertama: Ketahanan ekspor China terus terbukti
Meski menghadapi lingkungan eksternal yang kompleks, pertumbuhan ekspor China menunjukkan ketahanan yang kuat. Ini mencerminkan daya saing industri manufaktur China yang tetap kokoh, serta permintaan nyata dari pasar internasional terhadap Renminbi yang tetap stabil. Ketika produk China menduduki posisi penting dalam perdagangan global, membeli Renminbi sama artinya dengan bertaruh pada kekuatan eksternal ekonomi China.
Faktor kedua: Re-penataan aset Renminbi oleh investor asing
Setelah bertahun-tahun keluar dari pasar, investor internasional mulai meninjau kembali nilai aset China. Seiring dengan pelaksanaan langkah-langkah kebijakan untuk stabilisasi pertumbuhan yang perlahan berkembang dan meningkatnya daya tarik pasar modal China, arus modal asing kembali menjadi tren baru. Pergerakan dana ini secara langsung meningkatkan permintaan terhadap Renminbi, menjadi pendorong utama penguatan mata uang ini.
Faktor ketiga: Terbentuknya kelemahan struktural dolar AS
Pada tahun 2026, Federal Reserve diperkirakan masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga sebanyak 2 hingga 3 kali. Dengan pasar tenaga kerja yang semakin seimbang, fokus Fed beralih ke upaya mencegah perlambatan ekonomi yang keras. Kebijakan penurunan suku bunga secara preventif ini melemahkan daya tarik hasil obligasi AS, menyebabkan modal global secara bertahap mengalir kembali dari dolar ke pasar negara berkembang. Lemahnya dolar secara struktural memberi peluang langka bagi Renminbi untuk menguat.
Dukungan dan risiko utama terhadap dolar AS terhadap Renminbi
Memahami arah masa depan Renminbi memerlukan perhatian terhadap empat variabel utama yang mempengaruhi pergerakan dolar AS:
Potensi ruang penguatan indeks dolar AS
Memasuki Januari 2026, indeks dolar AS telah kembali ke kisaran 98.8 hingga 98.2. Tren de-dolarisasi global dan penetapan sikap dovish Federal Reserve telah mengimbangi kekuatan rebound jangka pendek dolar. Namun, pasar tetap berharap terhadap ketahanan ekonomi AS, yang berarti dolar masih berpotensi rebound, meskipun ruang penurunan relatif terbatas.
Keseimbangan rapuh hubungan ekonomi dan perdagangan AS-China
Negosiasi perdagangan terbaru di Kuala Lumpur mencapai kesepakatan gencatan senjata. Amerika menurunkan tarif terkait fentanyl dari 20% menjadi 10%, dan menangguhkan kenaikan tarif 24% dalam langkah timbal balik hingga November 2026. Kedua negara juga sepakat menunda penerapan pembatasan ekspor rare earth dan biaya pelabuhan, serta memperluas pembelian produk pertanian AS seperti kedelai.
Namun, keseimbangan ini tetap rapuh. Apakah perbaikan substantif hubungan ekonomi dan perdagangan AS-China dapat berlanjut hingga paruh kedua 2026, menjadi faktor utama ketidakpastian eksternal dalam pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap Renminbi. Jika kondisi ini dipertahankan, lingkungan nilai tukar Renminbi cenderung stabil; sebaliknya, jika ketegangan meningkat, Renminbi akan kembali mengalami tekanan.
Kebijakan pelonggaran lebih lanjut dari Federal Reserve
Kebijakan penurunan suku bunga preventif Fed melemahkan daya tarik dolar, tetapi arah kebijakan ini juga memiliki variabel. Jika inflasi AS berulang kali meningkat, Fed mungkin memperlambat langkah penurunan suku bunga, yang akan menahan penguatan Renminbi.
Kebijakan Bank Sentral China (PBOC) yang seimbang
Bank Sentral China cenderung mempertahankan kebijakan moneter longgar untuk mendukung pemulihan ekonomi, terutama di tengah lemahnya pasar properti. Namun, kebijakan longgar biasanya memberi tekanan depresiasi terhadap mata uang domestik. PBOC perlu menyeimbangkan antara mendukung pertumbuhan dan menjaga stabilitas nilai tukar, dan koordinasi kebijakan ini akan langsung mempengaruhi tren jangka menengah Renminbi.
Konsensus optimisme bank investasi global terhadap Renminbi
Beberapa bank investasi top dunia menunjukkan pandangan optimis terhadap prospek Renminbi, memberikan dukungan kuat untuk membeli Renminbi:
Deutsche Bank dalam analisanya menyatakan bahwa penguatan Renminbi terhadap dolar AS akhir-akhir ini mungkin menandai dimulainya siklus apresiasi jangka panjang. Bank ini memperkirakan, pada 2026, nilai tukar Renminbi terhadap dolar AS bisa naik ke sekitar 6.7.
Goldman Sachs juga optimistis terhadap masa depan Renminbi, memperkirakan target nilai tukar di angka 6.85 pada 2026, didukung oleh kebijakan yang mendukung.
Prediksi ini menunjukkan bahwa, jika analisis bank investasi benar, dari posisi saat ini di sekitar 6.96, penguatan ke kisaran 6.70–6.85 masih memungkinkan, dengan potensi apresiasi sekitar 5% hingga 9%.
Waktu dan strategi membeli Renminbi saat ini
Pertanyaan utama terkait apakah saat ini tepat untuk membeli Renminbi dan strategi apa yang harus diambil, tergantung pada kerangka waktu investasi Anda.
Penilaian jangka pendek
Dalam waktu dekat, Renminbi diperkirakan akan tetap berfluktuasi dalam tren penguatan yang kuat. Setelah berhasil menembus angka psikologis 7.0 di akhir 2025, posisi saat ini sangat terkait dengan indeks dolar AS, namun didukung oleh level support yang kuat di kisaran 6.9. Karena awal 2026 sudah menembus di bawah 7.0, kemungkinan besar dalam waktu dekat tidak akan kembali melemah di atas 7.1. Pasar sedang mencari keseimbangan baru di kisaran 6.90–7.00.
Tiga variabel utama yang perlu diperhatikan
Sebelum membeli Renminbi, investor harus memantau tiga variabel berikut:
Pergerakan indeks dolar AS selanjutnya — Apakah ekspektasi penurunan suku bunga Fed di 2026 akan semakin melemahkan dolar, menentukan potensi penguatan Renminbi.
Sinyal penyesuaian kecil dari otoritas terkait nilai tukar — Apakah regulator akan menggunakan kurs tengah untuk memberi sinyal perlindungan agar apresiasi tidak terlalu cepat, misalnya dengan menahan kenaikan nilai tukar jika terlalu cepat.
Efektivitas kebijakan stabilisasi pertumbuhan China — Seberapa besar kebijakan stabilisasi pertumbuhan di 2026 akan mampu meningkatkan permintaan domestik dan pasar saham, yang akan menentukan dasar jangka panjang nilai tukar Renminbi.
Saran investasi
Terkait apakah membeli Renminbi menguntungkan, jawabannya bergantung pada kerangka waktu investasi Anda:
Trader jangka pendek (3-6 bulan): Renminbi saat ini sudah memiliki support di kisaran 6.90–7.00, dan dapat diikuti secara moderat. Namun, harus menetapkan stop-loss di atas 6.85 untuk mengantisipasi perubahan kebijakan.
Pengaturan posisi menengah (6-12 bulan): Berdasarkan prediksi bank investasi di kisaran 6.70–6.85, ada peluang yang cukup baik. Disarankan melakukan pembelian secara bertahap, menambah posisi secara perlahan.
Investasi jangka panjang (lebih dari 1 tahun): Renminbi secara resmi memasuki siklus apresiasi, prospek jangka panjangnya optimistis. Bisa mempertimbangkan pembelian aset berbasis Renminbi secara rutin atau menempatkan dana di obligasi berdenominasi Renminbi di China untuk ikut merasakan kenaikan nilai.
Kerangka investasi untuk menilai tren Renminbi
Pengambilan keputusan membeli Renminbi sebaiknya tidak dilakukan secara impulsif, melainkan berdasarkan pemahaman sistematis terhadap pasar. Berikut empat kerangka yang dapat membantu investor dalam menilai tren Renminbi secara berkelanjutan:
1. Arah kebijakan moneter Bank Sentral China (PBOC)
Kebijakan PBOC langsung mempengaruhi pasokan uang dan nilai tukar. Ketika bank sentral melonggarkan kebijakan (misalnya menurunkan suku bunga atau rasio cadangan), ekspektasi likuiditas meningkat dan nilai tukar cenderung melemah. Sebaliknya, jika kebijakan mengetat (menaikkan suku bunga atau rasio cadangan), likuiditas berkurang dan Renminbi menguat.
Contoh nyata adalah tahun 2014, ketika PBOC memulai siklus pelonggaran dengan menurunkan suku bunga kredit sebanyak enam kali berturut-turut dan secara besar-besaran menurunkan rasio cadangan. Pada saat yang sama, dolar AS terhadap Renminbi naik dari 6 ke hampir 7.4, menunjukkan pengaruh jangka panjang kebijakan moneter terhadap nilai tukar.
2. Data ekonomi China yang relatif
Kinerja ekonomi China yang stabil akan menarik masuknya investasi asing, meningkatkan permintaan terhadap Renminbi dan mendorong penguatannya. Sebaliknya, perlambatan ekonomi akan menekan arus masuk modal asing. Indikator ekonomi penting meliputi:
GDP — Dirilis triwulanan, mencerminkan kondisi makroekonomi
PMI — Dirilis bulanan, untuk sektor manufaktur dan jasa, sebagai indikator awal
CPI — Dirilis bulanan, mengukur inflasi
Investasi tetap perkotaan — Dirilis bulanan, menunjukkan dinamika ekonomi
3. Indeks dolar AS dan kebijakan Federal Reserve
Pergerakan dolar AS secara langsung mempengaruhi nilai tukar USD/RMB. Kebijakan Fed dan ECB sering menjadi pusat perhatian. Contohnya, awal 2017, ketika ekonomi Eropa pulih kuat dan ECB mengisyaratkan pengetatan, euro menguat. Pada saat yang sama, indeks dolar AS turun 15% sepanjang tahun, dan nilai tukar USD/RMB pun mengikuti, menunjukkan korelasi tinggi.
4. Arah kebijakan resmi terhadap nilai tukar
Sejak reformasi tahun 1978, China telah melakukan berbagai reformasi pengelolaan nilai tukar. Pada 26 Mei 2017, terakhir kali dilakukan penyesuaian besar dengan mengubah model penetapan kurs tengah menjadi “harga penutupan + keranjang mata uang + faktor siklikal terbalik”, memperkuat peran panduan resmi.
Pengamatan selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pendekatan ini dan mekanisme penetapan harga sangat mempengaruhi nilai tukar jangka pendek, tetapi tren jangka menengah dan panjang tetap mengikuti arah pasar valuta asing secara umum. Investor perlu memperhatikan sinyal resmi dan kekuatan pasar secara bersamaan.
Gambaran lima tahun tren Renminbi
Untuk menilai apakah saat ini tepat membeli Renminbi, penting memahami pergerakan selama lima tahun terakhir:
2020: Awal tahun berfluktuasi di kisaran 6.9–7.0, dipicu ketegangan perdagangan AS-China dan pandemi, sempat melemah ke 7.18 Mei. Setelah China mengendalikan pandemi dan ekonomi mulai pulih, serta Fed menurunkan suku bunga ke nol, Renminbi menguat kembali ke sekitar 6.50 di akhir tahun, menguat sekitar 6%.
2021: Ekspor China tetap kuat, bank sentral menjaga kebijakan stabil, indeks dolar AS rendah, dan USD/RMB berfluktuasi dalam kisaran 6.35–6.58, rata-rata tahunan sekitar 6.45.
2022: Tahun perubahan besar. Fed agresif menaikkan suku bunga, indeks dolar melonjak, USD/RMB naik dari 6.35 ke di atas 7.25, melemah sekitar 8%, dan mencatat penurunan terbesar dalam beberapa tahun. Di saat yang sama, kebijakan pandemi ketat dan krisis properti memperlambat ekonomi China.
2023: Pemulihan ekonomi tidak sesuai harapan, utang properti berkelanjutan, konsumsi lesu. Indeks dolar tetap tinggi di kisaran 100–104, dan USD/RMB berfluktuasi antara 6.83 dan 7.35, akhirnya sedikit menguat ke 7.1.
2024: Dolar melemah, stimulus fiskal China meningkatkan kepercayaan. USD/RMB naik dari 7.1 ke sekitar 7.3 di pertengahan tahun, dengan volatilitas meningkat.
2025: Resmi menembus angka 7.0, menandai dimulainya siklus apresiasi.
Dari sejarah ini, jelas bahwa: Waktu terbaik untuk membeli Renminbi biasanya adalah saat akhir siklus depresiasi, ketika kebijakan mulai berbalik dan ekonomi mulai stabil. Saat ini, kita berada di titik balik tersebut.
Signifikansi khusus tren Renminbi di luar negeri (offshore)
Investor yang membeli Renminbi juga perlu memahami perbedaan antara Renminbi onshore (CNY) dan offshore (CNH).
CNH diperdagangkan di pasar internasional (seperti Hong Kong dan Singapura), dengan kebebasan transaksi dan aliran modal yang lebih leluasa, mencerminkan sentimen pasar global. Sedangkan CNY diatur ketat oleh otoritas China melalui kurs tengah harian dan intervensi pasar valuta asing, sehingga volatilitas CNH biasanya lebih besar.
Pada tahun 2025, meskipun mengalami fluktuasi, tren CNH secara umum menunjukkan kenaikan dalam kisaran berombak. Di awal tahun, dipicu kebijakan tarif AS dan lonjakan indeks dolar ke 109.85, CNH sempat menembus angka 7.36. Bank sentral China segera melakukan langkah stabilisasi, termasuk menerbitkan surat utang offshore sebesar 60 miliar yuan untuk mengembalikan likuiditas.
Dalam beberapa bulan terakhir, seiring dengan relaksasi dialog perdagangan AS-China, pelaksanaan kebijakan stabilisasi pertumbuhan China, dan ekspektasi penurunan suku bunga Fed yang meningkat, nilai tukar CNH menguat secara signifikan. Pada 20 Januari 2026, CNH menembus angka 6.95, mencapai level tertinggi dalam hampir 14 bulan.
Kesimpulan akhir: Apakah saat ini tepat membeli Renminbi?
Berdasarkan analisis di atas, membeli Renminbi saat ini cukup menarik, tetapi perlu memperhatikan poin-poin berikut:
Faktor pendukung yang jelas: Renminbi secara resmi memasuki siklus apresiasi, didukung oleh konsensus bank investasi dan tiga faktor utama (ketahanan ekspor, arus modal asing kembali, pelemahan dolar). Kondisi ini cukup kokoh.
Waktu relatif tepat: Dari posisi sekitar 6.96, potensi penguatan ke kisaran 6.70–6.85 masih sekitar 5%–9%. Untuk investor jangka menengah yang bersedia menahan selama lebih dari 6 bulan, risiko dan imbal hasilnya cukup seimbang.
Risiko yang harus diwaspadai: Ketegangan AS-China tetap rapuh, sinyal kebijakan resmi perlu diamati, dan risiko rebound dolar selalu ada. Investor harus menyesuaikan strategi masuk sesuai toleransi risiko dan tidak terlalu agresif.
Saran stratifikasi: Trader jangka pendek dapat memanfaatkan support untuk melakukan trading gelombang, pengaturan posisi menengah bisa dilakukan secara bertahap, dan investor jangka panjang dapat secara bertahap menambah posisi.
Singkatnya, membeli Renminbi bukan untuk mengejar lonjakan jangka pendek, melainkan untuk mengikuti siklus apresiasi yang rasional dan didukung fundamental. Kuncinya adalah mengendalikan risiko, memilih waktu masuk yang tepat, dan menentukan ukuran posisi yang sesuai.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Apakah saat ini saat yang tepat untuk membeli Renminbi? Analisis menyeluruh tentang tren nilai tukar Renminbi tahun 2026 dan peluang investasi
Pada akhir tahun 2025, Renminbi berhasil menembus batas psikologis 7.0, menandai berakhirnya siklus depresiasi selama tiga tahun. Memasuki tahun 2026, apakah tren apresiasi ini layak untuk diikuti? Apakah membeli Renminbi benar-benar menguntungkan? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami terlebih dahulu situasi pasar saat ini dan arah perkembangan di masa depan.
Siklus baru apresiasi Renminbi telah dimulai
Pada tahun 2025, nilai tukar dolar AS terhadap Renminbi berfluktuasi dalam kisaran 6.95 hingga 7.35, dengan apresiasi total sekitar 4% sepanjang tahun. Terutama pada pertengahan Desember, didorong oleh penurunan suku bunga Federal Reserve dan perbaikan sentimen pasar, Renminbi menguat kuat menembus angka 7.05, dan secara resmi menembus angka 7.0 pada 30 Desember, akhirnya mendekati 6.9623. Peristiwa ini menandai berakhirnya tren depresiasi sejak 2022 dan memasuki siklus apresiasi jangka menengah hingga panjang yang baru.
Mengenang kembali gejolak tahun lalu, semester pertama Renminbi menghadapi berbagai tekanan. Ketidakpastian kebijakan tarif global, penguatan indeks dolar AS yang berkelanjutan, serta meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China, sempat menyebabkan nilai tukar offshore Renminbi menembus angka 7.40, bahkan mencatat rekor baru sejak reformasi kurs 8.11 tahun 2015. Namun, memasuki semester kedua, seiring dengan kemajuan negosiasi perdagangan AS-China, munculnya tanda-tanda relaksasi hubungan bilateral, dan melemahnya indeks dolar AS, nilai tukar Renminbi mulai stabil dan menguat secara bertahap.
Di tengah penguatan umum mata uang utama non-AS seperti Euro dan Poundsterling, Renminbi terhadap dolar AS juga mengalami apresiasi moderat, dan sentimen pasar pun menjadi lebih stabil. Perubahan ini bukan sekadar fluktuasi jangka pendek, melainkan mencerminkan perubahan ekonomi dan kebijakan yang lebih mendalam.
Tiga faktor utama yang mendorong apresiasi Renminbi
Untuk menilai apakah membeli Renminbi adalah langkah bijak, kita harus memahami faktor-faktor dasar yang mendukung tren penguatan ini. Analisis pasar umumnya mengidentifikasi tiga kekuatan kunci yang akan mendorong Renminbi menguat di masa depan:
Faktor pertama: Ketahanan ekspor China terus terbukti
Meski menghadapi lingkungan eksternal yang kompleks, pertumbuhan ekspor China menunjukkan ketahanan yang kuat. Ini mencerminkan daya saing industri manufaktur China yang tetap kokoh, serta permintaan nyata dari pasar internasional terhadap Renminbi yang tetap stabil. Ketika produk China menduduki posisi penting dalam perdagangan global, membeli Renminbi sama artinya dengan bertaruh pada kekuatan eksternal ekonomi China.
Faktor kedua: Re-penataan aset Renminbi oleh investor asing
Setelah bertahun-tahun keluar dari pasar, investor internasional mulai meninjau kembali nilai aset China. Seiring dengan pelaksanaan langkah-langkah kebijakan untuk stabilisasi pertumbuhan yang perlahan berkembang dan meningkatnya daya tarik pasar modal China, arus modal asing kembali menjadi tren baru. Pergerakan dana ini secara langsung meningkatkan permintaan terhadap Renminbi, menjadi pendorong utama penguatan mata uang ini.
Faktor ketiga: Terbentuknya kelemahan struktural dolar AS
Pada tahun 2026, Federal Reserve diperkirakan masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga sebanyak 2 hingga 3 kali. Dengan pasar tenaga kerja yang semakin seimbang, fokus Fed beralih ke upaya mencegah perlambatan ekonomi yang keras. Kebijakan penurunan suku bunga secara preventif ini melemahkan daya tarik hasil obligasi AS, menyebabkan modal global secara bertahap mengalir kembali dari dolar ke pasar negara berkembang. Lemahnya dolar secara struktural memberi peluang langka bagi Renminbi untuk menguat.
Dukungan dan risiko utama terhadap dolar AS terhadap Renminbi
Memahami arah masa depan Renminbi memerlukan perhatian terhadap empat variabel utama yang mempengaruhi pergerakan dolar AS:
Potensi ruang penguatan indeks dolar AS
Memasuki Januari 2026, indeks dolar AS telah kembali ke kisaran 98.8 hingga 98.2. Tren de-dolarisasi global dan penetapan sikap dovish Federal Reserve telah mengimbangi kekuatan rebound jangka pendek dolar. Namun, pasar tetap berharap terhadap ketahanan ekonomi AS, yang berarti dolar masih berpotensi rebound, meskipun ruang penurunan relatif terbatas.
Keseimbangan rapuh hubungan ekonomi dan perdagangan AS-China
Negosiasi perdagangan terbaru di Kuala Lumpur mencapai kesepakatan gencatan senjata. Amerika menurunkan tarif terkait fentanyl dari 20% menjadi 10%, dan menangguhkan kenaikan tarif 24% dalam langkah timbal balik hingga November 2026. Kedua negara juga sepakat menunda penerapan pembatasan ekspor rare earth dan biaya pelabuhan, serta memperluas pembelian produk pertanian AS seperti kedelai.
Namun, keseimbangan ini tetap rapuh. Apakah perbaikan substantif hubungan ekonomi dan perdagangan AS-China dapat berlanjut hingga paruh kedua 2026, menjadi faktor utama ketidakpastian eksternal dalam pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap Renminbi. Jika kondisi ini dipertahankan, lingkungan nilai tukar Renminbi cenderung stabil; sebaliknya, jika ketegangan meningkat, Renminbi akan kembali mengalami tekanan.
Kebijakan pelonggaran lebih lanjut dari Federal Reserve
Kebijakan penurunan suku bunga preventif Fed melemahkan daya tarik dolar, tetapi arah kebijakan ini juga memiliki variabel. Jika inflasi AS berulang kali meningkat, Fed mungkin memperlambat langkah penurunan suku bunga, yang akan menahan penguatan Renminbi.
Kebijakan Bank Sentral China (PBOC) yang seimbang
Bank Sentral China cenderung mempertahankan kebijakan moneter longgar untuk mendukung pemulihan ekonomi, terutama di tengah lemahnya pasar properti. Namun, kebijakan longgar biasanya memberi tekanan depresiasi terhadap mata uang domestik. PBOC perlu menyeimbangkan antara mendukung pertumbuhan dan menjaga stabilitas nilai tukar, dan koordinasi kebijakan ini akan langsung mempengaruhi tren jangka menengah Renminbi.
Konsensus optimisme bank investasi global terhadap Renminbi
Beberapa bank investasi top dunia menunjukkan pandangan optimis terhadap prospek Renminbi, memberikan dukungan kuat untuk membeli Renminbi:
Deutsche Bank dalam analisanya menyatakan bahwa penguatan Renminbi terhadap dolar AS akhir-akhir ini mungkin menandai dimulainya siklus apresiasi jangka panjang. Bank ini memperkirakan, pada 2026, nilai tukar Renminbi terhadap dolar AS bisa naik ke sekitar 6.7.
Goldman Sachs juga optimistis terhadap masa depan Renminbi, memperkirakan target nilai tukar di angka 6.85 pada 2026, didukung oleh kebijakan yang mendukung.
Prediksi ini menunjukkan bahwa, jika analisis bank investasi benar, dari posisi saat ini di sekitar 6.96, penguatan ke kisaran 6.70–6.85 masih memungkinkan, dengan potensi apresiasi sekitar 5% hingga 9%.
Waktu dan strategi membeli Renminbi saat ini
Pertanyaan utama terkait apakah saat ini tepat untuk membeli Renminbi dan strategi apa yang harus diambil, tergantung pada kerangka waktu investasi Anda.
Penilaian jangka pendek
Dalam waktu dekat, Renminbi diperkirakan akan tetap berfluktuasi dalam tren penguatan yang kuat. Setelah berhasil menembus angka psikologis 7.0 di akhir 2025, posisi saat ini sangat terkait dengan indeks dolar AS, namun didukung oleh level support yang kuat di kisaran 6.9. Karena awal 2026 sudah menembus di bawah 7.0, kemungkinan besar dalam waktu dekat tidak akan kembali melemah di atas 7.1. Pasar sedang mencari keseimbangan baru di kisaran 6.90–7.00.
Tiga variabel utama yang perlu diperhatikan
Sebelum membeli Renminbi, investor harus memantau tiga variabel berikut:
Pergerakan indeks dolar AS selanjutnya — Apakah ekspektasi penurunan suku bunga Fed di 2026 akan semakin melemahkan dolar, menentukan potensi penguatan Renminbi.
Sinyal penyesuaian kecil dari otoritas terkait nilai tukar — Apakah regulator akan menggunakan kurs tengah untuk memberi sinyal perlindungan agar apresiasi tidak terlalu cepat, misalnya dengan menahan kenaikan nilai tukar jika terlalu cepat.
Efektivitas kebijakan stabilisasi pertumbuhan China — Seberapa besar kebijakan stabilisasi pertumbuhan di 2026 akan mampu meningkatkan permintaan domestik dan pasar saham, yang akan menentukan dasar jangka panjang nilai tukar Renminbi.
Saran investasi
Terkait apakah membeli Renminbi menguntungkan, jawabannya bergantung pada kerangka waktu investasi Anda:
Trader jangka pendek (3-6 bulan): Renminbi saat ini sudah memiliki support di kisaran 6.90–7.00, dan dapat diikuti secara moderat. Namun, harus menetapkan stop-loss di atas 6.85 untuk mengantisipasi perubahan kebijakan.
Pengaturan posisi menengah (6-12 bulan): Berdasarkan prediksi bank investasi di kisaran 6.70–6.85, ada peluang yang cukup baik. Disarankan melakukan pembelian secara bertahap, menambah posisi secara perlahan.
Investasi jangka panjang (lebih dari 1 tahun): Renminbi secara resmi memasuki siklus apresiasi, prospek jangka panjangnya optimistis. Bisa mempertimbangkan pembelian aset berbasis Renminbi secara rutin atau menempatkan dana di obligasi berdenominasi Renminbi di China untuk ikut merasakan kenaikan nilai.
Kerangka investasi untuk menilai tren Renminbi
Pengambilan keputusan membeli Renminbi sebaiknya tidak dilakukan secara impulsif, melainkan berdasarkan pemahaman sistematis terhadap pasar. Berikut empat kerangka yang dapat membantu investor dalam menilai tren Renminbi secara berkelanjutan:
1. Arah kebijakan moneter Bank Sentral China (PBOC)
Kebijakan PBOC langsung mempengaruhi pasokan uang dan nilai tukar. Ketika bank sentral melonggarkan kebijakan (misalnya menurunkan suku bunga atau rasio cadangan), ekspektasi likuiditas meningkat dan nilai tukar cenderung melemah. Sebaliknya, jika kebijakan mengetat (menaikkan suku bunga atau rasio cadangan), likuiditas berkurang dan Renminbi menguat.
Contoh nyata adalah tahun 2014, ketika PBOC memulai siklus pelonggaran dengan menurunkan suku bunga kredit sebanyak enam kali berturut-turut dan secara besar-besaran menurunkan rasio cadangan. Pada saat yang sama, dolar AS terhadap Renminbi naik dari 6 ke hampir 7.4, menunjukkan pengaruh jangka panjang kebijakan moneter terhadap nilai tukar.
2. Data ekonomi China yang relatif
Kinerja ekonomi China yang stabil akan menarik masuknya investasi asing, meningkatkan permintaan terhadap Renminbi dan mendorong penguatannya. Sebaliknya, perlambatan ekonomi akan menekan arus masuk modal asing. Indikator ekonomi penting meliputi:
3. Indeks dolar AS dan kebijakan Federal Reserve
Pergerakan dolar AS secara langsung mempengaruhi nilai tukar USD/RMB. Kebijakan Fed dan ECB sering menjadi pusat perhatian. Contohnya, awal 2017, ketika ekonomi Eropa pulih kuat dan ECB mengisyaratkan pengetatan, euro menguat. Pada saat yang sama, indeks dolar AS turun 15% sepanjang tahun, dan nilai tukar USD/RMB pun mengikuti, menunjukkan korelasi tinggi.
4. Arah kebijakan resmi terhadap nilai tukar
Sejak reformasi tahun 1978, China telah melakukan berbagai reformasi pengelolaan nilai tukar. Pada 26 Mei 2017, terakhir kali dilakukan penyesuaian besar dengan mengubah model penetapan kurs tengah menjadi “harga penutupan + keranjang mata uang + faktor siklikal terbalik”, memperkuat peran panduan resmi.
Pengamatan selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pendekatan ini dan mekanisme penetapan harga sangat mempengaruhi nilai tukar jangka pendek, tetapi tren jangka menengah dan panjang tetap mengikuti arah pasar valuta asing secara umum. Investor perlu memperhatikan sinyal resmi dan kekuatan pasar secara bersamaan.
Gambaran lima tahun tren Renminbi
Untuk menilai apakah saat ini tepat membeli Renminbi, penting memahami pergerakan selama lima tahun terakhir:
2020: Awal tahun berfluktuasi di kisaran 6.9–7.0, dipicu ketegangan perdagangan AS-China dan pandemi, sempat melemah ke 7.18 Mei. Setelah China mengendalikan pandemi dan ekonomi mulai pulih, serta Fed menurunkan suku bunga ke nol, Renminbi menguat kembali ke sekitar 6.50 di akhir tahun, menguat sekitar 6%.
2021: Ekspor China tetap kuat, bank sentral menjaga kebijakan stabil, indeks dolar AS rendah, dan USD/RMB berfluktuasi dalam kisaran 6.35–6.58, rata-rata tahunan sekitar 6.45.
2022: Tahun perubahan besar. Fed agresif menaikkan suku bunga, indeks dolar melonjak, USD/RMB naik dari 6.35 ke di atas 7.25, melemah sekitar 8%, dan mencatat penurunan terbesar dalam beberapa tahun. Di saat yang sama, kebijakan pandemi ketat dan krisis properti memperlambat ekonomi China.
2023: Pemulihan ekonomi tidak sesuai harapan, utang properti berkelanjutan, konsumsi lesu. Indeks dolar tetap tinggi di kisaran 100–104, dan USD/RMB berfluktuasi antara 6.83 dan 7.35, akhirnya sedikit menguat ke 7.1.
2024: Dolar melemah, stimulus fiskal China meningkatkan kepercayaan. USD/RMB naik dari 7.1 ke sekitar 7.3 di pertengahan tahun, dengan volatilitas meningkat.
2025: Resmi menembus angka 7.0, menandai dimulainya siklus apresiasi.
Dari sejarah ini, jelas bahwa: Waktu terbaik untuk membeli Renminbi biasanya adalah saat akhir siklus depresiasi, ketika kebijakan mulai berbalik dan ekonomi mulai stabil. Saat ini, kita berada di titik balik tersebut.
Signifikansi khusus tren Renminbi di luar negeri (offshore)
Investor yang membeli Renminbi juga perlu memahami perbedaan antara Renminbi onshore (CNY) dan offshore (CNH).
CNH diperdagangkan di pasar internasional (seperti Hong Kong dan Singapura), dengan kebebasan transaksi dan aliran modal yang lebih leluasa, mencerminkan sentimen pasar global. Sedangkan CNY diatur ketat oleh otoritas China melalui kurs tengah harian dan intervensi pasar valuta asing, sehingga volatilitas CNH biasanya lebih besar.
Pada tahun 2025, meskipun mengalami fluktuasi, tren CNH secara umum menunjukkan kenaikan dalam kisaran berombak. Di awal tahun, dipicu kebijakan tarif AS dan lonjakan indeks dolar ke 109.85, CNH sempat menembus angka 7.36. Bank sentral China segera melakukan langkah stabilisasi, termasuk menerbitkan surat utang offshore sebesar 60 miliar yuan untuk mengembalikan likuiditas.
Dalam beberapa bulan terakhir, seiring dengan relaksasi dialog perdagangan AS-China, pelaksanaan kebijakan stabilisasi pertumbuhan China, dan ekspektasi penurunan suku bunga Fed yang meningkat, nilai tukar CNH menguat secara signifikan. Pada 20 Januari 2026, CNH menembus angka 6.95, mencapai level tertinggi dalam hampir 14 bulan.
Kesimpulan akhir: Apakah saat ini tepat membeli Renminbi?
Berdasarkan analisis di atas, membeli Renminbi saat ini cukup menarik, tetapi perlu memperhatikan poin-poin berikut:
Faktor pendukung yang jelas: Renminbi secara resmi memasuki siklus apresiasi, didukung oleh konsensus bank investasi dan tiga faktor utama (ketahanan ekspor, arus modal asing kembali, pelemahan dolar). Kondisi ini cukup kokoh.
Waktu relatif tepat: Dari posisi sekitar 6.96, potensi penguatan ke kisaran 6.70–6.85 masih sekitar 5%–9%. Untuk investor jangka menengah yang bersedia menahan selama lebih dari 6 bulan, risiko dan imbal hasilnya cukup seimbang.
Risiko yang harus diwaspadai: Ketegangan AS-China tetap rapuh, sinyal kebijakan resmi perlu diamati, dan risiko rebound dolar selalu ada. Investor harus menyesuaikan strategi masuk sesuai toleransi risiko dan tidak terlalu agresif.
Saran stratifikasi: Trader jangka pendek dapat memanfaatkan support untuk melakukan trading gelombang, pengaturan posisi menengah bisa dilakukan secara bertahap, dan investor jangka panjang dapat secara bertahap menambah posisi.
Singkatnya, membeli Renminbi bukan untuk mengejar lonjakan jangka pendek, melainkan untuk mengikuti siklus apresiasi yang rasional dan didukung fundamental. Kuncinya adalah mengendalikan risiko, memilih waktu masuk yang tepat, dan menentukan ukuran posisi yang sesuai.