
Pasar obligasi sekunder adalah tempat di mana obligasi yang telah diterbitkan sebelumnya diperdagangkan antar investor. Berbeda dengan pasar primer, di mana obligasi dijual langsung oleh penerbit untuk mengumpulkan modal, pasar sekunder memfasilitasi likuiditas, penemuan harga, dan transfer risiko setelah penerbitan.
Secara prinsip, obligasi merupakan konversi arus kas masa depan menjadi aset keuangan yang dapat diperdagangkan saat ini. Setelah diterbitkan, aset tersebut dapat berpindah tangan berkali-kali. Harga di pasar obligasi sekunder bergerak secara dinamis mengikuti perubahan suku bunga, kualitas kredit penerbit, sisa waktu jatuh tempo, dan likuiditas pasar. Pasar ini mencakup obligasi pemerintah, obligasi korporasi dengan peringkat investasi, obligasi hasil tinggi, serta sekuritas pendapatan tetap terstruktur.
Pasar obligasi sekunder hadir untuk menyediakan likuiditas dan alokasi modal yang efisien. Investor umumnya tidak bersedia mengunci modal hingga jatuh tempo tanpa opsi keluar. Perdagangan sekunder memungkinkan pemegang obligasi menyesuaikan portofolio, mengelola risiko durasi, dan merespons perubahan kondisi ekonomi atau kredit.
Dari sudut pandang sistemik, pasar obligasi sekunder berfungsi sebagai penanda harga. Perubahan harga dan imbal hasil obligasi memberikan penilaian real time atas ekspektasi suku bunga, proyeksi inflasi, dan risiko kredit penerbit. Tanpa pasar sekunder yang aktif, obligasi hanya menjadi kontrak tidak likuid, bukan instrumen keuangan yang fungsional.
Operasional pasar obligasi sekunder mengikuti proses standar yang didorong oleh institusi.
Penerbitan Awal dan Penyelesaian: Obligasi pertama kali diterbitkan di pasar primer. Setelah penyelesaian, obligasi tersebut dapat diperdagangkan di pasar sekunder antar investor.
Pembentukan Harga: Harga ditentukan oleh interaksi penawaran dan permintaan. Faktor utama meliputi suku bunga pasar, selisih kredit penerbit, waktu jatuh tempo, dan kondisi likuiditas.
Tempat Perdagangan: Sebagian besar perdagangan obligasi berlangsung secara over the counter, bukan di bursa terpusat. Dealer dan platform perdagangan elektronik mempertemukan pembeli dan penjual.
Pembentukan Pasar dan Penyediaan Likuiditas: Dealer dan bank mengutip harga bid dan ask, serta memegang inventaris untuk memfasilitasi transaksi. Likuiditas sangat bervariasi tergantung jenis obligasi dan situasi pasar.
Kliring dan Penyelesaian: Setelah transaksi, sistem kliring menuntaskan transfer kepemilikan dan penyelesaian dana, biasanya dalam T plus 1 atau T plus 2 sesuai yurisdiksi.
Pasar obligasi sekunder melibatkan beragam institusi. Dealer dan bank investasi bertindak sebagai perantara, menyediakan harga dan likuiditas. Manajer aset, dana pensiun, perusahaan asuransi, hedge fund, dan dana kekayaan negara adalah inti dari sisi pembeli.
Bank sentral berpartisipasi secara tidak langsung melalui operasi pasar terbuka dan program pembelian obligasi, memengaruhi likuiditas dan kurva imbal hasil. Regulator mengawasi transparansi, persyaratan modal, dan perilaku pasar untuk meminimalisir risiko sistemik.
Risiko utama adalah risiko suku bunga. Ketika suku bunga pasar naik, harga obligasi yang telah ada akan turun, begitu pula sebaliknya. Risiko kredit juga penting, karena memburuknya fundamental penerbit memperlebar selisih kredit dan menurunkan harga obligasi.
Risiko likuiditas sangat krusial. Pada masa stres pasar, selisih harga bid dan ask melebar dan volume perdagangan menurun, sehingga sulit atau mahal untuk keluar dari posisi. Risiko pasar dapat diperbesar oleh penjualan paksa, penggunaan leverage, dan perilaku investor yang terkoordinasi lintas kelas aset.
Pasar obligasi primer berfokus pada penggalangan dana. Penerbit mengumpulkan modal dengan menjual obligasi baru, biasanya melalui penawaran terjamin atau lelang. Harga ditetapkan saat penerbitan dan alokasi umumnya bersifat institusional.
Pasar obligasi sekunder berfokus pada likuiditas dan penilaian. Tidak ada dana baru yang dikumpulkan untuk penerbit. Sebaliknya, kepemilikan berpindah antar investor, dan harga terus menyesuaikan dengan kondisi pasar terkini.
| Pasar Primer | Pasar Sekunder | Tujuan Utama |
|---|---|---|
| Penerbitan obligasi baru | Perdagangan obligasi yang telah ada | Penggalangan dana vs likuiditas |
| Penerbit ke investor | Investor ke investor | Transfer kepemilikan |
| Akses terbatas | Partisipasi luas | Efisiensi pasar |
Hubungannya terletak pada tokenisasi dan efisiensi penyelesaian. Inisiatif Real World Asset melakukan tokenisasi obligasi tradisional, sehingga pencatatan kepemilikan dapat dilakukan on chain dan memungkinkan perdagangan sekunder yang berkelanjutan. Pada pertengahan 2024, sekuritas pemerintah yang ditokenisasi telah melampaui nilai satu miliar dolar secara on chain, membuktikan kelayakan operasional.
Infrastruktur on chain meningkatkan transparansi dalam penetapan harga, kepemilikan, dan waktu penyelesaian. Investor dapat memanfaatkan alat data on-chain untuk memantau arus kas, status agunan, dan riwayat transaksi. Walaupun sebagian besar perdagangan obligasi sekunder masih berlangsung off chain, paralel strukturalnya sangat jelas.
Krisis keuangan 2008 menyoroti rapuhnya likuiditas. Pasar sekunder untuk sekuritas berbasis hipotek mengalami dislokasi harga yang ekstrem ketika pembeli menarik diri dan model penilaian gagal.
Pada awal guncangan pasar COVID-19 tahun 2020, bahkan pasar obligasi pemerintah mengalami tekanan likuiditas, sehingga memicu intervensi bank sentral untuk memulihkan fungsi pasar. Peristiwa ini membuktikan bahwa likuiditas pasar sekunder tidak bisa diasumsikan, bahkan untuk aset berkualitas tinggi.
Prospek pasar dipengaruhi oleh regulasi, teknologi, dan siklus makroekonomi. Platform perdagangan elektronik terus meningkatkan transparansi harga. Persyaratan modal regulasi memengaruhi neraca dealer dan penyediaan likuiditas.
Tokenisasi dan otomasi berpotensi mengurangi hambatan penyelesaian, sedangkan siklus normalisasi suku bunga akan terus mendorong volatilitas dan aktivitas perdagangan. Investor perlu menyesuaikan strategi seiring berkembangnya rezim likuiditas.
Pasar obligasi sekunder merupakan mesin likuiditas dan penilaian bagi aset pendapatan tetap. Harga mencerminkan ekspektasi suku bunga, risiko kredit, dan sentimen pasar secara real time. Partisipasi yang efektif memerlukan pemahaman mendalam tentang durasi, likuiditas, dan dinamika kredit.
Baik di lingkungan keuangan tradisional maupun tokenisasi, manajemen risiko yang disiplin dan diversifikasi tetap menjadi kunci. Selalu evaluasi kondisi keluar, bukan hanya imbal hasil, sebelum menempatkan modal.
Pasar obligasi sekunder merupakan tempat investor memperjualbelikan obligasi yang telah diterbitkan. Pasar ini menyediakan likuiditas dan penemuan harga tanpa menambah modal baru bagi penerbit.
Harga berubah akibat pergerakan suku bunga, perubahan risiko kredit penerbit, sisa waktu jatuh tempo, dan dinamika likuiditas pasar.
Ya. Sebagian besar obligasi dapat dijual di pasar sekunder dengan harga pasar yang berlaku, sehingga investor dapat menyesuaikan portofolio sebelum jatuh tempo.
Pasar primer adalah tempat obligasi diterbitkan oleh peminjam. Pasar sekunder adalah tempat obligasi tersebut diperdagangkan antar investor setelah diterbitkan.
Risiko utama meliputi risiko suku bunga, risiko kredit, dan risiko likuiditas. Pergerakan negatif pada salah satu faktor tersebut dapat menurunkan harga obligasi atau membatasi opsi keluar.


