Pasar properti Amerika Serikat tengah menghadapi perubahan kebijakan besar. Baru-baru ini, Presiden Trump mengumumkan rencana pelarangan investor institusi besar membeli rumah keluarga tunggal, dengan tujuan meredakan krisis keterjangkauan perumahan yang semakin parah serta mengembalikan “American Dream” bagi keluarga biasa. Trump menekankan, “Orang seharusnya tinggal di rumah, bukan di properti milik korporasi.”
Pengumuman tersebut langsung mengguncang pasar keuangan dan menjadi pemicu utama volatilitas saham AS pada hari itu.
Harga rumah keluarga tunggal di Amerika Serikat terus naik dalam beberapa tahun terakhir. Pada kuartal ketiga 2025, harga jual median berada di kisaran USD426.800—sedikit di bawah puncak sebelumnya, namun masih mendekati rekor tertinggi.
Salah satu faktor utama tren ini adalah banyaknya investor institusi besar yang masuk ke pasar perumahan. Entitas-entitas tersebut kerap melakukan transaksi cepat dengan pembayaran tunai, sehingga menjadi pesaing tangguh dan membuat pembeli pertama kali berada di posisi yang kurang menguntungkan.
Reformasi yang diusulkan Trump bertujuan mencegah institusi mengakumulasi rumah dalam jumlah besar dan mengurangi tekanan persaingan di pasar.
Pengumuman kebijakan tersebut memicu aksi jual cepat pada saham properti AS.
Respons pasar ini menunjukkan kekhawatiran investor bahwa institusi akan menghadapi akses terbatas ke pasar rumah keluarga tunggal, sehingga berpotensi memengaruhi model bisnis dan proyeksi keuntungan mereka.
Pembatasan pembelian rumah oleh institusi besar dapat membantu meredakan tekanan pasar, namun para ahli menegaskan bahwa hal ini bukan satu-satunya penyebab tingginya harga rumah di AS:
Oleh karena itu, efektivitas kebijakan Trump dalam memperbaiki kondisi pembelian rumah masih belum pasti.
Dalam jangka pendek, ketidakpastian kebijakan akan membuat pasar tetap bergejolak. Jika proposal ini menjadi undang-undang, sektor perumahan AS bisa mengalami perubahan struktural besar:
Beberapa analis berpendapat institusi bukanlah pendorong utama kenaikan harga rumah, sehingga pembatasan aktivitas mereka mungkin hanya memberikan dampak sementara, bukan solusi jangka panjang.
Pembeli rumah individu dapat menemukan persaingan yang lebih bersahabat, namun tetap perlu memperhatikan hal-hal berikut:
Investor sebaiknya terus memantau volatilitas yang berlangsung pada saham properti.





