Sepanjang minggu ini, kami membagikan pengamatan mengenai tren yang akan datang tahun ini... tetap pantau halaman ini, dan pastikan juga berlangganan newsletter mingguan kami untuk mendapatkan pembaruan tren, laporan industri, panduan builder, analisis berita, dan berbagai sumber daya lainnya.
Privasi merupakan fitur krusial agar sistem keuangan global dapat bertransisi ke onchain. Namun, hampir semua blockchain yang ada saat ini masih kekurangan fitur tersebut. Pada kebanyakan chain, privasi kerap hanya dipikirkan belakangan. Kini, privasi menjadi daya tarik utama yang mampu membedakan sebuah chain dari yang lain.
Privasi juga memberikan efek yang lebih signifikan: menciptakan lock-in pada chain; efek jaringan privasi. Terlebih lagi, di era di mana persaingan performa saja sudah tidak cukup.
Berkat protokol bridging, perpindahan antar chain menjadi sangat mudah selama seluruh data bersifat publik. Namun, ketika privasi diterapkan, hal tersebut tidak lagi berlaku: bridging token sangat mudah, tetapi bridging data rahasia sangat sulit. Selalu ada risiko saat keluar-masuk zona privat, di mana pihak yang memantau chain, mempool, atau lalu lintas jaringan dapat mengidentifikasi Anda. Melintasi batas antara chain privat dan chain publik — bahkan antar chain privat — akan membocorkan berbagai metadata seperti waktu transaksi dan korelasi ukuran yang memudahkan pelacakan identitas.
Jika dibandingkan dengan banyak chain baru yang tidak memiliki keunikan dan di mana biaya transaksi kemungkinan turun hingga nol karena persaingan (blockspace kini pada dasarnya seragam), blockchain dengan privasi dapat membangun efek jaringan yang jauh lebih kuat. Faktanya, jika chain “general purpose” belum memiliki ekosistem hidup, aplikasi unggulan, atau keunggulan distribusi, hampir tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menggunakannya atau membangun di atasnya — apalagi menjadi loyal terhadapnya.
Di blockchain publik, pengguna dapat dengan mudah bertransaksi dengan pengguna di chain mana pun — chain yang dipilih tidak begitu penting. Namun di blockchain privat, pilihan chain menjadi jauh lebih krusial karena setelah bergabung, pengguna cenderung enggan berpindah dan mengambil risiko terekspos. Ini menciptakan dinamika winner-take-most. Karena privasi sangat vital untuk sebagian besar kebutuhan nyata, hanya segelintir chain privasi yang berpotensi menguasai sebagian besar ekosistem crypto.
~Ali Yahya (@ alive_eth), General Partner a16z crypto

Saat dunia bersiap menghadapi komputasi kuantum, banyak aplikasi pesan terenkripsi (Apple, Signal, WhatsApp) telah menjadi pelopor dengan inovasi mereka. Namun, setiap aplikasi utama masih mengandalkan server privat yang dikelola satu organisasi. Server ini menjadi sasaran empuk penutupan, penyusupan, atau pemaksaan oleh pemerintah untuk menyerahkan data privat.
Apa gunanya enkripsi kuantum jika negara dapat menutup server Anda; jika perusahaan memiliki kunci server privat; atau jika perusahaan tetap mengendalikan server privat?
Server privat menuntut “percaya pada saya” — namun tanpa server privat berarti “Anda tidak perlu percaya pada siapa pun.” Komunikasi tidak membutuhkan satu perusahaan sebagai perantara. Pesan membutuhkan protokol terbuka tanpa keharusan mempercayai pihak mana pun.
Solusinya adalah mendesentralisasikan jaringan: Tanpa server privat. Tanpa aplikasi tunggal. Semua dengan kode open source. Enkripsi terbaik, termasuk perlindungan terhadap ancaman kuantum. Dengan jaringan terbuka, tidak ada individu, perusahaan, organisasi nirlaba, atau negara yang bisa membatasi komunikasi kita. Jika satu aplikasi ditutup, 500 versi baru akan muncul keesokan harinya. Tutup satu node, dan insentif ekonomi (berkat blockchain, dll.) akan segera memunculkan node pengganti.
Saat pengguna memiliki pesan mereka sendiri seperti mereka memiliki uang — melalui kunci — segalanya berubah. Aplikasi bisa berganti, namun pengguna tetap memegang kendali atas pesan dan identitas mereka; kini, pengguna akhir dapat memiliki pesan mereka sendiri, meski bukan aplikasinya.
Ini melampaui quantum resistance dan enkripsi; ini adalah kepemilikan dan desentralisasi. Tanpa keduanya, kita hanya membangun enkripsi tak tertembus yang tetap bisa dimatikan.
~Shane Mac (@ ShaneMac), Co-founder dan CEO, XMTP Labs

Di balik setiap model, agen, dan otomatisasi, ada satu faktor utama: data. Namun, sebagian besar pipeline data saat ini — input dan output model — masih tidak transparan, mudah diubah, dan sulit diaudit.
Hal tersebut mungkin dapat diterima untuk aplikasi konsumen tertentu, namun banyak industri dan pengguna (seperti keuangan dan kesehatan) mewajibkan perusahaan menjaga kerahasiaan data sensitif. Ini juga menjadi penghambat besar bagi institusi yang ingin men-tokenisasi aset dunia nyata saat ini.
Lalu, bagaimana menjaga privasi sembari mendorong inovasi yang aman, patuh, otonom, dan interoperable secara global?
Banyak pendekatan yang bisa diambil, namun saya akan menyoroti kontrol akses data: Siapa yang mengendalikan data sensitif? Bagaimana data tersebut berpindah? Siapa (atau apa) yang dapat mengaksesnya? Tanpa kontrol akses data, mereka yang ingin menjaga kerahasiaan data harus menggunakan layanan terpusat atau membangun sistem khusus — proses ini tidak hanya mahal dan memakan waktu, tapi juga menghalangi institusi keuangan tradisional dan pihak lain dalam memaksimalkan potensi manajemen data onchain. Dan ketika sistem agentic mulai melakukan penjelajahan, transaksi, dan pengambilan keputusan secara otonom, baik pengguna maupun institusi lintas industri membutuhkan jaminan kriptografi, bukan sekadar “kepercayaan terbaik”.
Karena itu, saya percaya kita membutuhkan secrets-as-a-service: Teknologi baru yang memungkinkan aturan akses data native dan terprogram; enkripsi sisi klien; serta manajemen kunci terdesentralisasi yang menegakkan siapa dapat mendekripsi apa, dalam kondisi apa, dan selama berapa lama... semuanya ditegakkan secara onchain.
Dengan sistem data terverifikasi, secrets dapat menjadi bagian dari infrastruktur publik internet — bukan sekadar solusi tambalan di tingkat aplikasi, di mana privasi hanya ditempelkan kemudian — sehingga privasi menjadi infrastruktur inti.
~Adeniyi Abiodun (@ EmanAbio), Chief Product Officer & Co-founder, Mysten Labs

Peretasan DeFi tahun lalu menimpa protokol-protokol yang telah teruji, memiliki tim solid, audit menyeluruh, dan pengalaman bertahun-tahun. Insiden-insiden ini menegaskan kenyataan bahwa praktik keamanan saat ini masih sangat heuristik dan berbasis kasus per kasus.
Agar berkembang tahun ini, keamanan DeFi harus beralih dari pola bug ke properti desain — dan dari pendekatan “best-effort” ke pendekatan “principled”:
Sekarang, alih-alih mengasumsikan setiap bug sudah ditemukan, kita dapat menegakkan properti keselamatan utama dalam kode itu sendiri, secara otomatis membatalkan transaksi yang melanggarnya.
Ini bukan sekadar teori. Dalam praktiknya, hampir semua eksploitasi hingga saat ini akan terdeteksi oleh pemeriksaan ini saat eksekusi, sehingga potensi peretasan dapat dihentikan. Dengan demikian, konsep “code is law” berevolusi menjadi “spec is law”: Bahkan serangan baru pun harus memenuhi properti keselamatan yang sama agar sistem tetap utuh, sehingga hanya serangan kecil atau sangat sulit yang tersisa.
~Daejun Park (@ daejunpark), Tim Engineering a16z crypto






