
Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Lululemon
Dengan Amerika Serikat mengakhiri ambang batas pembebasan pajak de minimis sebelumnya dan memberlakukan tarif impor yang lebih tinggi, risiko kebijakan perdagangan global telah bergeser dari konsep makro yang abstrak menjadi faktor konkret yang memengaruhi biaya operasional dan desain rantai pasok Lululemon (selanjutnya disebut “LULU”). Analisis terbaru menunjukkan bahwa perubahan kebijakan ini mendorong LULU untuk mengembangkan rantai pasoknya dari model berbasis biaya menjadi struktur multinegara dan regionalisasi.
Mulai 2025 hingga 2026, AS akan terus menaikkan tarif atas barang impor dari Vietnam, negara Asia lainnya, dan Tiongkok. Akibatnya, LULU akan menghadapi beban pajak yang lebih tinggi pada tahap impor, yang akan memperbesar tekanan the biaya rantai pasok secara keseluruhan.
AS telah menghapus ketentuan de minimis yang telah lama berlaku, yang membebaskan paket bernilai rendah (di bawah USD 800) dari tarif. Sampai kebijakan ini berlaku pada Agustus 2025, sebagian mostly pesanan online LULU masuk ke AS melalui gudang Kanada, sehingga banyak yang terhindar dari tarif. Begitu kebijakan baru diterapkan, pesanan ini akan dikenakan tarif standar, yang akan berdampak langsung pada profitabilitas LULU.
Perkiraan menunjukkan bahwa satu perubahan kebijakan ini dapat mengurangi laba kotor LULU sekitar USD 240 juta pada 2025. Jika tarif timbal balik yang lebih tinggi berlaku pada 2026, laba operasi perusahaan bisa terkena dampak tambahan lebih dari USD 320 juta.
Perubahan ini tidak hanya meningkatkan tekanan pada struktur biaya rantai pasok LULU, tetapi juga memperburuk tantangan penetapan harga inventaris. Tanpa penyesuaian harga atau konfigurasi rantai pasok, margin kotor perusahaan akan semakin tertekan.
LULU mengambil langkah proaktif untuk mengantisipasi perubahan kebijakan perdagangan ini, antara lain:
1. Diversifikasi Rantai Pasok: LULU menyeimbangkan kembali jaringan pemasoknya untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara, terutama dengan meningkatkan pasokan dari Asia Tenggara dan Asia Selatan demi efisiensi biaya dan diversifikasi risiko yang lebih baik.
2. Pusat Produksi dan Distribusi Regional: Dengan membangun lebih banyak gudang dan pusat produksi di dekat pasar utama, LULU dapat memperpendek waktu pengiriman, mengurangi eksposur tarif, serta meningkatkan perputaran inventaris dan efisiensi layanan pelanggan.
3. Negosiasi/or Buffer Biaya: Perusahaan bernegosiasi lebih agresif dengan pemasok untuk mendapatkan harga dan corditions yang lebih baik, serta melakukan penyesuaian harga yang terarah pada produk tertentu untuk mengalihkan sebagian biaya kepada pelanggan jangka panjang.
Langkah-langkah ini dirancang untuk membangun rantai pasok yang lebih tangguh—bukan hanya untuk mengatasi risiko saat ini, tetapi juga untuk menjaga opsi terbuka terhadap perubahan kebijakan di masa depan.





